Foto, ilustrasi edukasi sosial. |
Queensha.id - Edukasi Sosial,
Pernikahan seringkali dianggap sebagai ikatan suci yang penuh kebahagiaan dan ketenangan. Namun, tidak sedikit rumah tangga yang tampak baik-baik saja di permukaan, ternyata menyimpan luka yang membusuk perlahan di dalam. Unggahan akun Facebook Rahma Fitri baru-baru ini mengutip pandangan seorang psikolog mengenai tiga sinyal bahaya dalam pernikahan, yang bisa menjadi alarm dini bagi pasangan suami-istri.
Ketika Rumah Tangga Pelan-pelan Sekarat
Menurut psikolog yang dikutip Rahma, pernikahan tidak selalu hancur karena badai besar seperti perselingkuhan atau kekerasan. Banyak yang justru rapuh karena luka-luka kecil yang dibiarkan terus menganga, tanpa upaya untuk menyembuhkan. Tiga tanda utama yang muncul kerap tidak disadari, namun sangat menentukan arah hubungan suami-istri.
1. Berhenti Bicara dari Hati ke Hati
Pasangan tidak lagi berbicara dari lubuk hati, melainkan hanya membahas hal-hal teknis dan rutinitas. Mulai dari urusan anak makan apa, siapa bayar listrik, hingga siapa antar-jemput sekolah. Namun pertanyaan tentang perasaan, mimpi, atau luka batin—sudah lama tidak diungkapkan. Hati pun jadi asing di antara dua orang yang tinggal serumah.
2. Lebih Nyaman Sendiri daripada Bersama
Sinyal kedua adalah ketika kehadiran pasangan justru membuat batin tertekan, bukan tenang. Ketika pergi, justru terasa lega. Saat pulang, dada sesak. Rasa rindu tergantikan oleh keinginan untuk menjauh. Ini adalah kondisi di mana rumah bukan lagi tempat pulang, tapi menjadi penjara yang mematikan emosi.
3. Pertengkaran Kecil Jadi Ledakan Besar
Perbedaan pendapat yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin justru berubah menjadi konflik hebat. Hal sepele berujung saling teriak, saling mendiamkan, bahkan saling menyakiti dengan kata-kata. Yang dibutuhkan hanyalah pengertian, namun yang didapat justru luka baru.
Solusi dalam Hukum Islam: Merawat Pernikahan adalah Ibadah
Islam memandang pernikahan sebagai bagian dari ibadah dan sunnah Rasulullah SAW. Ketika gejala-gejala seperti di atas mulai muncul, Islam mengajarkan beberapa solusi yang bisa ditempuh sebelum terlambat:
1. Muroqobah dan Muhasabah (Introspeksi Diri)
Dalam QS. Ar-Rum ayat 21, Allah menyebutkan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk mencapai sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bila ketenangan mulai hilang, maka penting bagi masing-masing pasangan untuk merenungi kembali niat awal menikah dan apa yang telah berubah.
2. Musyawarah dengan Lembut
Islam sangat menekankan pentingnya komunikasi. Rasulullah SAW pun dikenal sebagai suami yang penuh kelembutan dalam berbicara dan mendengarkan istrinya. Pasangan perlu membuka kembali ruang bicara dari hati ke hati, bukan hanya soal urusan dunia, tapi juga perasaan dan kebersamaan.
3. Melibatkan Pihak Ketiga (Hakam)
Dalam QS. An-Nisa ayat 35, Allah memerintahkan apabila terjadi perselisihan yang sulit diselesaikan, hendaknya masing-masing pihak mengangkat seorang penengah (hakam) dari keluarga untuk menjadi jembatan solusi. Penengah ini diharapkan bijak dan mampu memperbaiki hubungan, bukan memperkeruh.
4. Doa dan Ibadah Bersama
Salah satu cara mempererat hati yang mulai menjauh adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah secara bersama-sama. Sholat berjamaah, berdoa bersama, membaca Al-Qur'an, bisa menjadi sarana untuk melembutkan hati dan mengingatkan kembali akan tujuan suci pernikahan.
Jadi, pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling ingin memperbaiki. Tiga sinyal yang disebut psikolog bukanlah akhir dari segalanya, tapi bisa menjadi awal untuk berbenah. Islam tidak hanya menuntun proses akad, tetapi juga memberi petunjuk bagaimana merawat dan menyelamatkan pernikahan. Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat hati pulang dan berteduh.
Apakah kamu merasakan satu dari tiga sinyal itu? Jika iya, mungkin inilah waktunya membuka hati dan memperbaiki niat, sebelum semuanya terlambat.
***
Sumber: RF.