| Foto, Bupati Jepara, Witiarso Utomo dan wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar. (Facebook) |
Satu tahun kepemimpinan Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar menjadi momentum refleksi. Lewat unggahan di akun Facebook resmi mereka, keduanya menyampaikan pesan terbuka kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, satu tahun perjalanan amanah ini telah kita lalui bersama. Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada ruang untuk perbaikan, namun setiap langkah yang kami ambil adalah bentuk pertanggungjawaban moral atas kepercayaan masyarakat Jepara,” tulis mereka, Jum'at (20/2/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar formalitas tahunan. Di tengah dinamika ekonomi, tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, serta ekspektasi warga yang kian kritis, pengakuan atas “masih banyak PR” menjadi sinyal bahwa kepemimpinan ini memilih jalur realistis—bukan retorika berlebihan.
Bukan Kerja Individu, Tapi Kolektif
Witiarso dan Ibnu Hajar menegaskan bahwa capaian program prioritas selama setahun terakhir bukan keberhasilan personal. Mereka menyebutnya sebagai hasil kerja kolektif seluruh elemen pemerintahan dan dukungan doa masyarakat.
Pesan ini penting. Dalam tata kelola modern, keberhasilan daerah tidak berdiri di atas satu figur. Ia lahir dari sinergi OPD, camat, kepala desa, hingga partisipasi warga. Transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Namun, pengakuan atas capaian juga harus diiringi evaluasi terbuka: program mana yang sudah tepat sasaran? Mana yang perlu percepatan? Mana yang harus dikoreksi? Di sinilah publik berharap adanya laporan kinerja yang terukur dan mudah diakses.
Infrastruktur Tetap Jadi Tulang Punggung
Dalam pernyataan tersebut, fokus pembangunan ditegaskan tetap “tegak lurus” pada infrastruktur yang merata. Artinya, perbaikan jalan, drainase, fasilitas umum, dan akses antarwilayah masih menjadi prioritas utama.
Bagi masyarakat Jepara, infrastruktur bukan sekadar proyek fisik. Jalan yang baik mempercepat distribusi hasil laut dan industri mebel, menekan biaya logistik, serta meningkatkan keselamatan pengguna jalan. Dampaknya langsung terasa pada denyut ekonomi lokal.
Komitmen ini sekaligus menjawab keluhan klasik warga yaitu jalan rusak dan akses yang belum merata. Tahun kedua kepemimpinan akan menjadi ujian—apakah percepatan bisa lebih terasa dibanding tahun pertama.
Layanan Kesehatan dan Pendidikan: Fondasi SDM
Selain infrastruktur, pasangan ini menegaskan penguatan layanan kesehatan dan pendidikan. Dua sektor ini adalah investasi jangka panjang.
Di bidang kesehatan, masyarakat berharap layanan puskesmas dan rumah sakit semakin responsif, antrean lebih tertata, serta program preventif lebih masif. Sementara di pendidikan, tantangan bukan hanya sarana, tetapi juga kualitas dan pemerataan.
Jika dua sektor ini bergerak beriringan, maka pembangunan tidak berhenti pada beton dan aspal, melainkan menyentuh kualitas hidup.
Tahun Kedua: Momentum Akselerasi
“Perjalanan masih panjang, PR akan semakin banyak,” tulis keduanya. Kalimat ini bisa dimaknai sebagai ajakan untuk bersabar, tetapi juga peringatan bahwa tantangan ke depan tidak ringan.
Tahun pertama biasanya diisi konsolidasi dan penataan. Tahun kedua adalah fase akselerasi. Publik akan melihat apakah komitmen tata kelola yang lebih akuntabel benar-benar diterjemahkan dalam sistem yang transparan, efisien, dan minim keluhan.
Bagi masyarakat Jepara, harapan sederhana namun tegas: pembangunan terasa, pelayanan membaik, dan komunikasi pemerintah terbuka.
Satu tahun telah berlalu. Apresiasi dan kritik akan selalu berjalan berdampingan. Kini, warga menunggu bukti lanjutan bahwa komitmen bukan hanya unggahan media sosial, melainkan kerja nyata yang konsisten untuk Jepara yang lebih maju.
***
Tim Redaksi.