Notification

×

Iklan

Iklan

Misteri Kematian Aksel di Tubanan Jepara Belum Terkuak: Warga Desak Polisi Ungkap Pelaku, APSIFOR Turut Dilibatkan

Jumat, 06 Februari 2026 | 18.23 WIB Last Updated 2026-02-06T13:00:44Z
Foto, warga Desa Tubanan berbondong-bondong ke rumah Mbah Ngatipah yang merupakan nenek dari korban Aksel Rendi Saputra, kemudian Apsifor Semarang dipindah ke Balaidesa Tubanan, Kembang, Jepara.


Queensha.id - Jepara,


Kasus pembunuhan tragis yang menewaskan Aksel Rendi Saputra (24), warga Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Jepara, masih menyisakan tanda tanya besar. Lebih dari dua bulan sejak kejadian pada akhir November 2025, pelaku dan motif pembunuhan belum juga terungkap, memicu desakan warga agar aparat penegak hukum segera memberikan kepastian.


Aksel ditemukan tewas mengenaskan pada Minggu pagi, 30 November 2025 sekitar pukul 05.45 WIB di kebun rumput gajah, Dukuh Sekuping, Desa Tubanan. Lokasi penemuan hanya berjarak sekitar 50–60 meter dari rumah korban. Saat ditemukan, korban dalam kondisi berlumuran darah dengan luka sayatan di leher serta luka pada pergelangan tangan kiri.


Penemuan jasad Aksel bermula ketika nenek korban, Ngatipah, bersama warga mencari keberadaannya karena tidak pulang ke rumah. Pencarian berujung duka setelah korban ditemukan tak bernyawa di area kebun.


Polisi dari Polsek Kembang dan Satreskrim Polres Jepara langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Sejumlah barang bukti diamankan, di antaranya dua bilah pisau dan sebuah ponsel yang ditemukan di sekitar lokasi. Otopsi juga telah dilakukan guna memastikan penyebab kematian dan memperkuat alat bukti penyelidikan.


Warga Menanti Kepastian

Hingga awal Februari 2026, warga Desa Tubanan mengaku masih menunggu perkembangan penyelidikan. Ketiadaan informasi resmi mengenai pelaku dan motif membuat spekulasi berkembang di masyarakat dan media sosial.


Petinggi Desa Tubanan, Untung Pramono, mengatakan situasi desa sempat memanas saat proses wawancara keluarga korban berlangsung. Banyak warga berdatangan ke rumah nenek korban sehingga aparat desa memindahkan lokasi wawancara ke balai desa demi menjaga kondusivitas.


“Karena wawancara dengan Mbah Ngatipah di rumahnya penuh warga yang berbondong-bondong ingin melihat, akhirnya dipindahkan ke balai desa agar lebih aman dan kondusif,” ujar Untung, Jumat (6/2/2026).


Ia menambahkan bahwa pihak desa juga belum menerima informasi resmi terkait hasil pendalaman dari pihak luar, termasuk dugaan keterlibatan tim psikologi forensik.


“Kalau soal hasil dari wawancara APSIFOR Semarang, saya tidak tahu,” imbuhnya.


Peran Psikologi Forensik

Dalam proses penanganan kasus-kasus berat, aparat penegak hukum kerap melibatkan Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR), organisasi profesi di bawah HIMPSI yang fokus pada penerapan psikologi dalam konteks hukum. Anggota APSIFOR tersebar di berbagai wilayah, termasuk Jawa Tengah, dan biasanya membantu asesmen psikologis, investigasi, serta perlindungan saksi dan korban.


Namun hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait sejauh mana keterlibatan tim psikologi forensik dalam pengungkapan kasus ini. Hanya saja ada 11 saksi yang diperiksa.


Polisi Diminta Transparan

Di tengah minimnya informasi, warga berharap kepolisian dapat segera memberikan perkembangan terbaru agar tidak muncul spekulasi liar. Beberapa dugaan yang beredar di media sosial dinilai berpotensi memicu keresahan dan mengganggu proses hukum.


Masyarakat Desa Tubanan kini menanti kepastian dari Satreskrim Polres Jepara mengenai identitas pelaku dan motif di balik pembunuhan yang mengguncang desa tersebut. Kasus ini menjadi perhatian publik karena terjadi di lingkungan yang dikenal relatif tenang, serta melibatkan korban muda yang dikenal warga setempat.


Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman dan belum merilis keterangan resmi terbaru terkait perkembangan penyelidikan.


***
Wartawan: Aris BS.
Tim Redaksi.