Notification

×

Iklan

Iklan

Mengapa Wajah Penyandang Down Syndrome di Berbagai Negara Terlihat Mirip? Ini Penjelasan Psikolog

Minggu, 08 Maret 2026 | 18.14 WIB Last Updated 2026-03-08T11:58:11Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Instagram. (Penyandang Down Syndrome)



Queensha.id - Edukasi Sosial,


Sebuah foto seorang anak berseragam sekolah yang beredar di media sosial memicu perbincangan publik. Banyak warganet memperhatikan bahwa anak-anak dengan kondisi tertentu sering tampak memiliki kemiripan wajah, baik yang berasal dari Asia, Amerika, Australia, maupun wilayah lain di dunia.




Fenomena ini membuat sebagian masyarakat bertanya-tanya: mengapa wajah mereka terlihat mirip meskipun berasal dari ras dan negara yang berbeda?



Para ahli menjelaskan bahwa kemiripan tersebut bukanlah kebetulan. Kondisi yang sering dimaksud dalam perbincangan tersebut adalah Down syndrome, yaitu kelainan genetik yang terjadi karena adanya tambahan salinan kromosom ke-21 pada tubuh seseorang.

Ciri Fisik yang Secara Medis Serupa

Secara medis, tambahan kromosom tersebut memengaruhi proses perkembangan fisik dan kognitif seseorang. Akibatnya, banyak penyandang Down syndrome memiliki beberapa ciri fisik yang relatif sama di berbagai belahan dunia.



Beberapa ciri yang sering terlihat antara lain:


2. Hidung yang lebih kecil dan datar.

3. Wajah yang tampak lebih bulat.


5. Postur tubuh yang relatif lebih pendek.


Karena ciri-ciri ini berasal dari kondisi genetik yang sama, penyandang Down syndrome dari berbagai ras memang bisa terlihat memiliki kemiripan wajah.


Pandangan Psikolog

Menurut sejumlah pengamat psikologi perkembangan di Indonesia, fenomena ini perlu dipahami secara ilmiah dan juga dengan pendekatan empati.


Dalam kajian Psikologi Perkembangan, dijelaskan bahwa kondisi genetik seperti Down syndrome tidak berkaitan dengan nilai kemanusiaan seseorang. Penyandang kondisi ini tetap memiliki kemampuan untuk belajar, bersosialisasi, dan berkembang dengan dukungan yang tepat.


Para psikolog juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang lebih menghormati, seperti “penyandang disabilitas intelektual” atau “anak dengan Down syndrome”, daripada istilah yang bernada merendahkan.


Tantangan dan Harapan

Di Indonesia maupun di berbagai negara lain, penyandang Down syndrome masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stigma sosial hingga keterbatasan akses pendidikan dan layanan kesehatan.


Namun dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran publik mulai meningkat. Banyak komunitas dan organisasi yang aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penerimaan sosial dan kesempatan yang setara.


Dengan dukungan keluarga, pendidikan inklusif, serta lingkungan yang ramah, penyandang Down syndrome dapat menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna.


Karena itu, para ahli mengingatkan bahwa fokus utama bukanlah pada perbedaan fisik, melainkan pada bagaimana masyarakat memberikan ruang yang adil dan penuh penghargaan bagi setiap individu.


***
Tim Redaksi.