Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Soal Membenci, Ini 10 Tipe Orang yang Diam-Diam Merusak Hidupmu

Rabu, 04 Februari 2026 | 14.09 WIB Last Updated 2026-02-04T07:10:31Z
Foto, tangkap layar dari unggahan Facebook akun Mega Mendung.

Queensha.id – Edukasi Sosial,


Tidak semua orang yang tersenyum membawa kebaikan. Dalam kehidupan sosial yang kian kompleks, relasi yang salah justru bisa menjadi sumber kelelahan mental, konflik batin, hingga hilangnya arah hidup. Psikolog dan pemerhati kesehatan mental menegaskan, menjaga jarak dari tipe-tipe tertentu bukan sikap arogan, melainkan bentuk perlindungan diri.


Berikut sepuluh tipe orang yang perlu diwaspadai—bukan untuk dihakimi, tetapi untuk dikenali batasnya.


1. Tukang Gosip

Mereka sibuk membicarakan hidup orang lain karena tak pernah benar-benar puas dengan hidupnya sendiri. Hari ini orang lain jadi topik, besok bisa jadi giliran Anda.



Tampil ramah dan peduli, namun setiap kedekatan selalu punya tujuan tersembunyi. Mereka hadir bukan karena empati, melainkan keuntungan.



Selalu melihat sisi gelap dari segala hal. Berada terlalu lama di dekat mereka perlahan mengikis optimisme dan cara berpikir sehat.


4. Drama Seeker

Masalah kecil dibesarkan demi perhatian. Hidup di sekitar mereka tak pernah benar-benar tenang karena konflik adalah “makanan harian”.


5. Tidak Konsisten

Janji mudah diucap, komitmen sulit ditepati. Orang seperti ini membuat kepercayaan runtuh perlahan, tapi pasti.


6. Meremehkan Orang Lain

Merasa paling hebat dengan cara merendahkan. Di balik sikap itu sering tersembunyi rasa tidak aman yang tak pernah selesai.



Selalu merasa paling tersakiti dan tak pernah salah. Tanggung jawab dialihkan, dan Anda bisa dibuat merasa bersalah tanpa tahu sebabnya.


8. Iri dan Dengki

Tak nyaman melihat orang lain bahagia atau berhasil. Dukungan hanya di permukaan, doa buruk sering disimpan diam-diam.


9. Suka Mengontrol

Ingin semua berjalan sesuai kemauannya. Pendapat Anda diabaikan, batas pribadi dilanggar atas nama “peduli”.


10. Tanpa Integritas

Ucapannya manis, tindakannya berlawanan. Sulit dipercaya karena antara kata dan perbuatan tak pernah sejalan.



Menurut pandangan pengamat sosial Jepara, Purnomo Wardoyo, kemampuan seseorang memilih lingkungan pergaulan adalah indikator kedewasaan sosial.


“Banyak orang kelelahan secara mental bukan karena hidupnya berat, tetapi karena terlalu lama bertahan di lingkungan yang salah. Menjaga jarak dari perilaku toksik bukan sikap sombong, melainkan bentuk kewarasan,” ujar Purnomo, Rabu (4/2/2026).


Ia menambahkan, budaya sungkan dan takut dianggap tidak enak sering membuat seseorang membiarkan dirinya dirugikan secara emosional.


“Kita diajari untuk selalu rukun, tapi lupa bahwa rukun tidak berarti membiarkan diri kita dirusak. Lingkungan sehat itu yang saling menguatkan, bukan saling memanipulasi,” tegasnya.


Menjauhi Bukan Membenci

Menjaga jarak dari tipe-tipe tersebut bukan berarti membenci atau merasa lebih baik dari orang lain. Itu adalah langkah sadar untuk menjaga stabilitas mental dan emosional.


Dalam realitas sosial hari ini, keberanian berkata cukup sering kali lebih penting daripada keinginan untuk selalu diterima. Karena pada akhirnya, kita tumbuh atau runtuh ditentukan oleh siapa yang kita izinkan paling dekat dengan hidup kita.


***
Tim  Redaksi.