Notification

×

Iklan

Iklan

Cium Tangan Suami Setara Cium Hajar Aswad? Ini Penjelasan Ulama dan Pandangan Islam

Jumat, 20 Februari 2026 | 23.42 WIB Last Updated 2026-02-20T16:43:01Z
Foto, ilustrasi seorang istri mencium tangan suaminya.


Queensha.id - Edukasi Islam, 


Belakangan ini, jagat media sosial kembali diramaikan dengan ungkapan yang dinisbatkan kepada sejumlah ulama, termasuk Gus Baha, bahwa mencium tangan suami pahalanya setara dengan mencium Hajar Aswad. Ungkapan tersebut menuai beragam respons yakni ada yang menerimanya sebagai motivasi kebaikan rumah tangga, ada pula yang mempertanyakan dasar dalilnya.
Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan ulama terkemuka di Indonesia? Dan bagaimana Islam memandang hal ini?


Kiasan, Bukan Hadis Sahih

Pertama-tama, penting ditegaskan bahwa tidak ada hadis sahih yang secara eksplisit menyebut pahala mencium tangan suami setara dengan mencium Hajar Aswad.


Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan tersebut adalah kiasan (majaz) atau bentuk retorika dakwah untuk menggambarkan:

1. Besarnya pahala ketaatan istri kepada suami.

2. Mudahnya seorang istri meraih ridha Allah dari dalam rumah.

3. Nilai besar akhlak dan penghormatan dalam rumah tangga.


Dalam tradisi ceramah, kiasan seperti ini sering digunakan untuk menyentuh hati jamaah, bukan untuk menetapkan hukum fikih baru.


Pandangan Ulama Terkemuka di Indonesia

1. Gus Baha

Gus Baha dikenal sering menggunakan pendekatan bahasa yang sederhana dan kiasan yang dalam. Dalam berbagai pengajiannya, beliau menekankan bahwa:
Ridha suami (selama dalam kebaikan) adalah jalan besar menuju ridha Allah.
Amal sederhana di rumah bisa bernilai besar jika diniatkan ibadah.


Islam memuliakan perempuan dengan memberi peluang pahala besar dari ranah domestik.


Namun, beliau dan ulama lain tidak menyebutnya sebagai hadis sahih.


2. KH. Maimun Zubair (Mbah Moen)

Maimun Zubair sering menekankan pentingnya adab dan akhlak dalam rumah tangga. Dalam banyak nasihatnya, beliau mengajarkan bahwa:

1. Menghormati suami adalah bagian dari menjaga keharmonisan.

2. Taat dalam hal yang ma’ruf adalah ibadah.

3. Suami pun wajib menghormati dan memuliakan istri.


Artinya, hubungan suami-istri dalam Islam adalah timbal balik, bukan sepihak.
3. KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
Abdullah Gymnastiar menekankan konsep saling memuliakan. Menurut beliau:
Rumah tangga adalah ladang pahala.
Perbuatan kecil seperti senyum, salam, dan sentuhan kasih bisa bernilai ibadah.
Ridha Allah tidak hanya dicari di masjid, tetapi juga di rumah.


Bagaimana Pandangan Islam?
Dalam Islam:


1. Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar Aswad adalah sunnah saat thawaf dalam ibadah haji atau umrah. Nilainya khusus karena bagian dari ritual ibadah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.


2. Mencium Tangan Suami

Diperbolehkan sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang.
Termasuk dalam adab dan akhlak yang baik.


Bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.
Namun, menyamakannya secara literal dalam pahala adalah bentuk kiasan motivatif, bukan perbandingan hukum yang setara.


Soal Bersalaman dan Gugurnya Dosa
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa dua muslim yang berjabat tangan dengan ikhlas dapat diampuni dosa-dosa kecilnya sebelum berpisah. Maka, dalam konteks suami-istri, sentuhan kasih dan salam pun termasuk dalam kebaikan yang bernilai pahala.


Kesimpulan: Esensinya Ada pada Niat dan Akhlak

Ungkapan “cium tangan suami setara cium Hajar Aswad” bukan dalil tekstual, melainkan bahasa dakwah untuk menggambarkan:

1. Besarnya pahala ketaatan dalam rumah tangga.

2. Mudahnya perempuan meraih surga dari rumah.

3. Pentingnya saling menghormati antara suami dan istri.

Islam tidak mengukur pahala dari besar kecilnya aksi secara lahiriah, melainkan dari niat, keikhlasan, dan kesesuaian dengan syariat.


Pada akhirnya, rumah tangga bukan sekadar tempat berbagi peran, tetapi juga ladang ibadah yang nilainya bisa melampaui perjalanan jauh dan bahkan sampai ke Tanah Suci.


***
Tim Redaksi.