Queensha.id – Edukasi Sosial,
Mimpi tentang pasangan selingkuh kerap memicu kecemasan dan tanda tanya. Di tengah masyarakat, beredar berbagai tafsir tradisional yang mengaitkan mimpi dengan pertanda hubungan yang sedang goyah. Mulai dari mimpi baju dipakai orang lain hingga pasangan menikah dengan orang lain, semuanya sering dianggap sebagai “isyarat” bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan.
Namun, bagaimana pandangan ulama di Indonesia mengenai mimpi-mimpi semacam ini?
Tafsir Tradisional vs Pandangan Agama
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan Nusantara, mimpi sering dipahami sebagai simbol atau pertanda. Misalnya, sandal putus diartikan sebagai hubungan yang rapuh, sementara mimpi pasangan bersama orang lain dianggap sebagai tanda adanya orang ketiga.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa tidak semua mimpi memiliki makna gaib atau bisa dijadikan dasar menilai realitas.
Ulama kharismatik Indonesia, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam berbagai kesempatan pernah menekankan bahwa mimpi pada umumnya adalah refleksi kondisi batin dan pikiran seseorang.
Menurutnya, mimpi buruk tidak seharusnya langsung dipercaya sebagai kenyataan yang akan terjadi.
“Dalam ajaran Islam, mimpi itu ada yang baik, ada yang dari pikiran sendiri, dan ada yang sekadar bunga tidur. Jangan mudah menuduh orang lain hanya karena mimpi,” demikian pesan yang sering disampaikan Gus Mus dalam ceramahnya.
Tiga Jenis Mimpi dalam Islam
Dalam literatur Islam klasik yang juga sering disampaikan para ulama di Indonesia, mimpi dibagi menjadi tiga:
1. Ru’ya shalihah (mimpi baik) – dianggap sebagai kabar baik atau pengingat.
2. Hulmun (mimpi dari setan) – biasanya berupa mimpi buruk yang membuat gelisah.
3. Haditsun nafs – mimpi yang berasal dari pikiran dan perasaan sendiri.
Jadi, mimpi pasangan selingkuh, menurut banyak ulama, lebih sering masuk kategori haditsun nafs, yakni cerminan kecemasan, rasa takut kehilangan, atau masalah komunikasi dalam hubungan.
Jangan Jadikan Mimpi sebagai Vonis
Ulama Indonesia, seperti Ustaz Adi Hidayat, juga sering mengingatkan agar umat tidak menjadikan mimpi sebagai dasar menuduh atau mengambil keputusan besar.
“Islam mengajarkan tabayyun (klarifikasi). Mimpi tidak bisa dijadikan bukti untuk menuduh seseorang. Jika ada kegelisahan, selesaikan dengan komunikasi dan introspeksi,” ungkapnya dalam salah satu kajian.
Pendekatan ini menekankan bahwa mimpi justru bisa menjadi alarm psikologis: tanda adanya kecemasan, ketidakamanan, atau kurangnya komunikasi dalam hubungan.
Lebih Baik Introspeksi
Para ulama sepakat, jika seseorang mengalami mimpi buruk tentang pasangan, langkah yang dianjurkan adalah berdoa, menenangkan diri, dan tidak langsung bereaksi negatif. Islam juga mengajarkan agar mimpi buruk tidak disebarluaskan atau dijadikan bahan prasangka.
Sebaliknya, mimpi bisa dijadikan momen refleksi: apakah hubungan sedang renggang? apakah komunikasi kurang terbuka? atau ada ketakutan yang belum tersampaikan?
Antara Keyakinan dan Logika
Di tengah masyarakat modern, tafsir mimpi tetap menarik perhatian publik. Namun, para ulama menegaskan pentingnya menyeimbangkan keyakinan spiritual dengan logika dan etika.
Mimpi boleh jadi pengingat untuk lebih peka dan jujur dalam hubungan, tetapi bukan bukti bahwa pasangan berselingkuh. Menjaga komunikasi, kepercayaan, dan keterbukaan tetap menjadi kunci utama menjaga hubungan tetap sehat.
Pada akhirnya, mimpi hanyalah salah satu refleksi batin. Yang menentukan kualitas hubungan bukan mimpi semalam, melainkan sikap dan komunikasi yang dibangun setiap hari.
***
Tim Redaksi.