Queensha.id — Edukasi Kesehatan,
Di media sosial beredar daftar “jam piket organ tubuh” yang disebut menentukan kapan paru-paru, lambung, hati, hingga ginjal bekerja paling aktif. Banyak masyarakat mempercayai bahwa jika tidak mengikuti jadwal ini, kesehatan bisa terganggu. Namun, benarkah tubuh manusia bekerja seperti sistem piket bergilir?
Sejumlah dokter di Indonesia menilai informasi tersebut perlu diluruskan agar tidak menyesatkan, sekaligus tetap menjaga semangat hidup sehat yang terkandung di dalamnya.
Klaim Jam Piket Organ Tubuh yang Beredar
Beberapa waktu terakhir, publik ramai membahas pembagian jam kerja organ tubuh, di antaranya:
1. Pada pukul 03.00–05.00: Paru-paru detoksifikasi.
2. Pada pukul 05.00–07.00: Usus besar membuang racun.
3. Pada pukul 07.00–09.00: Lambung optimal menyerap makanan.
4. Pada pukul 09.00–11.00: Limpa memproses sari makanan.
5. Pada pukul 11.00–13.00: Jantung bekerja keras.
6. Pada pukul 13.00–15.00: Usus kecil mengatur cairan.
7. Pada pukul 17.00–19.00: Ginjal menyaring racun.
8. Pada pukul 23.00–03.00: Hati detoksifikasi.
Narasi ini sering dikaitkan dengan anjuran tidur tepat waktu, sarapan pagi, hingga kebiasaan buang air besar di pagi hari.
Pandangan Dokter: Tubuh Bekerja 24 Jam, Bukan Bergiliran
Dokter spesialis penyakit dalam di Indonesia menegaskan bahwa tubuh manusia tidak bekerja seperti jadwal piket yang kaku. Semua organ bekerja sepanjang waktu, bukan hanya di jam tertentu.
Menurut sejumlah praktisi kesehatan, konsep jam organ ini berasal dari pengobatan tradisional Tiongkok yang membagi energi tubuh dalam siklus tertentu. Meski menarik, konsep tersebut tidak sepenuhnya didukung bukti ilmiah modern.
“Paru-paru, hati, ginjal, dan jantung bekerja terus-menerus selama kita hidup. Memang ada ritme biologis atau circadian rhythm, tetapi bukan berarti organ hanya aktif di jam tertentu saja,” ujar salah satu dokter umum di Jawa Tengah.
Yang Benar: Ada Ritme Sirkadian
Meski pembagian jam organ tidak akurat secara medis, para dokter mengakui bahwa tubuh memiliki ritme sirkadian yaitu jam biologis alami yang mengatur:
1. Pola tidur dan bangun.
2. Hormon.
3. Suhu tubuh.
4. Metabolisme.
Contohnya:
1. Hormon melatonin meningkat saat malam, membuat kita mengantuk.
2. Sistem pencernaan lebih siap bekerja di siang hari.
3. Tekanan darah dan detak jantung meningkat di pagi hari.
Artinya, anjuran tidur cukup, sarapan, dan menjaga emosi tetap penting, tetapi bukan karena organ “piket” di jam tertentu.
Benarkah Detoks Terjadi di Jam Tertentu?
Istilah “detoksifikasi” juga sering disalahartikan. Dokter menegaskan yaitu
Hati dan ginjal melakukan detoks sepanjang waktu, bukan hanya tengah malam.
Batuk di pagi hari bukan berarti paru-paru sedang detoks khusus jam 03.00–05.00.
Buang air besar pagi hari adalah kebiasaan baik, tetapi tidak wajib untuk semua orang.
“Tubuh sudah punya sistem detoks alami. Yang perlu dijaga adalah gaya hidup: makan seimbang, tidur cukup, dan olahraga,” kata seorang dokter gizi klinis.
Risiko Jika Dipercaya Mentah-mentah
Beberapa dokter khawatir jika informasi jam organ dipercaya tanpa pemahaman medis, masyarakat bisa:
1. Menganggap sakit tertentu pasti karena melanggar “jam organ”.
2. Menunda pemeriksaan medis.
3. Mengikuti pola yang tidak sesuai kebutuhan tubuh masing-masing.
Padahal, kebutuhan setiap orang berbeda tergantung usia, pekerjaan, dan kondisi kesehatan.
Pesan Dokter: Ambil Baiknya, Tinggalkan Mitosnya
Meski tidak sepenuhnya ilmiah, dokter menilai ada sisi positif dari tren ini: masyarakat jadi lebih sadar pentingnya pola hidup sehat.
Beberapa kebiasaan yang memang dianjurkan:
1. Tidur cukup 7–9 jam.
2. Sarapan bergizi.
3. Minum air cukup.
4. Olahraga rutin.
5. Mengelola stres.
Namun, semua itu bukan karena organ “punya jadwal piket”, melainkan karena tubuh membutuhkan ritme hidup yang seimbang.
Jadi, pembagian jam kerja organ tubuh seperti yang viral di masyarakat lebih merupakan kepercayaan populer daripada fakta medis. Tubuh manusia bekerja 24 jam tanpa sistem piket bergilir yang kaku.
Para dokter mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada klaim kesehatan tanpa dasar ilmiah, tetapi tetap menjaga pola hidup sehat yang konsisten.
Pada akhirnya, kesehatan bukan soal mengikuti jam organ, melainkan menjaga kebiasaan baik setiap hari.
***
Tim Redaksi.