Notification

×

Iklan

Iklan

DEMAK TERANCAM TENGGELAM: Rob, Krisis Iklim, dan Tameng Mangrove yang Meranggas

Jumat, 06 Juni 2025 | 11.25 WIB Last Updated 2025-06-06T04:33:36Z
Foto, kawasan permukiman di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Rob kini bukan lagi sekadar ancaman tahunan, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian warga.


Queensha.id - Demak,

Dari ketinggian, perumahan Tahap III Sriwulan tampak terisolasi seperti pulau kecil di tengah lautan. Bukan karena bencana sesaat, tapi karena rutinitas harian: air pasang tinggi kembali merendam satu-satunya akses jalan keluar-masuk ke kawasan permukiman di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Rob kini bukan lagi sekadar ancaman tahunan, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian warga.


Sementara itu, tak jauh dari sana, lalu lintas kendaraan di jalan raya Pantura Demak KM Surabaya–Semarang tampak tersendat. Air menggenang, dan pengendara terpaksa memperlambat laju, mencoba menembus kubangan rob yang makin dalam. Kecamatan Sayung seperti berada di ambang kehancuran ekologi yang nyaris tak bisa dibendung.


Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), kondisi ini adalah bagian dari gambaran besar yang mengkhawatirkan: Kabupaten Demak diprediksi bisa tenggelam oleh air laut pada tahun 2030. Penyebabnya kompleks, mulai dari abrasi, penurunan permukaan tanah, hingga limpahan rob yang kian menggila dan semuanya didorong oleh krisis iklim global.


Namun, bencana ekologis ini bukan terjadi tanpa peringatan. Indonesia, yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia — sekitar 3,44 juta hektare atau 23 persen dari total 14,7 juta hektare mangrove global dan setiap tahunnya kehilangan sekitar 19.501 hektare hutan mangrove. Penyebabnya mencakup alih fungsi lahan, penebangan liar, pencemaran limbah, serta naiknya permukaan laut dan peningkatan suhu bumi akibat perubahan iklim.


Di Dukuh Bedono, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, pohon-pohon mangrove yang tersisa kini menjadi tameng terakhir permukiman dari gempuran laut. Namun dari udara, vegetasi pelindung itu terlihat memprihatinkan. Banyak yang telah mati meranggas, tak lagi hijau, kalah oleh polusi dan naiknya air laut. Bekas-bekas rumah warga pun terlihat seperti tugu sunyi: setengah tenggelam, ditelan laut yang dulu hanya sebatas horison.


“Kami sudah lelah, tiap hari harus siap-siap kalau air naik. Anak-anak kami sekolah pun harus dijemput dengan perahu kadang-kadang,” tutur seorang warga Sriwulan dengan mata sembab.

“Rumah kami belum tenggelam, tapi rasanya hidup kami sudah mulai karam,” imbuhnya.


Kondisi ini juga diperparah oleh perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu yang mengacaukan ritme alam. Daerah yang dulu bisa mengandalkan hujan musiman untuk pertanian, kini kebingungan menghadapi musim yang tak menentu dan banjir yang datang tiba-tiba.


Masyarakat Demak, terutama di Kecamatan Sayung, hidup dalam ketidakpastian. Mereka menjadi saksi hidup dari krisis iklim yang bukan hanya soal teori ilmiah, melainkan realitas pahit yang menyentuh dinding rumah dan lantai kehidupan mereka.

Kini, pertanyaan besarnya: akankah pemerintah, masyarakat, dan dunia internasional bertindak cukup cepat untuk menyelamatkan Demak sebelum benar-benar hilang dari peta? Ataukah Sriwulan, Bedono, dan kawasan lainnya hanya akan menjadi nama dalam arsip bencana yang bisa dicegah tapi dibiarkan terjadi?

***

Foto, dikutip dari CNN Indonesia, di Sayung, Demak — Rabu, 4 Juni 2025.

Sumber: CNN Indonesia 

×
Berita Terbaru Update