Queensha.id — Film,
Awal 2026 akan dibuka dengan satu film horor yang tidak berisik, namun perlahan mencengkeram pikiran penontonnya. Tolong Saya! (Dowajuseyo) hadir bukan sebagai horor penuh teriakan, melainkan teror psikologis yang tumbuh dari empati, rasa bersalah, dan kesepian—dibalut mitos urban Korea Selatan dan sudut pandang karakter asal Indonesia.
Film ini menjadi salah satu yang paling dinanti karena berani menawarkan horor lintas budaya, menempatkan mahasiswa Indonesia sebagai tokoh utama di tengah dinginnya kota Korea Selatan. Sebuah kombinasi yang terasa dekat, relevan, sekaligus asing.
Empati yang Menjadi Pintu Teror
Kisah berpusat pada Tania (diperankan Saskia Chadwick), mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke Korea Selatan. Hidupnya awalnya berjalan normal—kuliah, beradaptasi dengan budaya baru, dan mencoba bertahan di kota besar yang individualistis.
Semua berubah ketika suatu malam ia menolong orang asing. Permintaan tolong yang tampak sepele justru menjadi awal dari rangkaian kejadian aneh: bayangan tanpa wajah, suara yang tak terlihat, mimpi buruk yang terasa terlalu nyata. Perlahan, batas antara realitas dan dunia arwah mulai kabur.
Di sinilah kekuatan film ini bekerja. Teror tidak datang sekaligus, tetapi merayap pelan, menggerogoti mental Tania hingga ia sendiri tak lagi yakin apakah yang ia alami nyata atau hanya ilusi.
Mitos Urban Korea yang Dibumikan
Tolong Saya! (Dowajuseyo) terinspirasi dari mitos urban Korea yang melarang seseorang menolong orang asing di malam hari. Dalam kepercayaan tertentu, sosok yang meminta tolong diyakini bukan manusia biasa, melainkan entitas dari dunia lain yang mencari jalan masuk ke kehidupan manusia.
Alih-alih mengemasnya secara klise, film ini membumikan mitos tersebut dalam konteks modern yaitu kota besar, mahasiswa asing, apartemen sempit, lorong bawah tanah, dan jalanan malam yang sunyi. Horor terasa dekat karena berangkat dari situasi yang sangat mungkin dialami siapa saja terutama mereka yang hidup jauh dari rumah.
Horor Psikologis dengan Sentuhan Romansa
Di tengah teror yang terus meningkat, Tania juga bergulat dengan konflik emosional dan kisah cinta bersama Dion (Cinta Brian). Unsur romansa ini tidak ditempatkan sebagai pemanis semata, tetapi menjadi penajam dilema batin: antara rasa aman, cinta, dan empati terhadap sesama.
Pilihan-pilihan Tania terasa manusiawi. Ia bukan karakter sempurna, melainkan sosok rapuh yang mencoba tetap baik di dunia yang tidak selalu ramah.
Produksi yang Menekan, Bukan Mengagetkan
Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, film ini memilih pendekatan minimalis namun efektif. Ketegangan dibangun lewat atmosfer, suara, dan visual dingin kota Korea Selatan, bukan lewat jumpscare murahan.
Penonton diajak masuk ke dalam pikiran Tania yang semakin kacau, menjadikan horor sebagai pengalaman psikologis, bukan sekadar tontonan.
Deretan Pemain Lintas Negara
Film ini diperkuat oleh jajaran pemain lintas negara yang menambah nuansa internasional cerita, di antaranya:
1. Saskia Chadwick (Tania).
2. Cinta Brian (Dion).
3. Kim Geba (Dr. Park Min Jae).
4. Kim Seoyoung (Min Yong).
5. Aruma Khadijah,
6. Dito Darmawan,
7. William Roberts,
8. Husein Alatas,
9. Debby Sahertian,
10. Yati Surachman.
Setiap karakter hadir bukan sekadar figuran, melainkan bagian dari lapisan misteri yang menyelimuti kisah utama.
Teror dengan Pesan Moral
Di balik nuansa mencekam, Tolong Saya! (Dowajuseyo) menyimpan pesan yang cukup tajam: niat baik tanpa kewaspadaan bisa berujung petaka. Film ini tidak menolak empati, tetapi mengajak penonton merenung bahwa ada situasi di mana melindungi diri sendiri adalah bentuk kebijaksanaan.
Layak Ditunggu
Dijadwalkan tayang 29 Januari 2026, Tolong Saya! (Dowajuseyo) menawarkan horor yang berbeda: pelan, dingin, dan menghantui lama setelah lampu bioskop menyala. Bagi penonton yang bosan dengan horor instan dan mencari cerita bermakna, film ini patut masuk daftar wajib tonton.
Karena di dunia yang asing, terkadang satu kata sederhana (tolong) bisa menjadi awal mimpi buruk.
***
Tim Redaksi.