Notification

×

Iklan

Iklan

Strategi Investasi Ala Nabi Muhammad SAW: Dari Kejujuran Bisnis hingga Properti dan Peternakan

Minggu, 08 Maret 2026 | 21.08 WIB Last Updated 2026-03-08T14:10:59Z
Foto, karya tulis kaligrafi digital (Muhammad SAW).



Queensha.id - Edukasi Islam,


Kegiatan investasi sering dianggap sebagai praktik ekonomi modern. Namun dalam sejarah Islam, aktivitas tersebut ternyata telah dikenal sejak masa Muhammad. Selain sebagai pemimpin spiritual umat Islam, Rasulullah juga dikenal sebagai sosok pedagang yang sukses dan memiliki strategi ekonomi yang matang.


Sejumlah kajian modern menyebutkan bahwa praktik bisnis dan investasi Nabi Muhammad mengandung prinsip-prinsip yang hingga kini masih relevan dalam dunia usaha.


Modal Utama: Kepercayaan dan Kejujuran

Berdasarkan riset yang dibahas dalam buku The Rasulullah Way of Business (2021), kesuksesan bisnis Nabi Muhammad berawal dari reputasi beliau sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya.


Sifat amanah tersebut membuat banyak orang bersedia mempercayakan modal kepada beliau untuk menjalankan usaha perdagangan. Dalam praktiknya, Nabi Muhammad mengelola modal tersebut secara profesional dan transparan.


Keuntungan dari usaha tersebut kemudian dibagi kepada para pemodal menggunakan sistem bagi hasil yang kini dikenal dalam ekonomi Islam sebagai Mudharabah.


Mengembangkan Aset untuk Passive Income

Setelah menjalankan aktivitas perdagangan, Nabi Muhammad juga dikenal mengembangkan investasi untuk menghasilkan pendapatan jangka panjang atau passive income.


Salah satu bentuk investasi yang dilakukan adalah peternakan. Sejak kecil Rasulullah telah terbiasa menggembala ternak, dan keahlian tersebut terus berkembang hingga dewasa. 



Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau memiliki sejumlah hewan ternak seperti:

1. Unta.

2. Kuda.


4. Sapi.

5. Domba.


Peternakan pada masa itu menjadi aset ekonomi penting karena dapat menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.


Investasi Tanah dan Kebun

Selain beternak, Nabi Muhammad juga diketahui berinvestasi di sektor tanah dan pertanian. Salah satu praktik yang terkenal adalah pengelolaan lahan di wilayah Khaybar.


Dalam laporan yang dikutip dari platform keuangan syariah Musaffa, tanah dan kebun kurma di wilayah tersebut dikelola oleh masyarakat setempat dengan sistem kerja sama. Mereka diizinkan menggarap lahan dan kemudian membagi hasil panen sesuai kesepakatan.


Model kerja sama ini menjadi salah satu contoh awal praktik ekonomi berbasis kemitraan yang kemudian berkembang dalam sistem ekonomi Islam.


Kekayaan Bukan untuk Ditimbun

Meski memiliki aset dan kegiatan bisnis yang berkembang, Nabi Muhammad dikenal tidak menimbun kekayaan. Dalam ajaran Islam, harta dipandang memiliki hak sosial yang harus dibagikan kepada orang lain.


Rasulullah dikenal sebagai sosok yang gemar bersedekah, baik dalam bentuk uang, makanan, maupun pakaian. Prinsip ini menjadi bagian penting dari etika ekonomi dalam Islam.


Inspirasi Investasi Masa Kini

Bagi umat Islam yang ingin meneladani praktik ekonomi Nabi Muhammad, para pengamat ekonomi syariah menilai ada beberapa prinsip utama yang bisa diikuti, antara lain:

1. Membangun reputasi bisnis melalui kejujuran.

2. Menjalankan usaha dengan sistem bagi hasil yang adil.

3. Berinvestasi pada aset riil seperti tanah, properti, dan peternakan
tidak melupakan kewajiban sosial melalui sedekah.


Dengan prinsip tersebut, aktivitas investasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan materi, tetapi juga membawa manfaat sosial bagi masyarakat luas.


***
Tim Redaksi.