Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Mudah Tersinggung, Hati Kuat Ternyata Bisa Dilatih

Jumat, 28 November 2025 | 07.34 WIB Last Updated 2025-11-28T00:35:12Z

Foto, ilustrasi. (Tersinggung dan sakit hati)

Queensha.id - Edukasi Sosial,


Di tengah dinamika sosial yang serba cepat, banyak orang semakin sensitif menghadapi ucapan maupun perilaku orang lain. Sedikit kritik dianggap hinaan, gurauan dianggap serangan, dan perbedaan pendapat langsung memicu konflik. Padahal, menurut para ahli agama dan pengamat sosial, kemampuan untuk tidak mudah tersinggung bukanlah bakat alami—melainkan keterampilan emosional yang bisa dilatih.


Fenomena hati yang rapuh ini kini menjadi masalah sosial tersendiri, karena membuat hubungan antarwarga mudah retak hanya karena hal-hal sepele.



Menurut Pandangan Islam: Menguatkan Hati Adalah Bagian dari Iman


Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi merupakan tanda kedewasaan spiritual. Nabi Muhammad SAW menegaskan:


“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu menahan amarah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa orang beriman adalah mereka yang menahan marah dan memaafkan (QS. Ali Imran: 134). Artinya, Islam tidak hanya mengatur ibadah lahiriah, tetapi juga kekuatan batin.


Bagi Islam, hati yang mudah tersinggung menandakan:


  • kurangnya lapang dada,
  • ego yang belum terkendali,
  • dan sedikitnya latihan kesabaran.


Karena itu, menguatkan hati bukan sekadar urusan psikologi, tetapi juga bagian penting dari ibadah sosial.



Menurut Ulama Terkemuka Indonesia: Jangan Jadi Gelas Kecil yang Mudah Meluap


Para ulama besar di pesantren-pesantren Indonesia sering mengibaratkan manusia yang mudah tersinggung seperti gelas kecil: sedikit saja air masalah yang masuk, langsung tumpah.


Seorang kiai karismatik di Jawa Tengah mengatakan:


“Hati itu harus diperluas. Kalau sempit, sedikit kata saja bisa menyakitkan," tuturnya dari berbagai sumber.


Para ulama menekankan empat poin penting:


  1. Luasnya hati menentukan kualitas hubungan sosial seseorang.
  2. Orang dewasa bukan yang banyak bicara, tetapi yang mampu menahan diri.
  3. Setiap manusia punya kekurangan, sehingga wajar jika kadang salah ucap.
  4. Mudah tersinggung sering kali lebih merugikan diri sendiri daripada orang lain.


Menurut ulama, semakin sering seseorang melatih diri untuk bersabar, semakin kuat pula benteng emosinya.



Menurut Pengamat Sosial Jepara, Purnomo Wardoyo: Masyarakat Mengalami Krisis Ketahanan Emosi


Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa meningkatnya sensitivitas masyarakat disebabkan oleh tekanan psikologis dan sosial yang semakin berat.


Menurut Purnomo, ada beberapa akar masalah:


  • Tekanan ekonomi dan rutinitas membuat orang mudah lelah dan cepat marah.
  • Interaksi digital membuat orang salah memahami konteks dan niat.
  • Budaya serba cepat membuat masyarakat kurang sabar.
  • Ego sosial meningkat, sehingga orang menuntut perlakuan sempurna dari lingkungan.


Ia mengatakan:


“Mudah tersinggung membuat masyarakat kehilangan kemampuan berdiskusi. Sedikit-sedikit salah paham, sedikit-sedikit konflik, " jelasnya.


Menurutnya, daerah seperti Jepara sebenarnya memiliki tradisi tepo seliro yang kuat, namun kini mulai terkikis oleh pola hidup modern.



Solusinya: Latih Hati Agar Lebih Kuat, Bukan Lebih Rapuh


Beberapa langkah sederhana dapat membantu seseorang menjadi lebih tegar dalam menjalani hubungan sosial:



1. Hitung sampai 10 sebelum bereaksi


Ini memberi waktu bagi otak untuk menurunkan emosi.



2. Berbaik sangka


Tidak semua ucapan adalah serangan. Kadang hanya salah ucap atau nada.



3. Perkuat ibadah dan dzikir


Ketenteraman hati menurunkan sensitivitas berlebihan.



4. Turunkan ego, naikkan empati


Semakin besar ego seseorang, semakin mudah ia merasa diserang.



5. Belajar komunikasi yang dewasa


Jika tersinggung, sampaikan baik-baik, bukan memendam atau meledak.



6. Jangan berharap semua orang memahami dirimu


Harapan yang tidak realistis membuat seseorang rentan tersinggung.



7. Fokus pada hal penting saja


Tidak semua komentar perlu dijadikan masalah.


Mengolah hati agar tidak mudah tersinggung memang membutuhkan waktu, tetapi hasilnya adalah kehidupan yang lebih tenang, hubungan yang lebih sehat, dan jiwa yang jauh lebih matang.


***

Tim Redaksi.