Notification

×

Iklan

Iklan

AI di Ruang Redaksi: Ancaman Profesi Jurnalis atau Sekadar Alat Bantu?

Selasa, 20 Januari 2026 | 06.52 WIB Last Updated 2026-01-19T23:54:24Z
Foto, dikutip dari unggahan portal media RRI. (Ilustrasi AI)


Queensha.id - Opini Publik,


Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian terasa dampaknya di berbagai sektor, termasuk industri media. Memasuki awal tahun, pemanfaatan AI kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya penggunaannya dalam proses produksi hingga distribusi informasi.


Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah AI akan menjadi ancaman bagi profesi jurnalis, atau justru mitra yang memperkuat kerja jurnalistik?


Hingga saat ini, pemanfaatan AI di dunia media masih difokuskan sebagai alat pendukung, bukan pengganti jurnalis.


Teknologi ini banyak digunakan untuk membantu transkripsi wawancara, pengolahan data, penyusunan ringkasan informasi, hingga pengelolaan konten digital. Kehadiran AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja redaksi, terutama dalam mengolah informasi dalam jumlah besar dan waktu singkat.


Namun, keputusan editorial, verifikasi fakta, serta proses peliputan lapangan tetap berada di tangan manusia. AI belum dan tidak dirancang untuk menggantikan intuisi, empati, dan tanggung jawab moral yang melekat pada profesi jurnalis.


Di tingkat global, UNESCO melalui dokumen Guidance on AI and Journalism menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam media harus berlandaskan prinsip transparansi, akurasi, dan akuntabilitas kepada publik. AI boleh digunakan untuk membantu kerja jurnalistik, tetapi tidak boleh mengambil alih fungsi editorial yang berkaitan langsung dengan etika, nilai kemanusiaan, dan kepentingan masyarakat.


Pandangan serupa juga disampaikan oleh para pengembang teknologi dunia. Melalui situs resmi OpenAI, Google AI, dan IBM AI, ditegaskan bahwa sistem kecerdasan buatan dirancang untuk mendukung pekerjaan manusia berbasis data. AI bekerja berdasarkan algoritma dan kumpulan informasi yang tersedia, tanpa kemampuan memahami konteks moral, sosial, maupun dampak jangka panjang dari sebuah pemberitaan.


Meski menawarkan berbagai kemudahan, penggunaan AI di media tetap memerlukan kehati-hatian. Teknologi ini memiliki keterbatasan, mulai dari potensi kesalahan informasi, bias data, hingga risiko penyajian konten yang tidak utuh secara konteks. Karena itu, setiap hasil kerja AI harus melalui proses pemeriksaan, penyuntingan, dan verifikasi ketat oleh jurnalis sebelum dipublikasikan.


Dalam konteks media penyiaran dan platform digital, AI dinilai dapat menjadi mitra strategis untuk meningkatkan efisiensi produksi serta memperluas jangkauan informasi. Namun, transparansi kepada publik tetap menjadi keharusan, termasuk memberikan penjelasan apabila sebuah konten diproduksi dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan.


Pada akhirnya, AI bukanlah pengganti jurnalis. Ia hanyalah alat. Masa depan media tetap bertumpu pada integritas, nurani, dan tanggung jawab manusia di baliknya. Kolaborasi antara teknologi dan jurnalis dengan etika dan kepentingan publik sebagai pijakan utama untuk menjadi kunci untuk menjaga kualitas dan kepercayaan informasi di era digital.


***
Sumber: RRI.
Tim Redaksi.