Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Ibu Sulit Melepas Anak Laki-Laki: Ulama Indonesia Bicara Soal Mertua, Iri Hati dan Batas Campur Tangan

Jumat, 16 Januari 2026 | 10.23 WIB Last Updated 2026-01-16T03:25:21Z
Foto, ilustrasi. Seorang ibu sangat berat melepaskan anak laki-laki


Queensha.id - Edukasi Islam,


Fenomena ini sering dibicarakan diam-diam, tapi jarang diangkat secara terbuka yaitu mengapa sebagian ibu (terutama yang memiliki anak laki-laki) terlihat sulit menerima kehadiran menantu perempuan?


Mengapa ada mertua yang tidak suka ketika harta anaknya dibagi untuk istri, kerap iri, gemar ikut campur, mencari kesalahan, bahkan nyaris tak pernah memuji?


Para ulama Indonesia menilai, persoalan ini bukan semata soal karakter personal, tetapi gabungan emosi keibuan, salah paham agama, dan kegagalan memahami batas peran.


Cinta yang Berubah Menjadi Kepemilikan

Prof. Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya tentang keluarga menegaskan bahwa cinta orang tua itu jika tidak disertai kebijaksanaan maka bisa berubah menjadi rasa memiliki berlebihan. Seorang ibu yang sejak lama menjadi pusat hidup anak laki-lakinya, bisa merasa “kehilangan” saat anak itu menikah.


Masalah muncul ketika cinta itu tidak naik level menjadi keikhlasan. Anak yang telah menikah bukan lagi milik ibunya secara eksklusif. Dalam Islam, begitu akad sah, istri menjadi pihak yang paling berhak atas perhatian, waktu, dan nafkah suami.


Soal Harta: Nafkah Bukan Kesalahan

Buya Yahya dengan tegas menyebut bahwa istri memiliki hak penuh atas nafkah suami. Ketika seorang ibu tidak suka harta anaknya “dibagi” kepada istri, itu bukan kecemburuan yang dibenarkan agama.


“Orang tua tidak boleh iri kepada menantu atas nafkah yang memang wajib bagi istri,” tegas Buya Yahya dalam salah satu pengajiannya. Justru, orang tua berdosa bila menekan anak agar mengurangi hak istri demi kepentingan orang tua.
Islam memuliakan ibu, tetapi tidak menghalalkan kezaliman terhadap menantu.


Iri pada Menantu: Penyakit Hati yang Berbahaya

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) sering mengingatkan bahwa iri hati adalah penyakit batin yang bisa merusak amal. Ketika seorang ibu merasa tersaingi oleh menantu perempuan yang merasa posisinya direbut, itu pertanda cinta yang tidak dibersihkan oleh iman.


Menurut Gus Baha, menantu bukan lawan, melainkan amanah. Jika ibu ikut menjaga rumah tangga anaknya, itu pahala. Tapi jika justru merusaknya dengan adu domba, sindiran, dan mencari kesalahan, maka itu bisa menjadi dosa yang terus mengalir.


Ikut Campur Rumah Tangga: Niat Baik yang Salah Jalan

Ustaz Abdul Somad (UAS) menekankan bahwa setelah menikah, rumah tangga anak adalah wilayah privat. Orang tua boleh menasihati, tetapi haram merusak.
Ikut campur tanpa diminta, mengorek masalah kecil, membandingkan menantu dengan orang lain, atau memprovokasi anak laki-laki agar memihak ibunya semua itu, kata UAS, bertentangan dengan prinsip Islam yang menjaga kehormatan keluarga.


Rasulullah SAW bersabda, “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak menjadi urusannya.” (HR. Tirmidzi)

Mengapa Tak Pernah Memuji Menantu?

Menurut Quraish Shihab, sebagian orang tua takut kehilangan pengaruh. Pujian dianggap melemahkan posisi. 


Padahal, dalam Islam, kata baik adalah sedekah. Memuji menantu atas kebaikannya bukan berarti menurunkan martabat ibu, justru meninggikannya.


Sikap dingin dan mencari kesalahan hanya akan menciptakan luka batin yang panjang tapi bukan hanya bagi menantu, tapi juga bagi anak laki-laki yang terjepit di tengah.


Pesan Ulama: Cinta Harus Dewasa

Para ulama sepakat: ibu adalah sosok paling mulia, tetapi kemuliaan itu tidak boleh berubah menjadi alat kontrol yang merusak. Anak laki-laki bukan lagi anak kecil setelah menikah. Ia adalah imam bagi istrinya.


Bagi para ibu, para ulama berpesan:
mendidik anak hingga menikah adalah tugas besar, tetapi melepas dengan ikhlas adalah ujian iman.


Bagi anak laki-laki, pesan ulama juga tegas: berbakti kepada ibu wajib, tetapi menzalimi istri atas nama bakti adalah kesalahan besar.


Keluarga yang sehat bukan yang penuh campur tangan, tetapi yang saling tahu batas. Dan mertua yang paling mulia bukan yang paling berkuasa, melainkan yang paling mampu menjaga rumah tangga anaknya tetap utuh.


***
Tim Redaksi.