Queensha.id – Sejarah,
Sejarah Majapahit tidak hanya hidup dalam naskah-naskah Nusantara seperti Negarakertagama atau prasasti kuno. Sejumlah penjelajah Eropa pada abad pertengahan hingga awal modern turut mencatat kemegahan Jawa dan kekuatan Majapahit dalam laporan perjalanan mereka. Catatan-catatan ini menjadi bukti bahwa nama Jawa pernah menggema hingga biara-biara Italia, pelabuhan Malaka, dan istana raja-raja Eropa.
Dari abad ke-14 hingga ke-16, para pengelana Barat menulis dengan nada takjub tentang negeri di Timur yang makmur, berteknologi maritim maju, dan memiliki sistem pemerintahan kuat. Bagi mereka, Jawa bukan sekadar pulau jauh di timur, melainkan pusat peradaban besar.
Kesaksian Odorico: Jawa yang Kaya dan Berlapis Emas
Salah satu catatan awal datang dari Odorico da Pordenone, pendeta Fransiskan asal Italia yang berkelana ke Asia pada awal abad ke-14. Dalam perjalanannya sekitar 1318–1330, ia mengunjungi Sumatra, Jawa, hingga wilayah Kalimantan.
Odorico menggambarkan Jawa sebagai pulau padat penduduk dengan kerajaan yang makmur. Ia menulis tentang raja Jawa yang memiliki sejumlah penguasa bawahan dan istana yang megah, bahkan disebut berlapis emas dan perak. Catatan ini muncul pada masa awal berdirinya Majapahit, ketika kerajaan tersebut mulai menata struktur kekuasaan dan wilayah pengaruhnya.
Sejumlah sejarawan menilai, deskripsi “tujuh raja bawahan” yang ia tulis kemungkinan merujuk pada struktur pemerintahan regional di bawah Majapahit, yang dalam sumber lokal dikenal melalui jaringan adipati dan wilayah bawahan.
Tome Pires: Bayang Kejayaan yang Masih Terasa
Lebih dari satu abad kemudian, Tome Pires yaitu utusan Portugis di Malaka yang menulis tentang Jawa dalam laporan Suma Oriental (1512–1515). Ia menggambarkan para bangsawan Jawa berpenampilan gagah, mengenakan busana indah, serta memiliki senjata dan perhiasan berhiaskan emas.
Pires juga mencatat kekuatan ekonomi dan militer Jawa yang masih terasa, meski Majapahit saat itu berada dalam fase transisi politik. Ia menyoroti kapal-kapal besar, perdagangan maritim, serta kehidupan elite yang menunjukkan sisa kejayaan kerajaan besar di Jawa Timur.
Varthema dan Semangat Bahari Jawa
Petualang Italia lainnya, Ludovico di Varthema, turut menulis tentang keberanian pelaut Jawa. Dalam kisah perjalanannya pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, ia menyebut pelaut Jawa mampu berlayar jauh melintasi samudra.
Walau sebagian catatan Varthema masih diperdebatkan, kisah tersebut memperkuat gambaran bahwa masyarakat maritim Nusantara memiliki kemampuan navigasi dan pelayaran yang diperhitungkan dunia.
Peta Jawa yang Mengejutkan Portugis
Salah satu bukti menarik muncul saat Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Alfonso de Albuquerque dilaporkan menemukan peta besar buatan pelaut Jawa. Peta itu menggambarkan rute pelayaran global, wilayah Asia, hingga jalur perdagangan laut dengan detail yang mengesankan.
Dalam suratnya kepada Raja Manuel I tahun 1512, Albuquerque menyebut peta tersebut sebagai salah satu yang terbaik yang pernah ia lihat. Temuan ini menunjukkan bahwa pelaut Nusantara telah memiliki pengetahuan navigasi luas dan sistem pemetaan maritim yang maju.
Teknologi Militer dan Pandai Besi Nusantara
Catatan Duarte Barbosa dan Tome Pires juga menyinggung kemampuan teknologi logam masyarakat Jawa. Mereka menulis tentang senjata api, meriam, dan peralatan militer yang diproduksi secara lokal. Orang Jawa disebut sebagai pandai besi dan pengecor logam yang terampil di kawasan Asia.
Kekuatan maritim dan militer ini terlihat dalam berbagai ekspedisi laut pada awal abad ke-16, termasuk upaya penyerangan terhadap Malaka oleh armada dari Jawa.
Majapahit dalam Lensa Dunia
Catatan para penjelajah Eropa tersebut memperlihatkan satu hal yaitu Majapahit tidak hanya dikenal di Nusantara, tetapi juga masuk dalam kesadaran dunia internasional pada masanya. Jawa digambarkan sebagai negeri makmur, kuat di laut dan darat, serta memiliki sistem pemerintahan dan budaya yang maju.
Sejarawan menilai, laporan-laporan ini memang perlu dibaca secara kritis karena ditulis dari sudut pandang asing. Namun, kesaksian mereka tetap menjadi sumber penting untuk memahami bagaimana Nusantara dipandang dunia pada masa lalu.
Majapahit mungkin telah runtuh berabad-abad lalu, tetapi jejaknya masih tertulis di banyak catatan lintas benua. Dari biara di Italia hingga pelabuhan Malaka, nama Jawa pernah berdiri sebagai simbol peradaban maritim besar di Timur.
Sejarah ini menjadi pengingat bahwa Nusantara pernah memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan dan budaya global merupakan sebuah warisan yang kini kembali digali untuk memahami identitas bangsa di masa kini.
***
Diedit oleh Vico Rahman, Jepara, Kamis (5/2/2026).