Queensha.id - Edukasi Sosial,
Pembentukan karakter anak tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan ucapan orang tua di rumah. Anak adalah peniru ulung. Apa yang ia dengar dan lihat dari orang tuanya kerap dianggap sebagai kebenaran mutlak, lalu tertanam hingga dewasa.
Jika orang tua berharap anak tumbuh menjadi pribadi yang sukses di masa depan, maka setiap kata dan tindakan dalam interaksi sehari-hari perlu diperhatikan dengan serius. Sebab, ucapan orang tua bisa menjadi fondasi mental anak atau justru menjadi penghambat terbesar kesuksesannya.
Ucapan Toksik yang Sering Dianggap Sepele
Pakar parenting asal Amerika Serikat, Amy Morin, dalam bukunya 13 Things Mentally Strong Parents Don't Do, mengungkap bahwa salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan orang tua adalah melontarkan kalimat yang menyiratkan mental miskin tanpa disadari.
Mental miskin bukan semata soal kondisi ekonomi, melainkan cara berpikir yang membatasi diri, merasa tidak mampu, dan pasrah pada keadaan. Pola pikir inilah yang menurut Morin dapat menghambat seseorang untuk berkembang dan meraih kesuksesan.
Salah satu contoh kalimat yang kerap diucapkan orang tua adalah:
“Ayah-Bunda tidak akan pernah mampu membelinya.”
Kalimat ini sering keluar ketika anak menginginkan sesuatu yang mahal. Meski niatnya jujur dan realistis, ucapan tersebut secara tidak langsung menanamkan keyakinan pada anak bahwa keterbatasan adalah sesuatu yang permanen dan tidak bisa diubah.
Ubah Kalimat, Ubah Pola Pikir Anak
Amy Morin menyarankan agar orang tua mengganti narasi ketidakmampuan dengan narasi proses dan harapan.
Alih-alih berkata,
“Ayah dan Bunda enggak bakal bisa beli rumah besar untuk kita,”
Orang tua bisa mengatakan,
“Ayah dan Bunda ingin punya rumah besar suatu hari nanti, tapi sekarang uangnya belum cukup. Ayah dan Bunda sedang berusaha meningkatkan kemampuan kerja supaya bisa menabung lebih banyak.”
Perbedaan kalimat ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Anak belajar bahwa:
1. Keinginan bisa dicapai lewat usaha.
2. Keterbatasan bersifat sementara.
3. Menabung dan menyusun prioritas adalah bagian dari proses sukses.
4. Tanpa disadari, orang tua sedang menanamkan mental bertumbuh (growth mindset) pada anak.
Bahaya Mental Miskin Sejak Dini
Sebaliknya, jika anak terus-menerus mendengar kalimat bernada pasrah dan ketidakmampuan, ia berisiko tumbuh dengan mentalitas korban. Anak akan lebih mudah percaya bahwa kesuksesan bukan untuknya, bahwa kegagalan adalah takdir, dan bahwa usaha tidak akan mengubah keadaan.
Dalam jangka panjang, pola pikir ini bisa membuat anak:
1. Takut bermimpi besar.
2. Mudah menyerah.
3. Enggan mencoba hal baru.
4. Merasa kalah sebelum berjuang.
Peran Orang Tua Lebih dari Sekadar Nafkah
Pada akhirnya, tugas orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga mewariskan cara berpikir yang sehat dan kuat secara mental. Setiap ucapan di rumah adalah “kurikulum” awal bagi anak dalam memandang hidup.
Dengan memilih kata yang tepat, orang tua tidak hanya mendidik anak agar paham realitas, tetapi juga membekali mereka dengan keyakinan bahwa masa depan bisa diubah lewat usaha.
Karena sering kali, anak tidak gagal karena kurang kemampuan, tetapi karena sejak kecil diajari merasa tidak mampu.
***