Notification

×

Iklan

Iklan

Mitos atau Nasihat Moral? Ulama Indonesia Buka Suara Soal Kebiasaan “Penghalang Rezeki” Versi Sesepuh Jawa

Kamis, 05 Februari 2026 | 21.20 WIB Last Updated 2026-02-05T14:21:38Z
Foto, isi dompet kosong (ilustrasi)



Queensha.id - Edukasi Sosial,


Sejumlah sesepuh Jawa meyakini ada kebiasaan-kebiasaan sepele dalam kehidupan sehari-hari yang konon bisa membuat seseorang sulit kaya atau seret rezeki. Keyakinan ini hidup turun-temurun dalam budaya masyarakat dan sering disampaikan sebagai petuah moral agar seseorang menjaga kebersihan, kerapian, serta adab hidup.


Beberapa kebiasaan yang disebut-sebut dapat “menghambat rezeki” antara lain:

1. Tidur memakai seprei kotor atau sobek,

2. Menggunakan pakaian dalam yang robek, 

3. Membiarkan piring kotor semalaman,

4. Menyimpan foto lama di dompet,

5. Mencuci tangan di atas piring bekas makan, 

6. Bercermin menggunakan cermin retak atau pecah.


Namun, bagaimana pandangan ulama terkemuka di Indonesia terhadap kepercayaan tersebut?


Antara Mitos dan Nilai Adab

Sejumlah ulama menilai, keyakinan bahwa kebiasaan tertentu secara langsung menghalangi kekayaan perlu dilihat secara proporsional. Dalam ajaran Islam, rezeki diyakini datang dari Allah dan tidak ditentukan oleh benda-benda atau kebiasaan yang bersifat takhayul.


Meski begitu, para ulama juga menegaskan bahwa banyak petuah tradisional sebenarnya mengandung nilai moral dan kebersihan yang sejalan dengan ajaran agama.


Islam mengajarkan kebersihan sebagai bagian dari iman. Rumah yang bersih, pakaian yang layak, dan adab makan yang baik tentu membawa kenyamanan, kesehatan, dan ketertiban hidup. Dari situ, produktivitas dan peluang rezeki bisa terbuka,” ujar salah satu pengasuh pesantren di Jawa Tengah.


Menurutnya, kebiasaan seperti membiarkan piring kotor semalaman atau memakai barang rusak bukan secara mistis menutup rezeki, tetapi bisa berdampak pada kesehatan, psikologi, dan kerapian hidup seseorang. Hal-hal tersebut secara tidak langsung memengaruhi kualitas kerja dan kehidupan.


Islam Tidak Mengaitkan Rezeki dengan Benda

Ulama lainnya menekankan bahwa dalam Islam tidak ada dalil yang menyatakan seprei kotor atau cermin retak bisa membuat seseorang miskin. Mengaitkan rezeki dengan benda tertentu secara mutlak justru berpotensi mengarah pada kepercayaan yang tidak berdasar.


Rezeki dalam Islam berkaitan dengan usaha, doa, kejujuran, dan keberkahan. Bukan karena hal-hal seperti foto di dompet atau cermin retak,” jelas seorang dai nasional.


Namun ia menambahkan, menjaga kebersihan, kerapian, dan adab tetap penting karena merupakan bagian dari etika hidup yang baik. Orang yang rapi dan bersih cenderung lebih disiplin dan dihargai dalam lingkungan sosial maupun pekerjaan.


Petuah Budaya sebagai Pengingat

Banyak pengamat budaya melihat petuah sesepuh Jawa lebih sebagai simbol dan pengingat agar manusia hidup tertib. Larangan-larangan tersebut sering kali bertujuan menanamkan disiplin, hemat, dan kesadaran menjaga barang.


Misalnya, tidak memakai barang robek mengajarkan penghargaan terhadap diri sendiri. Tidak membiarkan piring kotor menanamkan tanggung jawab. Sementara tidak menggunakan cermin pecah berkaitan dengan keselamatan dan estetika.


Dengan demikian, kepercayaan tersebut bisa dipahami sebagai nasihat etika, bukan hukum pasti tentang kaya atau miskin.


Jadi, ulama Indonesia umumnya sepakat bahwa tidak ada dalil agama yang menyatakan kebiasaan-kebiasaan tersebut secara langsung menghalangi rezeki. Namun, nilai kebersihan, kerapian, dan adab yang terkandung di dalamnya sejalan dengan ajaran Islam dan bisa berdampak positif pada kehidupan.


Pada akhirnya, rezeki dipandang sebagai kombinasi antara usaha, doa, kejujuran, dan keberkahan. Sementara petuah tradisional dapat dijadikan pengingat untuk hidup lebih tertib dan bermartabat—bukan sebagai keyakinan mutlak yang menakutkan.


***
Tim Redaksi.