Notification

×

Iklan

Iklan

Benarkah Gadis Tak Perawan Susah dapat Jodoh? Mitos Sosial atau Realitas

Minggu, 15 Februari 2026 | 20.01 WIB Last Updated 2026-02-15T13:02:09Z
Foto, ilustrasi. 



Queensha.id — Edukasi Sosial,


Di tengah masyarakat, masih kuat anggapan bahwa gadis yang sudah tidak perawan akan sulit mendapatkan jodoh. Stigma ini kerap menjadi tekanan sosial bagi perempuan, terutama di lingkungan yang memegang nilai tradisional kuat.


Namun benarkah demikian? 


Para ulama dan pengamat sosial menilai persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar status fisik.


Antara Stigma Sosial dan Realitas

Secara sosiologis, stigma terhadap keperawanan perempuan berakar dari budaya patriarki yang menilai kehormatan keluarga melekat pada tubuh perempuan. Dalam banyak kasus, perempuan yang diketahui tidak perawan sebelum menikah sering menghadapi penghakiman sosial lebih keras dibanding laki-laki dengan pengalaman serupa.


Padahal dalam realitas modern, banyak faktor yang menentukan jodoh: karakter, tanggung jawab, keimanan, serta kesiapan membangun rumah tangga. Status masa lalu bukan satu-satunya penentu.


Para sosiolog menyebut bahwa stigma berlebihan justru berpotensi menimbulkan dampak psikologis, seperti rasa rendah diri, depresi, hingga ketakutan menjalin hubungan sehat.


Pandangan Ulama Indonesia

Ulama terkemuka Indonesia menegaskan bahwa Islam melarang hubungan di luar pernikahan, namun juga menekankan konsep taubat dan pengampunan.


Menurut Quraish Shihab, dalam Islam yang dinilai Allah bukan hanya masa lalu seseorang, tetapi juga taubat dan perubahan hidupnya. Seseorang yang pernah berbuat salah namun bertaubat dengan sungguh-sungguh memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.


Pendakwah Buya Yahya juga sering menegaskan bahwa masa lalu bukan alasan untuk menutup pintu jodoh. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menghakimi, karena Islam membuka pintu taubat seluas-luasnya.


Sementara itu, pandangan dari Majelis Ulama Indonesia menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri bagi laki-laki dan perempuan. Namun jika seseorang telah bertaubat, maka kewajiban masyarakat adalah menghormati dan tidak terus-menerus membuka aibnya.


Dalam ajaran Islam, menikah dengan orang yang pernah memiliki masa lalu kelam tetap sah dan tidak tercela selama ia telah memperbaiki diri.


Perspektif Pengamat Sosial Jepara

Pengamat sosial Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai stigma keperawanan masih kuat di masyarakat pesisir dan pedesaan. Menurutnya, faktor budaya dan tekanan lingkungan membuat banyak perempuan merasa masa depan mereka hancur jika pernah melakukan kesalahan.


“Padahal dalam praktiknya, banyak laki-laki yang tetap menikah dengan perempuan yang mereka cintai tanpa menjadikan masa lalu sebagai satu-satunya ukuran,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).


Ia menambahkan, yang lebih penting dalam pernikahan adalah komitmen, kejujuran, dan kesiapan membangun keluarga. Menurutnya, masyarakat perlu lebih bijak dan tidak menjadikan perempuan sebagai satu-satunya pihak yang memikul beban moral.


Jodoh Bukan Hanya Soal Masa Lalu

Baik ulama maupun pengamat sosial sepakat bahwa jodoh tidak semata ditentukan oleh status keperawanan. Dalam Islam, pernikahan dibangun atas dasar iman, akhlak, dan tanggung jawab. Masa lalu seseorang bisa menjadi pelajaran, bukan vonis seumur hidup.


Masyarakat diimbau untuk lebih adil dalam memandang persoalan moral. Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga diri. Jika seseorang telah memperbaiki diri, maka ia berhak mendapatkan kesempatan membangun masa depan yang lebih baik.


Isu ini menjadi refleksi bersama bahwa menjaga nilai moral penting, namun menghakimi tanpa ruang taubat justru dapat merusak tatanan sosial. Pada akhirnya, jodoh adalah rahasia Tuhan, dan manusia hanya bisa berusaha memperbaiki diri serta memperlakukan sesama dengan bijak dan penuh empati.


***
Tim Redaksi.