Notification

×

Iklan

Iklan

Dendang Badaur, Irama Rakyat Jepara yang Tak Lekang oleh Zaman

Senin, 03 November 2025 | 08.38 WIB Last Updated 2025-11-03T01:39:16Z

Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook Suara Jepara.

Queensha.id - Jepara,


Di tengah gempuran musik modern yang serba digital, Jepara masih punya satu genre musik tradisional yang tak tergantikan: Dendang Badaur. Musik ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi telah menjadi denyut nadi kehidupan sosial warga di “Kota Ukir”.


Dikutip dari unggahan akun Facebook Suara Jepara, Dendang Badaur terus bertahan di tengah derasnya arus modernisasi dan tetap menjadi primadona di berbagai hajatan masyarakat, mulai dari pernikahan, khitanan, hingga perayaan desa.



Irama Riang di Tengah Hajatan Rakyat


Istilah Badaur sendiri merujuk pada jenis hiburan musik yang dimainkan secara langsung oleh grup orkes lokal, biasanya diiringi penyanyi daerah yang tampil penuh ekspresi. Dengan irama riang, lirik-lirik jenaka, dan interaksi hangat dengan penonton, Dendang Badaur selalu sukses menciptakan suasana pesta yang hidup dan akrab.


“Setiap ada hajatan di desa kami, rasanya kurang lengkap kalau tidak ada Badaur. Irama dan liriknya itu sudah mendarah daging, membawa suasana khas Jepara,” ujar Slamet (45), warga Desa Mayong, Jepara.


Penampilan Badaur sering kali diselingi dengan balas pantun antara penyanyi dan penonton, menghadirkan keakraban khas masyarakat pesisir Jepara yang penuh tawa dan spontanitas. Musik ini bukan sekadar bunyi, melainkan ruang sosial tempat warga bersatu, mengekspresikan kegembiraan bersama.



Badaur: Identitas Budaya yang Hidup


Pada masa lalu, Dendang Badaur adalah ikon utama setiap hajatan rakyat. Sebelum dangdut koplo dan electone modern mengambil alih panggung hiburan desa, musik ini menjadi simbol perayaan dan kebersamaan. Meski kini banyak pesaing dari genre populer, Badaur masih punya tempat istimewa di hati warga Jepara.


Di banyak desa, terutama di kawasan Kedung, Keling, dan Mlonggo, grup orkes Badaur masih aktif tampil dari panggung ke panggung. Alunan kendang, suling, dan organ sederhana berpadu dengan vokal penyanyi yang khas, menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus kebanggaan lokal.



Adaptasi di Era Digital


Daya tarik Badaur kini justru makin berkembang berkat media sosial. Banyak penampilan Badaur yang viral di platform seperti YouTube dan Facebook, menampilkan penyanyi-penyanyi lokal dengan gaya panggung energik dan penuh interaksi.


Beberapa grup orkes muda mulai bereksperimen dengan aransemen campuran untuk memadukan alat musik tradisional dengan beat modern tanpa menghilangkan jati dirinya. Langkah ini menjadi bukti bahwa Badaur tak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi.


“Anak muda sekarang mulai suka lagi. Mereka upload video, bikin remix versi Badaur. Ini bagus buat regenerasi,” ungkap seorang pengamat seni lokal, Wahyu Hartono, yang juga aktif mengarsipkan musik-musik tradisi Jepara.



Warisan yang Terus Berdendang


Lebih dari sekadar musik, Dendang Badaur adalah warisan jiwa masyarakat Jepara tentang kebersamaan, humor, dan kegembiraan sederhana. Ia lahir dari rakyat dan tetap hidup bersama rakyat, melintasi waktu dan teknologi.


Selama masih ada panggung di tengah hajatan, selama tawa masih menggema di antara pantun-pantun, Badaur akan terus berdendang hingga menjaga Jepara tetap bernyanyi dalam irama tradisinya sendiri.


***

Penulis: Tim Redaksi Queensha Jepara
Editor: Vico Rahman.
Jepara, 3 November 2025