| Foto, ilustrasi seorang muslim yang sholat dengan gerakan (sujud). |
Setan tidak gentar pada ibadah yang sekadar tampak di permukaan. Ia tidak takut pada lantunan doa yang keras namun kosong dari penghambaan. Namun ada satu ibadah yang benar-benar membuatnya tersungkur, terbakar, dan putus asa: sujud yang tulus.
Bukan karena sujud itu panjang atau berat secara fisik, melainkan karena sujud memutus akar kekuasaan setan atas manusia—kesombongan.
Sujud yang Membuat Setan Menangis
Rasulullah SAW menggambarkan betapa dibencinya sujud oleh setan. Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan bahwa ketika manusia bersujud setelah membaca ayat sajdah, setan menjauh sambil menangis dan mengakui kekalahannya. Ia ingat satu dosa yang tak pernah terampuni yaitu menolak sujud kepada Adam karena kesombongan.
Di titik inilah sujud menjadi ibadah paling memukul setan. Sebab, sujud adalah simbol kehinaan total manusia di hadapan Allah, sesuatu yang tidak pernah sanggup dilakukan iblis.
Pandangan Ulama Indonesia: Sujud adalah Inti Kehambaan
Ulama kharismatik Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), menjelaskan bahwa sujud bukan sekadar bagian dari shalat, melainkan puncak tauhid. Menurutnya, sujud adalah momen ketika manusia “mengaku kalah” di hadapan Allah. Dan pengakuan kalah itulah yang menghancurkan setan.
“Sujud itu membuat iblis frustasi, karena iblis binasa bukan karena kurang ibadah, tapi karena sombong,” tutur Gus Baha dalam salah satu pengajiannya.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Quraish Shihab menekankan bahwa sujud adalah bahasa non-verbal paling jujur dalam ibadah. Ketika dahi (bagian paling mulia) menyentuh tanah, manusia sedang mendeklarasikan bahwa tidak ada yang pantas diagungkan selain Allah. Di situlah nilai spiritual sujud melampaui sekadar gerakan.
Sujud Panjang di Waktu Sunyi
Setan masih mampu mengganggu shalat yang tergesa-gesa. Namun ia melemah di hadapan sujud yang lama, hening, dan dilakukan dalam kesunyian yang terutama di sepertiga malam. Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud.
Ulama Muhammadiyah, Prof. Dr. Yunahar Ilyas (alm.), pernah menjelaskan bahwa sujud yang khusyuk adalah bentuk doa paling dalam, karena ia lahir dari kesadaran penuh akan kelemahan diri. Di saat itulah, menurut para ulama, doa lebih jujur dan bisikan setan paling rapuh.
Air Mata yang Mematahkan Tipu Daya
Setan bisa menahan langkah seseorang ke masjid, namun ia tak berdaya menghadapi air mata taubat yang jatuh dalam sujud. Al-Qur’an menggambarkan hamba-hamba pilihan Allah sebagai mereka yang menyungkurkan wajah sambil menangis dan bertambah khusyuk.
Tangisan dalam sujud bukan kelemahan, melainkan kekuatan ruhani. Ia adalah pengakuan dosa yang jujur yang merupakan sesuatu paling dibenci setan karena membuka pintu ampunan Allah.
Shalat sebagai Benteng Terakhir
Shalat yang dijaga tepat waktu menjadi tembok kokoh yang sulit ditembus setan. Adzan membuatnya lari, dan shalat yang khusyuk memutus aksesnya ke hati manusia. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Ulama sepakat, bukan banyaknya wacana agama yang ditakuti setan, melainkan konsistensi ibadah yang diam-diam namun kokoh.
Renungan untuk Zaman Kini
Setan tidak takut pada orang yang fasih berbicara tentang agama. Ia takut pada mereka yang menjaga shalat, memperpanjang sujud, merendahkan diri di hadapan Allah, dan menangis karena dosa-dosanya.
Jika ingin tahu apakah setan membencimu atau justru nyaman denganmu, para ulama menyarankan satu ukuran sederhana yaitu lihat hubunganmu dengan sujud. Semakin dalam sujudmu, semakin jauh setan darimu.
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata.”
***
Tim Redaksi.