| Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook. 7 Mitos paling dipercaya oleh masyarakat Indonesia. |
Queensha.id - Edukasi Sosial,
Masyarakat Indonesia dikenal kaya akan tradisi dan kepercayaan turun-temurun.
Sebagian mitos masih dipercaya hingga kini, bahkan menjadi “nasihat wajib” dalam kehidupan sehari-hari.
Namun di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman agama, muncul pertanyaan: mana yang sekadar mitos, mana yang punya nilai logika dan adab?
Berikut tujuh mitos yang paling sering dipercaya masyarakat, lengkap dengan pandangan ulama dan fakta yang bisa dijelaskan secara rasional.
1. Ketindihan: Diduduki Makhluk Halus?
Banyak orang meyakini ketindihan saat tidur sebagai gangguan makhluk halus.
Pandangan ulama: Ulama menjelaskan bahwa Islam mengakui adanya gangguan jin, namun tidak semua pengalaman tidur harus dikaitkan dengan hal gaib. Dianjurkan membaca doa sebelum tidur dan menjaga wudu.
Fakta ilmiah: Dalam medis, ketindihan disebut sleep paralysis, kondisi ketika tubuh belum sepenuhnya sadar dari fase tidur sehingga terasa tidak bisa bergerak.
Mitos menyebut memakai baju hijau bisa “dipanggil” penguasa laut selatan.
Pandangan ulama: Tidak ada dalil agama yang melarang warna pakaian tertentu. Kepercayaan seperti ini tidak boleh diyakini sebagai kekuatan gaib.
Fakta: Ombak besar di pantai selatan memang berbahaya. Larangan warna hijau lebih sebagai kearifan lokal agar pengunjung waspada dan mudah terlihat petugas.
Anak-anak sering diingatkan agar tidak duduk di bantal.
Pandangan ulama: Ini bukan persoalan gaib, melainkan adab dan kebersihan. Bantal digunakan untuk kepala, bukan diduduki.
Fakta: Duduk di bantal tidak langsung menyebabkan bisul, tetapi bisa membuat bantal kotor dan berisiko menularkan bakteri.
4. Keluar Saat Magrib Bisa Diculik Wewe Gombel
Anak-anak dan ibu hamil sering dilarang keluar saat magrib.
Pandangan ulama: Waktu magrib memang dianjurkan untuk berada di rumah, berdoa, dan menjaga keluarga. Namun bukan karena makhluk tertentu menculik.
Fakta: Secara sosial, waktu senja rawan kecelakaan dan gangguan keamanan, sehingga larangan ini lebih pada perlindungan.
Nanas sering dihindari ibu hamil karena dianggap berbahaya.
Pandangan ulama: Islam tidak mengharamkan nanas. Yang penting tidak berlebihan dan tetap berkonsultasi dengan tenaga medis.
Fakta: Nanas mengandung bromelain, tetapi dalam jumlah normal tidak terbukti menyebabkan keguguran pada kehamilan sehat.
Mandi malam sering dituduh pemicu rematik.
Pandangan ulama: Tidak ada larangan khusus, selama tidak membahayakan kesehatan.
Fakta: Rematik berkaitan dengan peradangan sendi dan faktor usia, bukan semata mandi malam. Namun mandi terlalu dingin bagi tubuh yang lelah bisa membuat otot tegang.
Sebagian masyarakat mengaitkan kebersihan rumah dengan rezeki.
Pandangan Ulama: Rezeki datang dari Allah, tetapi Islam sangat menganjurkan kebersihan, ketertiban, dan kerja keras. Lingkungan rapi bisa mendukung kenyamanan dan produktivitas.
Fakta: Rumah bersih meningkatkan kesehatan dan semangat kerja, yang secara tidak langsung berdampak pada ekonomi keluarga.
Sejumlah ulama Indonesia menekankan pentingnya membedakan antara budaya, adab, dan akidah. Tradisi boleh dilestarikan sebagai kearifan lokal, namun tidak boleh diyakini memiliki kekuatan mutlak yang menentukan nasib atau rezeki.
“Yang terpenting adalah tauhid, akhlak, dan ikhtiar. Jangan semua hal dikaitkan dengan makhluk halus. Ambil hikmah dari tradisi, tapi tetap gunakan akal sehat dan ilmu,” ujar seorang dai nasional dalam kajian keluarga.
Realita di Tengah Masyarakat
Banyak mitos sebenarnya lahir dari upaya orang tua zaman dulu untuk menjaga keselamatan, kebersihan, dan etika. Namun seiring perkembangan zaman, masyarakat perlu memahami mana yang bernilai moral dan mana yang sekadar kepercayaan tanpa dasar.
Di era modern, edukasi berbasis ilmu pengetahuan dan agama dinilai penting agar masyarakat tidak mudah terjebak pada ketakutan yang tidak berdasar. Tradisi boleh dijaga, tetapi keyakinan harus tetap berpijak pada ajaran agama dan fakta.
Pada akhirnya, keseimbangan antara budaya, agama, dan sains menjadi kunci agar masyarakat tetap menghormati tradisi tanpa kehilangan nalar dan keimanan.
***
Tim Redaksi.