Notification

×

Iklan

Iklan

Satu Warga Wonorejo Jepara Tewas Diduga Miras Oplosan, Jaringan Penjualan “Ginseng” di Pakisaji Disorot

Kamis, 12 Februari 2026 | 12.18 WIB Last Updated 2026-02-12T05:20:43Z
Foto, ilustrasi gambaran minuman keras (Oplosan).


Queensha.id – Jepara,


Tragedi minuman keras (miras) oplosan kembali merenggut korban jiwa di wilayah Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara. Seorang pemuda berinisial ED, warga Desa Wonorejo, dilaporkan meninggal dunia pada Rabu malam (11/2/2026) setelah sebelumnya diduga mengonsumsi miras oplosan.


Informasi yang dihimpun menyebutkan, ED sempat menenggak minuman keras bersama rekannya bernama Yono pada hari sebelumnya. Namun hingga kini, lokasi pasti tempat mereka mengonsumsi miras belum diketahui. Yono yang juga diduga ikut menenggak minuman tersebut masih menjalani perawatan di rumah sakit, sehingga belum dapat dimintai keterangan detail.


Warga menyebut, keduanya tidak minum di lokasi pesta miras di Desa Suwawal Timur yang sebelumnya sempat ramai diberitakan. Aparat pun masih menelusuri dari mana miras yang diminum ED dan Yono berasal.


“Kami belum tahu mereka minum di mana. Yono masih sakit di rumah sakit, jadi belum bisa dimintai keterangan. Tapi yang jelas ini miras oplosan lagi,” ujar seorang warga setempat.



Desakan Warga: Peredaran Oplosan Harus Ditindak

Kematian ED kembali memicu kemarahan warga terhadap maraknya peredaran miras oplosan jenis “ginseng” di wilayah Pakisaji, khususnya Desa Mambak. Warga menilai minuman tersebut sudah terlalu mudah diakses dan dikonsumsi, bahkan disebut seperti “makanan pokok” bagi sebagian kalangan.


“Bagaimana aparat penegak hukum ini? Tolonglah diperketat soal beredarnya miras oplosan itu. Kita sebagai warga memohon jangan terus-terusan diracuni dengan miras itu,” ujar seorang warga Pakisaji dengan nada kecewa.


Menurut sejumlah warga, penjualan miras oplosan jenis ginseng di Desa Mambak berlangsung terbuka. Minuman tersebut dijual per gelas maupun dalam kemasan botol air mineral. Beberapa nama penjual bahkan disebut sudah dikenal luas di kalangan peminum.


“Hampir setiap RT ada yang jual. Ini sudah seperti rahasia umum,” kata warga lainnya.


Dugaan Pembiaran

Warga juga menyoroti dugaan pembiaran terhadap praktik penjualan miras oplosan tersebut. Mereka mengaku pernah melihat oknum berseragam datang ke lokasi penjualan, namun tidak melakukan penindakan tegas.


“Katanya ada yang datang tiap bulan, tapi tidak dibubarkan. Malah cuma minta uang rokok. Kami warga jadi bertanya-tanya, ini mau sampai kapan?” ungkap seorang warga.


Meski demikian, tudingan tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang.



Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari aparat kepolisian terkait kematian ED maupun kondisi Yono. Warga berharap aparat segera mengusut sumber miras oplosan yang beredar dan menindak tegas jaringan penjualnya.


Kasus ini menambah daftar panjang korban akibat miras oplosan di wilayah Jepara dan sekitarnya. Warga pun mendesak pemerintah desa hingga aparat penegak hukum untuk bertindak lebih tegas agar kejadian serupa tidak terus berulang.


“Kami hanya ingin lingkungan kami aman. Jangan sampai ada lagi korban berikutnya,” ujar seorang warga.


***
Wartawan: Aris BS.
Tim Redaksi.