Notification

×

Iklan

Iklan

Mitos Sperma Mengendap Tak Dikeluarkan Ancam Kesehatan Pria: Fakta Medis atau Sekadar Kekhawatiran yang Berlebihan?

Kamis, 05 Februari 2026 | 12.43 WIB Last Updated 2026-02-05T05:45:27Z
Foto, seorang pria yang pusing dengan berpikiran soal hubungan seksual.


Queensha.id – Edukasi Kesehatan,


Di tengah masyarakat, masih beredar anggapan bahwa pria (baik bujangan maupun duda) yang lama tidak melakukan hubungan seksual akan mengalami penumpukan sperma yang berbahaya bagi kesehatan. Mulai dari klaim bisa memicu kanker prostat hingga menyebabkan stres berat, mitos ini terus berulang dari obrolan warung kopi hingga media sosial. 


Namun, bagaimana sebenarnya pandangan medis?


Sejumlah pengamat kesehatan di Indonesia menilai, banyak informasi yang beredar tidak sepenuhnya tepat dan perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kecemasan yang tidak perlu di kalangan pria.



Sperma “Menumpuk”, Benarkah Berbahaya?

Secara biologis, tubuh pria terus memproduksi sel sperma di testis. Namun, ketika tidak dikeluarkan melalui ejakulasi, sperma tidak akan “mengendap” lalu membusuk di dalam tubuh. Dalam dunia medis, sel sperma yang tidak digunakan akan diurai dan diserap kembali oleh tubuh secara alami.


Pengamat kesehatan reproduksi menjelaskan bahwa proses ini normal dan tidak menimbulkan kerusakan organ. Tubuh memiliki mekanisme daur ulang sel yang efisien, termasuk pada sistem reproduksi pria.


Nyeri Testis dan Kanker Prostat

Ada pula anggapan bahwa rangsangan seksual yang tidak diakhiri ejakulasi bisa memicu nyeri testis dan bahkan kanker prostat. Dalam praktik medis, kondisi nyeri sementara memang bisa terjadi akibat peningkatan aliran darah ke area genital tanpa pelepasan. Kondisi ini sering disebut “blue balls” dan umumnya tidak berbahaya serta akan hilang dengan sendirinya.


Namun, klaim bahwa tidak ejakulasi dapat menyebabkan kanker prostat belum memiliki bukti ilmiah kuat. Beberapa penelitian internasional justru menunjukkan frekuensi ejakulasi tertentu mungkin berkaitan dengan kesehatan prostat, tetapi faktor risiko kanker jauh lebih kompleks, seperti usia, genetik, pola makan, dan gaya hidup.


Dampak Psikologis: Stres dan Tegang

Sebagian orang mengaitkan tidak tersalurkannya hasrat seksual dengan stres, tegang, atau sakit kepala. Para ahli menilai, kondisi tersebut lebih berkaitan dengan faktor psikologis dan gaya hidup, bukan semata-mata karena sperma “menumpuk”.


Hasrat seksual adalah bagian dari kesehatan mental dan emosional. Jika seseorang merasa tertekan karena dorongan seksual yang tidak tersalurkan, pendekatan yang dianjurkan adalah pengelolaan stres, olahraga, aktivitas produktif, serta menjaga keseimbangan emosi.


Pikiran Kotor dan Kontrol Diri

Munculnya pikiran seksual juga kerap dikaitkan dengan “penumpukan sperma”. Padahal, pikiran tersebut lebih dipengaruhi faktor psikologis, lingkungan, dan kebiasaan. Pengamat kesehatan menekankan pentingnya kontrol diri dan manajemen pikiran, bukan menyalahkan proses biologis tubuh.


Edukasi Seksual yang Seimbang

Para pengamat kesehatan di Indonesia menilai pentingnya edukasi seksual yang berbasis sains agar masyarakat tidak terjebak mitos. Tubuh manusia memiliki mekanisme alami untuk menjaga keseimbangan sistem reproduksi. Tidak berhubungan seksual dalam jangka waktu tertentu bukanlah ancaman langsung bagi kesehatan fisik.


Yang lebih penting adalah menjaga pola hidup sehat, olahraga teratur, nutrisi seimbang, serta kesehatan mental. Jika muncul keluhan fisik atau psikologis yang mengganggu, konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah terbaik.


Mitos tentang sperma yang “mengendap” dan merusak kesehatan menunjukkan masih adanya celah dalam literasi kesehatan reproduksi. Di era informasi yang serba cepat, klarifikasi berbasis ilmu pengetahuan menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak ketakutan yang tidak berdasar.


***
Tim Redaksi.