Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Jepara ke Metaverse: Desainer Muda Mico Ristya Raup Belasan Juta dari Item Avatar di Roblox

Rabu, 11 Maret 2026 | 04.20 WIB Last Updated 2026-03-10T21:40:44Z
Foto, designer 3D, Mico Ristya Mahendra.




Dunia game kini tak lagi sekadar ruang hiburan. Di balik layar permainan, muncul ekosistem ekonomi baru yang membuka peluang kerja bagi generasi muda. Salah satunya dialami oleh Mico Ristya Mahendra, desainer 3D berusia 22 tahun asal kecamatan Mlonggo, kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang berhasil meraih pendapatan hingga belasan juta rupiah dari pembuatan item avatar di platform game Roblox.


Mico memperoleh klien melalui marketplace jasa digital Sribu. Pekerjaan yang awalnya hanya sekadar coba-coba itu kini berkembang menjadi sumber penghasilan serius bagi freelancer muda tersebut.


Awal Karier dari Desain 3D Umum

Menariknya, Mico tidak sejak awal menargetkan pasar Roblox. Ia memulai karier sebagai desainer 3D umum yang membuat berbagai aset digital, mulai dari kebutuhan animasi YouTube hingga visualisasi produk.


Kesempatan baru datang ketika ia menerima proyek pembuatan map Roblox dari seorang klien di platform lain. Setelah proyek tersebut selesai, klien yang sama kembali menghubunginya dengan permintaan berbeda: membuat desain jaket untuk karakter dalam game.
Dari proyek itulah Mico mulai melihat potensi pasar baru di dunia game berbasis konten buatan pengguna.


Ia kemudian mempelajari teknik pembuatan pakaian avatar Roblox melalui berbagai tutorial daring. Setelah menguasai dasar-dasarnya, Mico membuka layanan khusus pembuatan item avatar Roblox di Sribu.


“Beberapa klien bahkan sering melakukan repeat order karena di map Roblox mereka sering mengadakan event. Jadi mereka butuh item baru agar avatar pemain terlihat fresh,” ujar Mico.


Permintaan Datang dari Berbagai Komunitas

Permintaan terhadap desain item digital tersebut datang dari berbagai pihak. Sebagian klien merupakan pemilik toko item di marketplace Roblox yang menjual aksesoris avatar kepada para pemain.


Selain itu, ada pula komunitas pemain yang ingin menciptakan identitas visual khusus bagi anggota mereka melalui pakaian atau aksesori digital.


Fenomena ini menunjukkan bahwa Roblox kini berkembang menjadi lebih dari sekadar platform permainan. Ia telah berubah menjadi ekosistem ekonomi digital berbasis kreativitas pengguna.


Ekonomi Virtual Bernilai Triliunan Rupiah
Data industri menunjukkan skala ekonomi Roblox sangat besar. Pada 2025, platform ini mencatat sekitar 66,1 juta pengguna aktif harian di seluruh dunia.


Nilai transaksi atau bookings di platform tersebut mencapai sekitar USD 6,8 miliar atau setara dengan Rp114,24 triliun.
Seluruh aktivitas ekonomi di dalamnya menggunakan mata uang virtual bernama Robux. Pemain membeli Robux untuk mendapatkan item avatar, membuka fitur game, atau mengakses pengalaman tertentu.


Bagi kreator seperti Mico, Robux yang diperoleh dari penjualan item dapat ditukar menjadi uang nyata melalui program Developer Exchange (DevEx).


Model ekonomi ini membuat Roblox sering disebut sebagai salah satu contoh nyata ekonomi metaverse, di mana kreator tidak hanya bermain, tetapi juga memproduksi barang digital yang memiliki nilai jual.


Kontribusi Kreator Indonesia

Dampak ekonomi dari platform ini juga mulai terasa secara global. Data Roblox menunjukkan bahwa antara 2019 hingga 2024, aktivitas ekonomi di dalam platform tersebut menyumbang sekitar USD 8,2 juta atau sekitar Rp137,76 miliar terhadap produk domestik bruto Indonesia.


Menariknya, sekitar 37 persen pengalaman Roblox yang dibuat oleh kreator Indonesia dikonsumsi oleh pengguna internasional. Artinya, karya kreator lokal tidak hanya digunakan di dalam negeri, tetapi juga dinikmati komunitas global.


Tren ini juga diperkuat oleh perkembangan teknologi baru. Sekitar 80 persen kreator Roblox kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam alur kerja mereka, mulai dari desain hingga pengembangan konten.


Pengamat: Ekonomi Kreator Digital Akan Terus Tumbuh

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena yang dialami Mico merupakan gambaran nyata perubahan pola kerja generasi muda di era ekonomi digital.


Menurutnya, dunia virtual kini membuka peluang profesi baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.


“Generasi muda sekarang tidak lagi terpaku pada pekerjaan konvensional. Dunia digital, termasuk game seperti Roblox, sudah menjadi ruang ekonomi baru. Kreativitas bisa langsung dikonversi menjadi penghasilan,” ujar Purnomo.


Ia menilai tren ekonomi kreator akan terus berkembang selama komunitas digital tetap aktif dan teknologi terus berkembang.


Dengan semakin besarnya komunitas pemain dan kebutuhan akan identitas visual di dunia virtual, peluang bagi desainer digital seperti Mico diperkirakan akan terus terbuka.


“Di era ekonomi digital, kreativitas tidak hanya hidup di dunia nyata. Ia juga bisa dipakai, dipamerkan, dan bahkan diperjualbelikan di dunia virtual,” pungkasnya.


***
Sindonews.
Tim Redaksi.