Notification

×

Iklan

Iklan

Tiga Godaan Paling Berbahaya, Saat Harta, Tahta dan Wanita Menjadi Jalan Kehancuran

Kamis, 05 Februari 2026 | 08.02 WIB Last Updated 2026-02-05T01:03:47Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook. Edukasi Sosial.


Queensha.id – Edukasi Sosial,


Dalam banyak kasus sosial dan hukum, kehancuran seseorang sering kali tidak datang dari musuh di luar, melainkan dari godaan yang tumbuh di dalam diri. Harta, tahta, dan wanita kerap disebut sebagai tiga faktor yang mampu menggerus akal sehat, merusak integritas, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang ketika tidak dikendalikan dengan nilai moral dan tanggung jawab.


Berikut definisi serta dampak negatif yang kerap muncul ketika tiga hal tersebut dikejar tanpa kendali.



Secara umum, harta adalah alat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun dalam sisi negatif, harta dapat berubah menjadi sumber keserakahan dan konflik. Obsesi berlebihan terhadap kekayaan sering mendorong seseorang menghalalkan segala cara: korupsi, penipuan, manipulasi, hingga pengkhianatan terhadap keluarga maupun sahabat.


Dampak negatifnya antara lain hilangnya kejujuran dan integritas, retaknya hubungan keluarga akibat perebutan warisan, hingga gaya hidup konsumtif yang menjerat utang dan tekanan sosial. Harta yang semestinya menjadi sarana kesejahteraan dapat menjelma menjadi sumber kehancuran ketika dijadikan tujuan utama hidup.



Tahta atau jabatan pada hakikatnya adalah amanah. Namun dalam praktik negatif, kekuasaan sering berubah menjadi alat dominasi dan penyalahgunaan wewenang. Ambisi mempertahankan posisi dapat membuat seseorang rela menyingkirkan orang lain, memanipulasi aturan, hingga mengabaikan kepentingan publik.


Dampak yang muncul meliputi korupsi, nepotisme, arogansi, serta hilangnya empati terhadap masyarakat. Banyak figur publik runtuh bukan karena tidak cakap, melainkan karena gagal menjaga integritas saat memegang kekuasaan.



Dalam konteks negatif, wanita kerap menjadi simbol godaan ketika relasi dibangun atas dasar nafsu, bukan tanggung jawab. Perselingkuhan, relasi tidak sehat, hingga eksploitasi emosional dapat merusak rumah tangga, reputasi, dan karier.


Dampak yang sering terlihat adalah keretakan keluarga, konflik sosial, kehilangan kepercayaan, hingga tekanan mental bagi semua pihak. Yang merusak bukan sosok wanitanya, melainkan cara pandang dan perilaku yang tidak sehat dalam menjalin hubungan.


Pandangan Pengamat Sosial

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa tiga faktor tersebut kerap menjadi akar dari banyak konflik sosial yang berujung pada keruntuhan pribadi maupun publik.


“Harta, jabatan, dan relasi yang disalahgunakan sering menjadi ujian paling berat bagi manusia. Banyak orang jatuh bukan karena tidak punya, tetapi karena tidak mampu mengendalikan keinginan. Ketika integritas hilang, harta bisa menjerat, jabatan bisa menyesatkan, dan relasi bisa menghancurkan,” ujar Purnomo, Kamis (5/2/2026).


Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu memperkuat nilai moral dan kesadaran diri agar tidak terjebak dalam euforia kekuasaan, materi, maupun godaan relasi yang merusak.


“Yang berbahaya bukan sekadar memiliki, tetapi ketika memiliki tanpa kendali. Di situlah kehancuran sering dimulai secara perlahan dan tidak disadari,” tegasnya.


Jadi, harta, tahta, dan wanita pada dasarnya bukanlah hal yang buruk. Namun ketika dikejar dengan keserakahan, ambisi tanpa batas, dan nafsu tanpa kendali, ketiganya dapat menjadi pintu menuju kehancuran moral, sosial, dan hukum.


Kesadaran, etika, dan tanggung jawab menjadi kunci agar ketiganya tidak berubah menjadi bumerang. Sebab dalam banyak kisah nyata, yang menjatuhkan seseorang bukan karena tidak memiliki apa-apa, melainkan karena tidak mampu mengendalikan apa yang dimilikinya.


***
Tim Redaksi.