.
Queensha.id — Edukasi Anak,
Banyak orang tua mengeluhkan sikap anak yang dianggap “sulit diatur”, penakut, manja, atau tidak percaya diri. Namun, para psikolog anak menegaskan satu hal penting: karakter anak bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari pola asuh dan lingkungan emosional yang mereka alami sejak dini.
Psikolog anak dan keluarga di Indonesia sepakat bahwa perilaku anak adalah respons terhadap perlakuan orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tua. Berikut penjelasan psikologis di balik lima karakter anak yang sering disalahpahami masyarakat.
1. Anak Pembangkang: Bentuk Perlawanan yang Tak Pernah Didengar
Menurut psikologi perkembangan, anak yang sering membangkang bukan karena “bandel”, melainkan tidak mendapatkan ruang penjelasan dan dialog. Orang tua yang cenderung kasar, mudah marah, dan mengandalkan bentakan membuat anak belajar bahwa satu-satunya cara bertahan adalah melawan.
“Anak yang dibesarkan dengan kekerasan verbal akan tumbuh dengan mekanisme pertahanan diri. Membangkang adalah bentuk protes,” ungkap psikolog anak Indonesia dalam berbagai kajian pengasuhan.
2. Anak Penakut: Luka dari Ancaman Berulang
Ancaman verbal seperti kalimat “Awas ya!” atau “Nanti Mama marah!” secara psikologis menciptakan rasa tidak aman kronis. Anak menjadi penakut bukan karena lemah, melainkan karena hidup dalam tekanan emosional.
Psikolog menilai ancaman berulang dapat memicu kecemasan, ketakutan berlebihan, hingga gangguan kepercayaan diri saat dewasa.
3. Anak Introvert: Diam yang Terbentuk oleh Lingkungan
Introvert bukan kesalahan, namun anak yang terlalu tertutup karena tidak pernah diberi kesempatan bicara berisiko tumbuh dengan rasa rendah diri. Psikolog menekankan perbedaan antara kepribadian introvert alami dan anak yang menjadi pendiam karena ditekan.
“Jika anak selalu dipotong pembicaraannya atau dianggap tidak penting, ia akan belajar bahwa diam lebih aman,” jelas salah satu pakar psikologi anak.
4. Anak Manja: Produk Pola Asuh Tanpa Batas
Anak manja bukan karena terlalu disayang, melainkan disayang tanpa aturan. Orang tua yang selalu menuruti keinginan anak, membela meski salah, dan meniadakan konsekuensi justru menghambat kematangan emosional anak.
Dalam pandangan psikologis, pola asuh permisif membuat anak kesulitan menghadapi realitas sosial, frustasi, dan tanggung jawab.
5. Anak Tidak Percaya Diri: Luka dari Perbandingan
Membandingkan anak dengan orang lain, membentak saat gagal, atau meremehkan pencapaiannya adalah pembunuh kepercayaan diri paling efektif. Psikolog anak menegaskan bahwa setiap anak butuh validasi, bukan kompetisi.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh perbandingan akan membawa luka psikologis hingga dewasa, termasuk rasa tidak berharga dan takut mencoba.
Refleksi Psikologis: Anak Adalah Produk Lingkungan Emosional
Psikolog anak terkemuka di Indonesia sepakat bahwa tidak ada anak yang “rusak”, yang ada adalah pola asuh yang belum tepat. Karakter anak adalah bahasa emosional yang menunjukkan apa yang selama ini ia rasakan, bukan sekadar apa yang ia lakukan.
“Jika ingin memperbaiki perilaku anak, yang pertama harus diperbaiki adalah cara orang dewasa memperlakukannya,” tegas para pakar psikologi perkembangan anak.
Artikel ini menjadi pengingat bahwa mendidik anak bukan soal mengontrol, tetapi memahami. Sebab di balik setiap sikap anak, selalu ada cerita yang sedang ia sampaikan meski tanpa kata.
***
Tim Redaksi.