Queensha.id - Jepara,
Upaya penanganan bencana longsor di jalur Desa Damarwulan–Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, terus dikebut. Meski dihadapkan pada kendala teknis dan cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat, aparat gabungan bersama relawan memastikan penanganan darurat tetap berjalan mulai Sabtu (10/1/2026) pagi.
Salah satu tantangan utama datang dari alat berat PC 75 yang sangat dibutuhkan untuk membuka akses jalan. Hingga Jumat malam pukul 00.35 WIB, alat berat tersebut terpaksa berhenti di Desa Watuaji akibat masalah pada truk towing. Saat ini, tim masih mengupayakan kendaraan towing tambahan agar alat berat bisa segera dinaikkan dan digerakkan menuju Lokasi Longsor I di Dukuh Kajang, Desa Damarwulan.
Di sisi lain, BPBD Kabupaten Jepara telah mendirikan dapur umum di rumah Mustari, Ketua RT 09/04 Desa Damarwulan, tepat di depan Wihara Kajang. Dapur umum ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi petugas dan relawan yang terlibat langsung di lapangan.
Untuk mendukung operasi, tiga unit kendaraan taktis telah disiagakan dengan perlengkapan lengkap, mulai dari empat unit mesin alkon, dua genset, dua unit chainsaw (ditambah satu milik kecamatan), serta enam unit cangkul yang masih akan bertambah jika relawan Destana bergabung penuh.
Dari sisi personel, penanganan longsor melibatkan lintas sektor. Personel inti terdiri dari BPBD (4 orang), Polsek (5 orang), Koramil (5 orang), Kecamatan (3 orang), PMI (2 orang sementara), Tagana (2 orang), serta relawan dari berbagai unsur seperti Khitmat, IOF, Ubaloka, Donking, Destana, dan relawan independen lainnya, dengan total sekitar 20 orang. PLN Area Bangsri juga turut mendampingi guna mempercepat pemulihan aliran listrik menuju Desa Tempur.
Rencana giat dimulai pukul 07.00 WIB, diawali dengan sarapan dan briefing bersama. Tim kemudian bergerak ke lokasi longsor dengan fokus utama membersihkan material di Lokasi I, sebelum perlahan membuka akses menuju wilayah Desa Tempur.
Koordinasi intensif tetap dilakukan dengan Pemerintah Desa dan Relawan Destana Tempur untuk menghitung dampak longsor, memetakan potensi bahaya susulan, serta memperbarui kebutuhan mendesak di lapangan. Keselamatan warga dan petugas menjadi prioritas utama, mengingat kondisi cuaca masih berpotensi memicu longsor lanjutan.
“Kami sadar medan sangat berat dan cuaca belum sepenuhnya aman. Tapi akses ini adalah urat nadi warga Tempur. Selama masih memungkinkan dan aman, kami akan tetap bergerak. Prioritas kami satu, meminimalkan korban ya baik jiwa maupun kerugian lain dan membuka kembali jalur agar aktivitas warga bisa pulih,” ujar salah satu relawan Destana di lokasi persiapan.
Hingga Sabtu pagi, status kewaspadaan masih diberlakukan. Seluruh pihak diimbau tetap berhati-hati dan mengikuti arahan petugas demi menghindari risiko yang lebih besar.
***
Tim Redaksi.