Notification

×

Iklan

Iklan

Penunggu Rumah: Buto Ijo Hadirkan Horor Janji yang Tak Pernah Lunas

Jumat, 16 Januari 2026 | 11.48 WIB Last Updated 2026-01-16T04:50:01Z
Foto, Fleyer resmi dari Film, Penunggu Rumah - Buto Ijo.


Queensha.id - Film,


Nama Buto Ijo selama ini identik dengan dongeng Timun Mas yang merupakan raksasa menyeramkan yang menagih janji dan berakhir kalah oleh kecerdikan. Namun lewat film Penunggu Rumah: Buto Ijo, mitos klasik itu ditarik ke ranah yang lebih gelap, lebih dewasa, dan terasa dekat dengan realitas kehidupan modern. Bukan sekadar cerita anak-anak, Buto Ijo di film ini menjelma simbol dosa lama, keserakahan, dan janji yang tak pernah ditepati.


Ditulis oleh Gandhi Fernando dan Muthia Esfand berdasarkan novel adaptasi kisah Timun Mas (Buto Ijo), film ini tak mengulang dongeng mentah-mentah. Cerita ditafsirkan ulang menjadi horor keluarga yang sarat trauma masa lalu dan konsekuensi moral.


Rumah, Ibu dan Teror yang Datang Perlahan

Kisah berpusat pada Srini (Celine Evangelista), seorang janda yang hidup sederhana bersama putri kecilnya, Tisya. Ketenteraman mereka mulai runtuh ketika Tisya mendekati ulang tahun ke-6. Sejak itu, Srini kerap dihantui kejadian janggal: bayangan raksasa, suara misterius, dan mimpi buruk yang terasa semakin nyata setiap malam.


Ketakutan Srini bukan sekadar ilusi. Demi melindungi anaknya, ia menghubungi Ali (Gandhi Fernando), mantan kekasihnya yang kini dikenal sebagai konten kreator horor uji nyali. Ali datang bersama adiknya, Lana (Valerie Thomas), yang tengah terdesak kebutuhan ekonomi. Awalnya, mereka mengira teror tersebut hanyalah gangguan makhluk halus biasa namun sesuatu yang bisa diungkap dan diusir. Sehingga semuanya berubah ketika Buto Ijo menampakkan diri. 


Teror tak lagi samar, melainkan nyata dan brutal. Sosok raksasa itu tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga merusak mental, perlahan mengoyak rahasia kelam yang tersembunyi di balik dinding rumah Srini.


Buto Ijo sebagai Simbol Dosa Lama

Dalam film ini, Buto Ijo bukan sekadar penunggu rumah. Ia hadir sebagai penagih. Setiap teror membawa petunjuk tentang perjanjian masa lalu yang belum tuntas namun janji yang dahulu dianggap selesai, tetapi ternyata menyisakan utang besar.


Semakin mereka menggali, semakin jelas bahwa waktu tidak berpihak pada Srini dan anaknya. Tisya bukan target acak. Ia adalah bagian dari harga yang harus dibayar. Ketegangan dibangun perlahan, membuat penonton menyadari bahwa horor terbesar bukan datang dari makhluk gaib, melainkan dari masa lalu yang sengaja dikubur.


Kental Budaya Jawa, Relevan dengan Zaman Kini

Penunggu Rumah: Buto Ijo terasa kuat dengan nuansa budaya Jawa. Mitos Buto Ijo, simbol klenik, hingga ritual tradisional disisipkan tanpa terasa dipaksakan. Elemen budaya ini membuat horor yang disajikan lebih membumi dan akrab bagi penonton Indonesia.


Alih-alih menjadikan legenda sebagai gimmick, film ini memanfaatkan mitos sebagai fondasi cerita. Rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru berubah menjadi ruang penghakiman.


Deretan Pemain dan Jadwal Tayang

Film ini dibintangi oleh Celine Evangelista sebagai Srini, Meryem Hasanah sebagai Tisya, Gandhi Fernando sebagai Ali, Valerie Thomas sebagai Lana, serta Adnan Djani dan Arie Dwi Andhika sebagai karakter pendukung yang berperan penting dalam menguak sejarah kelam rumah tersebut.


Penunggu Rumah: Buto Ijo dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 15 Januari 2026, menawarkan pengalaman horor layar lebar dengan atmosfer gelap dan menekan.


Lebih dari Sekadar Menakutkan

Film ini bukan hanya soal ketakutan. Ia berbicara tentang janji, pengorbanan, dan konsekuensi dari pilihan masa lalu. Plot twist yang disajikan membuat penonton menyadari bahwa setiap kesepakatan, sekecil apa pun, selalu punya harga.


Dengan cerita yang berakar pada legenda, karakter emosional, dan teror yang terasa dekat dengan budaya lokal, Penunggu Rumah: Buto Ijo layak masuk daftar tontonan horor awal 2026.


Karena di film ini, Buto Ijo tidak datang untuk menakut-nakuti. Ia datang untuk menagih. Dan ketika waktunya tiba, tidak ada tempat aman untuk bersembunyi.


***
Tim Redaksi.