Queensha.id — Edukasi Sosial dan Pendidikan,
Di tengah derasnya arus pergaulan dan pengaruh media sosial, sejumlah orang tua mulai kembali menegaskan batasan bagi anak perempuan usia sekolah. Tujuannya bukan semata membatasi kebebasan, melainkan memberi perlindungan serta membangun kesadaran tentang risiko sosial yang kian kompleks.
Sejumlah aturan yang kerap disampaikan di lingkungan keluarga antara lain larangan menginap di rumah teman tanpa pengawasan jelas, tidak menerima hadiah dari pihak luar, hingga larangan berbagi foto atau pesan bernuansa intim kepada lawan jenis.
Selain itu, anak juga diingatkan untuk tidak mudah menerima ajakan orang tak dikenal serta fokus pada pendidikan tanpa terjebak hubungan pacaran yang berisiko mengganggu masa belajar.
Langkah-langkah ini disebut sebagai upaya preventif agar anak perempuan memiliki batas aman dalam bergaul, baik di dunia nyata maupun digital.
Perubahan Zaman dan Tantangan Baru
Fenomena pergaulan remaja saat ini tidak lepas dari pengaruh teknologi. Media sosial membuka ruang interaksi luas, namun juga membawa risiko baru seperti penipuan, eksploitasi emosional, hingga kekerasan berbasis relasi.
Beberapa kasus yang terjadi di berbagai daerah menunjukkan bahwa anak usia sekolah kerap menjadi sasaran manipulasi, baik melalui iming-iming hadiah, perhatian, maupun ajakan pertemuan. Karena itu, banyak orang tua menilai perlu adanya aturan yang jelas dan tegas sejak dini.
Namun, para pakar pendidikan menekankan bahwa aturan tidak boleh hanya berupa larangan. Komunikasi terbuka dan edukasi yang logis dinilai jauh lebih efektif dibanding sekadar pembatasan tanpa penjelasan.
Pentingnya Edukasi, Bukan Sekadar Larangan
Psikolog keluarga menilai bahwa anak perempuan perlu dibekali pemahaman tentang harga diri, batasan tubuh, serta keamanan diri. Larangan mengirim foto atau pesan bernuansa intim misalnya, bukan hanya soal moral, tetapi juga perlindungan dari potensi penyalahgunaan konten digital.
Begitu pula larangan menerima hadiah dari orang luar. Anak perlu memahami bahwa tidak semua pemberian bersifat tulus. Ada kemungkinan motif tertentu di baliknya, terutama jika datang dari orang yang belum dikenal dekat oleh keluarga.
Larangan menginap di rumah teman juga seringkali berkaitan dengan faktor keamanan dan pengawasan. Orang tua diharapkan mengetahui lingkungan tempat anak berada, sehingga potensi risiko bisa diminimalkan.
Sementara soal pacaran di usia sekolah, sebagian keluarga memilih menunda hingga anak lebih matang secara emosional dan mental. Fokus pada pendidikan dan pengembangan diri dianggap lebih penting pada tahap tersebut.
Pandangan Pengamat Sosial Jepara
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa aturan bagi anak perempuan usia sekolah perlu ditempatkan dalam konteks perlindungan, bukan pengekangan.
Menurutnya, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk membentengi anak dari risiko sosial yang semakin kompleks. Namun ia menegaskan bahwa pendekatan yang tepat adalah dialog dan keteladanan, bukan sekadar larangan sepihak.
“Anak perempuan perlu dibekali kesadaran tentang nilai diri dan keamanan. Larangan bisa menjadi rambu, tapi yang lebih penting adalah penjelasan logis agar anak memahami alasan di balik aturan tersebut,” ujarnya, Jum'at (6/2/2026).
Purnomo juga mengingatkan bahwa aturan sebaiknya berlaku adil bagi semua anak, baik perempuan maupun laki-laki. Pendidikan karakter dan tanggung jawab harus diberikan secara seimbang agar tidak menimbulkan kesan diskriminatif.
Ia menilai bahwa keluarga adalah benteng pertama dalam pembentukan karakter. Jika komunikasi di rumah terbuka dan penuh kepercayaan, anak akan lebih mudah menerima nasihat serta melaporkan jika menghadapi situasi yang berisiko.
Menjaga Anak di Tengah Arus Zaman
Para ahli sepakat bahwa perlindungan anak di era modern membutuhkan kombinasi antara aturan, edukasi, dan pengawasan. Orang tua perlu mengikuti perkembangan zaman, termasuk memahami dunia digital yang diakses anak setiap hari.
Batasan yang diberikan kepada anak perempuan usia sekolah pada dasarnya bertujuan menjaga keselamatan, martabat, dan masa depan mereka.
Namun keberhasilan aturan tersebut sangat bergantung pada cara penyampaiannya.
Dengan pendekatan yang hangat dan komunikatif, anak diharapkan tidak merasa dikekang, melainkan dilindungi. Kesadaran bahwa setiap batasan memiliki alasan akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang bijak dan mampu menjaga diri di tengah pergaulan yang semakin bebas.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, keluarga tetap menjadi tempat pertama dan utama dalam menanamkan nilai moral, kehormatan diri, serta tanggung jawab.
***
Tim Redaksi.