Notification

×

Iklan

Iklan

Kapolri Dikritik Usai Gagal Amankan Demonstrasi, Pengamat: Wake Up Prabowo

Jumat, 29 Agustus 2025 | 13.15 WIB Last Updated 2025-08-29T06:16:18Z

Foto, ilustrasi seorang ojek online dilindas mobil Rantis Brimob/korban ojek online.

Queensha.id - Jakarta,


Gelombang kritik kembali mengarah kepada Kepolisian Republik Indonesia (Polri) usai aksi demonstrasi di Jakarta pada Kamis (28/8/2025) berakhir ricuh. Aparat kepolisian dinilai gagal menjaga keamanan dan justru dianggap menunjukkan sikap arogan terhadap massa aksi.


Sebuah pernyataan terbuka dari Purnomo, pengamat sosial asal Jepara, menyoroti keras tindakan aparat di lapangan. “Pak Kapolri jangan sakiti rakyatmu. Polri sebagai pengayom dan pelindung masyarakat seharusnya dalam melakukan tindakan hukum mengedepankan empati, bukan arogansi,” tegasnya dalam keterangan tertulis yang diterima Queensha Jepara, Jumat (29/8/2025).



Arogansi Aparat Jadi Sorotan


Menurut Purnomo, di era media sosial saat ini, perilaku aparat tidak bisa ditutupi. Setiap tindakan represif, mulai dari insiden Brimob yang melindas pengemudi ojek online hingga pemukulan demonstran, langsung tersebar luas di publik.


“Sekali salah bertindak, drama kekerasan itu bisa viral dan memicu kemarahan kolektif. Polisi kini dipandang hanya sebagai alat penguasa yang membela kepentingan politik dan ekonomi, tapi represif terhadap rakyat sendiri,” ujarnya.


Ia menilai kondisi ini memperburuk akumulasi kekecewaan masyarakat. Harga kebutuhan pokok yang melambung, pengangguran, hingga kesenjangan sosial telah membuat rakyat frustrasi. Ditambah lagi, tindakan aparat yang arogan membuat generasi muda semakin mudah terprovokasi untuk turun ke jalan.



Generasi Muda Jadi Motor Aksi


Fenomena demonstrasi belakangan ini, kata Purnomo, didominasi generasi muda yang sensitif terhadap isu sosial. Mereka menolak ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, hingga gaya hidup elite politik yang mewah dan jauh dari realitas rakyat.


“Anak muda sudah muak dengan manipulasi politik dan arogansi penguasa. Mereka tidak butuh tokoh penanggung jawab, demo mereka berjalan spontan karena lahir dari rasa geram dan frustrasi,” jelasnya.



Tanggung Jawab Kapolri dan Presiden


Purnomo menilai Kapolri Listyo Sigit Prabowo gagal meredam eskalasi kekerasan saat demonstrasi. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto harus mengambil langkah tegas agar situasi tidak semakin memburuk.


“Prabowo jangan sampai memberi statemen yang terkesan meremehkan kemarahan rakyat. Jangan terlena dengan laporan yang indah-indah. Jika tidak ada ketegasan, situasi ini bisa membesar dan mengarah ke istana,” tegasnya.


Ia menekankan, penggantian Kapolri bisa menjadi pilihan politik yang penting. “Kapolri harus diganti, karena ia bertanggung jawab atas anak buahnya. Kalau Prabowo tidak berani bertindak, bukan tidak mungkin kemarahan rakyat justru berbalik kepada dirinya sendiri,” tambahnya.



Situasi yang Rawan Memanas


Purnomo mengibaratkan kondisi saat ini seperti “daun kering yang siap terbakar.” Akumulasi kekecewaan ekonomi, politik, dan sosial, ditambah tindakan represif aparat, bisa memicu demonstrasi lebih besar dan sulit dikendalikan.


“Wake up Prabowo. Jangan biarkan api kecil membesar jadi kobaran yang melahap segalanya,” pungkasnya.


***

Sumber: Purnomo.

×
Berita Terbaru Update