| Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook tentang 10 Pantangan yang merupakan tradisi leluhur. |
Queensha.id - Edukasi Sosial,
Di tengah masyarakat, beredar berbagai “pantangan rumah tangga” yang diyakini bisa memengaruhi kelancaran rezeki. Mulai dari larangan menyapu malam hari, menjaga beras dan garam agar tak habis, hingga tidak membiarkan kran air bocor. Sebagian orang menganggapnya sekadar mitos turun-temurun, sementara yang lain meyakini ada makna spiritual di baliknya.
Lalu bagaimana pandangan ulama terkemuka di Indonesia terhadap 10 pantangan rumah tangga yang sering dipercaya tersebut?
Tradisi yang Boleh, Asal Tidak Diyakini sebagai Keyakinan Mutlak
Sejumlah ulama menjelaskan, tradisi lokal yang berisi nasihat kebersihan, kerapian, dan keharmonisan rumah tangga pada dasarnya boleh saja diikuti selama tidak diyakini sebagai sebab mutlak datang atau hilangnya rezeki.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang dakwah dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa dalam Islam, rezeki datang dari Allah SWT, bukan dari benda atau kebiasaan tertentu. Namun, Islam sangat menganjurkan kebersihan, keteraturan, serta keharmonisan keluarga sebagai bagian dari ikhtiar.
“Kalau ada nasihat agar rumah bersih, tidak boros, tidak ada kebocoran, itu nilai moral dan etika yang baik. Tapi jangan sampai diyakini bahwa kalau melanggar pantangan tertentu pasti rezeki tertutup. Itu yang perlu diluruskan,” ujar seorang ulama nasional dalam ceramahnya yang banyak dikutip di berbagai media dakwah.
Mana yang Bernilai Adab, Mana yang Sekadar Kepercayaan
Berikut pandangan umum ulama terhadap sejumlah pantangan yang populer di masyarakat:
1. Tidak ada sarang laba-laba di rumah
Ini selaras dengan ajaran kebersihan dalam Islam. Rumah bersih menciptakan kenyamanan dan kesehatan, yang secara tidak langsung mendukung kelancaran rezeki. Namun bukan berarti sarang laba-laba otomatis menutup rezeki.
2. Beras dan garam jangan sampai habis
Dalam perspektif ulama, ini lebih pada simbol manajemen keuangan dan kesiapan logistik keluarga. Islam menganjurkan perencanaan dan tidak hidup serba kekurangan karena lalai.
3. Menyapu harus langsung dibuang
Masuk dalam kategori menjaga kebersihan. Tidak ada dalil khusus soal rezeki, tetapi kebersihan adalah bagian dari iman.
4. Jangan menyapu di malam hari
Ulama menyebut ini lebih kepada tradisi lama. Pada masa lampu belum terang, menyapu malam bisa membuat barang kecil terbuang. Kini tidak lagi relevan secara syariat.
5. Jangan ada kran air bocor
Ini berkaitan dengan larangan mubazir. Air yang terbuang sia-sia termasuk pemborosan, dan pemborosan memang tidak disukai dalam ajaran Islam.
6. Jangan duduk di depan pintu
Lebih pada etika dan kenyamanan rumah. Tidak berkaitan langsung dengan rezeki, namun berkaitan dengan adab dan akses keluar masuk rumah.
7. Jangan mematikan lampu kamar mandi malam hari
Tidak ada dasar agama. Ini lebih ke kebiasaan praktis agar tidak gelap dan rawan kecelakaan.
8. Jangan menanam pohon berduri di depan rumah
Dalam pandangan ulama, ini lebih simbolis. Rumah dianjurkan ramah dan nyaman, bukan menakutkan. Namun tidak ada kaitan langsung dengan rezeki.
9. Baju yang masih dipakai jangan jadi lap
Ini berkaitan dengan adab menjaga barang dan tidak merendahkan nikmat. Islam mengajarkan menghargai pakaian sebagai nikmat.
10. Jangan mengkhianati pasangan
Inilah yang paling tegas dalam ajaran agama. Pengkhianatan, perselingkuhan, dan ketidakjujuran dalam rumah tangga memang bisa menjadi sebab hilangnya keberkahan rezeki. Banyak ulama menekankan bahwa dosa dalam keluarga dapat mengurangi keberkahan hidup.
Rezeki dan Keberkahan Lebih Ditentukan Akhlak
Ulama Indonesia umumnya sepakat bahwa kelancaran rezeki dalam rumah tangga lebih ditentukan oleh kejujuran, kerja keras, doa, sedekah, dan keharmonisan keluarga. Tradisi lokal boleh dijaga sebagai bagian dari budaya, tetapi tidak boleh menggeser keyakinan utama.
“Rezeki itu dari Allah. Yang menghambat bukan sarang laba-laba atau menyapu malam, tapi dosa, kemalasan, dan konflik dalam keluarga,” kata seorang dai nasional dalam kajian keluarga sakinah.
Masyarakat diimbau bijak menyikapi pantangan yang beredar. Ambil nilai positifnya sebagai etika hidup bersih, hemat, dan harmonis, namun tetap berpijak pada ajaran agama yang menekankan tauhid dan ikhtiar.
Pada akhirnya, rumah tangga yang penuh kejujuran, saling menghormati, serta menjaga amanah dinilai para ulama sebagai kunci utama terbukanya pintu rezeki dan keberkahan.
***
Tim Redaksi.