Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Soal Nafsu, Ulama Bicara Sentuhan Emosional Istri yang Menjaga Kesetiaan Suami

Rabu, 04 Februari 2026 | 08.41 WIB Last Updated 2026-02-04T01:42:50Z
Foto, kemesraan suami istri dalam pelukan.



Queensha.id - Edukasi Sosial,


Dalam kehidupan rumah tangga, kesetiaan sering kali disempitkan pada persoalan moral dan iman semata. Padahal, para ulama menegaskan bahwa hubungan suami-istri juga dibangun di atas sentuhan emosional yang menenangkan jiwa.


Belakangan, beredar narasi tentang lima titik di tubuh laki-laki yang disentuh istri agar tetap setia. Narasi ini bukan berbicara soal rangsangan fisik, melainkan sentuhan kasih yang menumbuhkan ketenangan batin.


Kelima sentuhan itu antara lain mengusap kepala dengan lembut, membelai pipi, menempelkan dahi di kening, menggenggam tangan, serta mencium punggung tangan suami. Semua dilakukan dalam suasana kasih, bukan dominasi.


Pandangan Ulama: Sentuhan Adalah Bahasa Cinta

Ulama kharismatik Indonesia, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam banyak pengajiannya menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar akad halal, tetapi ikatan jiwa. Menurutnya, kelembutan adalah fondasi utama rumah tangga.


“Laki-laki sering dituntut kuat, padahal hatinya juga bisa lelah. Istri yang lembut bukan melemahkan suami, justru menguatkannya,” ujar Gus Mus dalam salah satu tausiyahnya.


Pandangan senada disampaikan Prof. Dr. Quraish Shihab. Ia menjelaskan bahwa Islam sangat menjunjung mu‘asyarah bil ma‘ruf—hubungan yang baik dan penuh empati antara suami dan istri.


“Sentuhan yang menenangkan adalah bagian dari akhlak. Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat lembut kepada keluarganya,” jelas Quraish Shihab.


Bukan Jaminan Mutlak, Tapi Penguat Ikatan

Para ulama menegaskan, sentuhan emosional bukan jaminan mutlak kesetiaan. Namun, ia adalah ikhtiar batin yang dianjurkan. Kesetiaan tetap berpijak pada iman, komitmen, dan akhlak.


KH Cholil Nafis menambahkan, rumah tangga yang dingin secara emosional rawan konflik, meski secara agama tampak baik.


“Ibadah harus berjalan, tetapi kasih sayang jangan mati. Banyak rumah tangga runtuh bukan karena kurang iman, tapi karena miskin perhatian,” ujarnya.


Merawat Jiwa, Bukan Mengikat Raga

Lima sentuhan tersebut sejatinya bukan teknik, melainkan simbol perhatian. Islam memandang sentuhan penuh kasih sebagai bagian dari ibadah jika diniatkan menjaga keharmonisan. 


Seperti pesan yang menyentuh banyak hati:

“Laki-laki juga butuh dipeluk perasaannya, bukan hanya dituntut kuatnya.”


Dalam pandangan ulama Indonesia, kalimat itu bukan kelemahan tapi melainkan pengingat bahwa cinta dalam Islam adalah ketenangan, bukan tekanan.


***
Tim Redaksi.