Notification

×

Iklan

Iklan

Jepara Mulus, Bukan Sekadar Jalan Halus: Seruan Konsolidasi Moral dan Pikiran Warga Menguat

Sabtu, 07 Februari 2026 | 17.59 WIB Last Updated 2026-02-07T11:02:36Z
Foto, ilustrasi (pengingat dan pesan singkat).


Queensha.id – Jepara, (Opini Publik)


Seruan “Salam Jepara Mulus” kembali menggema di tengah masyarakat. Bukan hanya tentang infrastruktur jalan yang rapi, gagasan ini berkembang menjadi ajakan konsolidasi hati, pemikiran, dan arah pembangunan agar Jepara benar-benar bangkit sebagai daerah yang makmur, unggul, lestari, dan religius.


Gagasan tersebut disampaikan dalam sebuah refleksi publik yang menekankan pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap masa depan daerah. Warga diajak meninggalkan sikap apriori yaitu (kesimpulan tanpa dasar pengalaman dan bukti menuju cara berpikir yang lebih terbuka dan kolaboratif).


“Cukup sudah menjadi Jepara yang apriori. Saatnya bangkit menjadi Jepara Mulus nan mandiri,” demikian seruan yang beredar dalam ruang diskusi masyarakat dan komunitas.


Dalam refleksi tersebut, Jepara Mulus dimaknai lebih luas sebagai metafora kehidupan sosial. Bukan hanya fisik jalan yang mulus, tetapi juga kelancaran komunikasi, kebersihan niat, serta kekuatan solidaritas antarwarga dan pemangku kebijakan. Pembangunan dinilai tidak akan berjalan maksimal jika masyarakat masih terjebak prasangka dan kepentingan sektoral.


Metafora yang digunakan cukup unik yaitu kendi dan air. Dalam perspektif sufistik yang merujuk pada pemikiran Jalaluddin Rumi, manusia diibaratkan sebagai air yang terperangkap dalam kendi tanah liat. Kendi melambangkan ego, ambisi, dan batasan diri. Ketika kendi itu pecah (melalui ujian atau krisis) maka air justru menemukan jalan kembali ke sumbernya.
Refleksi ini menekankan bahwa luka sosial, konflik, atau kegagalan pembangunan tidak selalu berarti kemunduran. 


Sebaliknya, hal itu bisa menjadi titik balik untuk perbaikan dan penyatuan visi. Luka disebut sebagai “portal cahaya” yang membuka kesadaran baru bagi masyarakat untuk bergerak bersama.


Dalam konteks Jepara, narasi tersebut diterjemahkan sebagai ajakan untuk tidak terjebak pada perpecahan, rivalitas, atau penilaian prematur terhadap kebijakan dan program pembangunan. 


Sebaliknya, masyarakat diajak membangun dialog yang sehat, saling menguatkan, dan berkontribusi sesuai peran masing-masing.


Pengamat sosial lokal menilai, wacana Jepara Mulus menjadi relevan di tengah dinamika pembangunan daerah yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Konsolidasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas dinilai menjadi kunci agar visi besar daerah tidak berhenti pada slogan.


Seruan ini juga mengingatkan bahwa ketangguhan sebuah daerah lahir dari kemampuan warganya menghadapi tantangan bersama. Penderitaan, kritik, dan perbedaan pandangan tidak harus berujung perpecahan, tetapi dapat menjadi energi perubahan jika dikelola dengan bijak.


Pada akhirnya, “Jepara Mulus” dimaknai sebagai gerakan bersama: memperhalus jalan pembangunan fisik, memperjernih komunikasi sosial, serta memperkuat spiritualitas dan integritas dalam kehidupan bermasyarakat.


Ajakan konsolidasi ini menutup dengan pesan sederhana namun tegas: bekerja bersama di semua sektor demi terwujudnya Jepara Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius.

***
Sumber: JM (Opini Publik).
Salam Jepara Mulus.