| Foto, tempat ibadah agama Islam, Mushola dan Masjid. |
Queensha.id - Edukasi Islam,
Ramadan selalu menghadirkan pertanyaan klasik di tengah masyarakat: lebih besar mana pahala sholat Tarawih di musola atau di masjid? Perdebatan ini kerap muncul, terutama di lingkungan perumahan dan pedesaan yang memiliki musola kecil selain masjid jami’.
Secara prinsip, sholat Tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) pada malam hari di bulan Ramadan.
Keutamaannya ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:
“Barang siapa yang menegakkan (qiyam) Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Masjid atau Musola: Di Mana Lebih Utama?
Dalam fikih, masjid memiliki kedudukan khusus sebagai tempat ibadah yang diwakafkan secara permanen untuk sholat lima waktu dan ibadah lainnya. Musola atau langgar umumnya digunakan untuk sholat berjamaah namun tidak selalu berstatus wakaf masjid secara penuh.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Miftachul Akhyar, dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa keutamaan sholat berjamaah terletak pada kebersamaan dan kekhusyukan, bukan semata pada besar kecilnya bangunan.
Sementara itu, Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar (pada periode sebelumnya), juga pernah menekankan bahwa selama tempat tersebut digunakan untuk ibadah dan sholat berjamaah, maka pahalanya tetap besar.
Di kalangan Muhammadiyah, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, kerap menegaskan bahwa esensi Tarawih adalah menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah yang khusyuk dan sesuai tuntunan Rasulullah.
Secara umum, para ulama sepakat:
Jika masjid lebih ramai dan syiar Islam lebih tampak, maka itu memiliki nilai keutamaan sosial yang besar.
Jika musola lebih dekat, lebih khusyuk, dan menjaga konsistensi jamaah, maka itu juga bernilai besar di sisi Allah.
Artinya, bukan lokasi yang menjadi penentu utama pahala, melainkan keikhlasan, kekhusyukan, dan konsistensi ibadahnya.
Bagaimana dengan Jumlah Rakaat Tarawih?
Perbedaan jumlah rakaat Tarawih juga sering menjadi perdebatan.
8 Rakaat + 3 Witir (Total 11 Rakaat)
Praktik ini merujuk pada hadis riwayat Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah sholat malam lebih dari 11 rakaat (termasuk witir).
Pendapat ini banyak dipraktikkan oleh kalangan Muhammadiyah.
20 Rakaat + 3 Witir (Total 23 Rakaat)
Ini merujuk pada praktik di masa Khalifah Umar bin Khattab RA yang mengumpulkan umat untuk sholat Tarawih berjamaah sebanyak 20 rakaat.
Praktik ini banyak dijalankan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, pernah menegaskan bahwa perbedaan rakaat adalah bagian dari khazanah fiqih dan tidak boleh menjadi sumber perpecahan.
Demikian pula Haedar Nashir menyampaikan bahwa yang terpenting adalah kualitas ibadah, bukan memperdebatkan jumlahnya.
Kesimpulan untuk Masyarakat
Sholat Tarawih di masjid maupun musola sama-sama berpahala besar jika dilakukan dengan ikhlas dan berjamaah.
Jumlah rakaat 8 atau 20 sama-sama memiliki dasar dalam sejarah dan tradisi Islam.
Jangan jadikan perbedaan sebagai bahan perpecahan. Ramadan adalah bulan persatuan dan peningkatan takwa.
Pada akhirnya, pertanyaan “mana yang lebih besar pahalanya?” kembali pada niat dan kesungguhan masing-masing. Masjid boleh lebih utama dari sisi syiar, namun musola bisa lebih utama jika menghadirkan kekhusyukan dan kedekatan hati kepada Allah SWT.
Ramadan bukan soal lokasi dan angka, melainkan soal kualitas ibadah dan ketulusan hati.
***
Tim Redaksi.