Foto, tangkap layar dari sebuah poster di media sosial. |
Queensha.id - Jakarta,
Sebuah poster dengan tulisan “Dipaksa humanis di negara anarkis, mengalah dan melawan sama-sama jadi masalah” mendadak viral di media sosial sejak kemarin. Unggahan itu memicu perdebatan luas lantaran dianggap merefleksikan kegelisahan aparat keamanan, khususnya polisi, dalam menjalankan tugas di tengah situasi sosial yang kian tidak stabil.
Kalimat dalam poster tersebut seolah menyoroti dilema aparat kepolisian yang di satu sisi dituntut untuk bersikap humanis dan menahan diri, namun di sisi lain harus menghadapi aksi massa yang kerap berujung ricuh dan penuh kekerasan.
“Sebenernya tidak boleh para anggota Kepolisian membuat status seperti itu. Harusnya sebagai keamanan negara bisa menahan diri, apalagi kondisi saat ini jadi perhatian kita semua,” ujar seorang pemerhati hukum di Jakarta.
Ia menegaskan, Polri perlu melakukan pengawasan internal agar anggota tidak memposting hal-hal yang dapat memantik kemarahan masyarakat. “Kapolri harus ambil tindakan. Jangan sampai hanya gara-gara status WhatsApp memicu kegelisahan masyarakat,” tambahnya.
Menurutnya, meskipun aparat menghadapi tantangan berat di lapangan, pendekatan humanis tetap harus dijaga. “Empati pada petugas boleh, tapi jangan dijadikan pembenaran untuk tindakan kekerasan. Justru profesionalisme diuji dalam situasi sulit seperti ini,” katanya.
Fenomena poster tersebut juga dinilai sebagian kalangan sebagai kritik terhadap kebijakan pimpinan dan tekanan sosial-politik yang dirasakan anggota di lapangan. Namun di sisi lain, narasi itu dikhawatirkan bisa dipakai sebagai justifikasi tindakan represif aparat.
“Pimpinan Polri harus segera klarifikasi terkait hal tersebut. Polisi harus menjaga suasana tetap kondusif, jangan buat masyarakat semakin emosi. Ini tidak menunjukkan sikap sebagai aparat negara,” ucapnya lagi.
Sementara itu, pengamat sosial asal Jepara, Purnomo, menilai poster tersebut merupakan ekspresi keresahan yang tak seharusnya dilemparkan ke ruang publik. “Kepolisian memang berada dalam tekanan, tapi setiap kalimat yang keluar dari internal institusi harus dipikirkan dampaknya. Apalagi saat ini masyarakat sangat sensitif,” jelasnya.
Purnomo menambahkan, institusi Polri justru harus memperkuat citra humanis dengan transparansi, profesionalisme, dan penegakan hukum yang adil. “Kalau sampai ada narasi seperti itu dibiarkan, yang muncul justru ketidakpercayaan masyarakat. Padahal kepercayaan publik adalah modal utama polisi,” pungkasnya.
***
Sumber: Purnomo.