Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sikap egois sering menjadi pemicu konflik dalam pergaulan, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun ruang publik. Alih-alih melawan dengan kemarahan, sebagian orang memilih strategi yang lebih tenang dan halus untuk meredam dominasi sikap egois tanpa memicu pertengkaran terbuka.
Berikut enam cara yang kerap digunakan untuk menghadapi orang yang terlalu egois tanpa harus bersikap kasar.
Pertama, biarkan mereka pamer tanpa respons berlebihan.
Tidak semua hal perlu ditanggapi. Ketika seseorang gemar memamerkan diri, respons yang terlalu kagum justru dapat memperkuat sikap egois. Sikap diam atau netral sering membuat perilaku pamer kehilangan panggungnya sendiri.
Kedua, bantah dengan tenang.
Menjawab dengan kalimat sederhana seperti “itu pendapat kamu” tanpa emosi bisa menjadi rem bagi percakapan yang memanas. Cara ini menjaga batas tanpa memperkeruh suasana.
Ketiga, senyum tipis saat mereka terlalu serius.
Senyum kecil atau respons ringan dapat menjadi sinyal bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi secara dramatis. Pendekatan ini sering dianggap sebagai “tamparan halus” yang membuat suasana kembali santai.
Keempat, pujian halus namun reflektif.
Memberi pujian yang mengandung pesan refleksi, seperti menyoroti kepercayaan diri secara proporsional, dapat mengajak seseorang melihat dirinya secara lebih objektif tanpa diserang langsung.
Kelima, tidak selalu memberi panggung.
Mengurangi perhatian berlebih terhadap cerita atau klaim yang terus diulang bisa membuat perilaku egois mereda. Dalam banyak kasus, sikap egois tumbuh karena terus mendapat validasi.
Keenam, alihkan fokus pembicaraan.
Mengubah topik atau menyeimbangkan percakapan agar tidak selalu berpusat pada satu orang bisa menjadi cara elegan menjaga dinamika sosial tetap sehat.
Pandangan Pengamat Sosial
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa menghadapi orang egois tidak harus dengan konfrontasi keras.
Menurutnya, pendekatan yang tenang dan terukur justru lebih efektif menjaga hubungan sosial.
“Orang yang terlalu egois biasanya mencari panggung dan pengakuan. Jika dilawan dengan emosi, konflik akan membesar. Tetapi jika dihadapi dengan tenang dan cerdas, sikap egois itu bisa meredup dengan sendirinya,” ujar Purnomo.
Ia menambahkan, masyarakat perlu membedakan antara percaya diri dan egois. Percaya diri mendorong kemajuan, sementara egois yang berlebihan dapat merusak relasi sosial.
“Kuncinya ada pada pengendalian diri. Jangan ikut terbawa emosi. Sikap tenang justru sering menjadi cara paling efektif untuk meredam dominasi orang yang terlalu mementingkan diri sendiri,” jelasnya.
Menjaga Relasi Tanpa Memicu Konflik
Pendekatan halus dalam menghadapi sikap egois dinilai sebagai strategi sosial yang lebih dewasa. Selain menjaga hubungan tetap kondusif, cara ini juga melatih kesabaran dan kecerdasan emosional dalam berinteraksi.
Pada akhirnya, mengendalikan respons diri sendiri sering kali lebih penting daripada mencoba mengubah orang lain secara langsung. Sebab dalam dinamika sosial, ketenangan dan sikap proporsional kerap menjadi “penyeimbang” bagi perilaku yang terlalu dominan.
***
Tim Redaksi.