Notification

×

Iklan

Iklan

Warung ke Tongkrongan: Singkatan Nakal Merek Rokok, Humor Lisan yang Hidup di Tengah Masyarakat

Kamis, 01 Januari 2026 | 20.41 WIB Last Updated 2026-01-01T13:42:56Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook. Merek rokok terkenal pada tahun 1990an.


Queensha.id - Humor,


Merek rokok di Indonesia bukan hanya dikenal lewat iklan atau etalase warung, tetapi juga melalui plesetan khas rakyat yang lahir dari obrolan santai. Dari desa hingga kota, dari kopi hitam hingga ronda malam, nama-nama rokok kerap “dipanjangkan” menjadi kalimat jenaka, satir, bahkan absurd. 


Fenomena ini tumbuh alami tanpa sponsor, tanpa kampanye sebagai bagian dari budaya lisan masyarakat.


Berikut deretan merek rokok yang diplesetkan dan makna humor di baliknya, yang terus hidup dari mulut ke mulut.


Rokok Lokal dan Singkatan Rakyat

1. Gudang Garam: Gula Dangdut Gak Rasa Madu — sindiran manis yang justru terasa pahit.

2. Djarum Super: Jarang di Rumah Suka Pergi — gambaran gaya hidup yang lebih sering nongkrong.

3. Sampoerna: Saya Akui Memang Penjual Obat, Emang Rindu Nama Adinda — plesetan panjang, romantis sekaligus kocak.

4. Sukun: Suka Utang Kalau Uang Nipis — satire jujur kondisi dompet rakyat.

5. Ardath: Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil — plesetan ekstrem, vulgar dalam tawa, lahir dari candaan dewasa di lingkaran terbatas.

6. Dji Sam Soe: Janji Sampai Soere — permainan ejaan jadul yang lekat dengan citra klasiknya.

7. Clas Mild: Cinta Lama Akan Semakin Lembut — tafsir “mild” yang dipeluk nostalgia.

8. U Mild: Undangan Musyawarah Ini Lebih Detail — plesetan formal ala birokrasi yang disenggol halus.

9. Esse: Emang Selalu Siap Edar — cepat, ringkas, dan mudah diingat.

10. Signature: Sigap Nasional Tetap Untuk Republik Endonesia — humor nasionalisme dengan ejaan sengaja dipelintir.


Rokok Internasional, Tafsir Lokal

1. Marlboro: kerap dilekatkan pada citra koboi penggembala kuda, mengingatkan publik pada iklan televisi lawas yang maskulin dan bebas.

2. Lucky Strike: sering dimaknai sebagai keberuntungan sekali tembak—singkat, tajam, dan penuh imajinasi.

3. Camel: Calon Mertua Emang Lucu — candaan keluarga yang terasa dekat dengan realitas sosial.

4. Dunhill: kerap diasosiasikan dengan citra “kelas atas”; plesetannya beragam, biasanya bernada elit dan sarkastik, mengikuti gengsi mereknya.


Humor yang Lebih Kuat dari Iklan

Plesetan ini bukan sekadar lucu-lucuan. Ia adalah cara masyarakat mengklaim bahasa, menundukkan merek besar ke dalam logika obrolan sehari-hari. Di tengah peringatan kesehatan dan regulasi ketat, humor justru menjadi ruang aman untuk berekspresi dan menertawakan diri sendiri, kondisi ekonomi, rindu, hingga relasi sosial.


Rokok, dalam konteks ini, berubah fungsi: dari produk industri menjadi medium cerita, dari label pabrikan menjadi kalimat rakyat. Dan selama warung kopi masih ramai, singkatan-singkatan nakal itu akan terus hidup hingga berganti versi, berpindah lidah, tapi tak pernah benar-benar padam.


***
Tim Redaksi.