Hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita kerap memantik kegelisahan, bahkan kesalahpahaman. Padahal, para ulama menegaskan bahwa pernyataan Nabi bukanlah bentuk kebencian atau pelecehan terhadap perempuan, melainkan peringatan penuh kasih agar umat (khususnya wanita) selamat dari kebinasaan akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku diperlihatkan neraka, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.”
Ketika para sahabat dan wanita bertanya dengan adab, Rasulullah ﷺ menjawab secara jujur, bukan untuk menjatuhkan martabat, tetapi untuk menyelamatkan.
Penjelasan Ulama: Ini Soal Perilaku, Bukan Kodrat
Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa hadis tersebut tidak boleh dipahami secara literal dan terpisah dari konteks moralnya. Menurutnya, Rasulullah sedang menjelaskan realitas sosial dan kecenderungan perilaku, bukan menetapkan takdir biologis.
“Hadis ini bicara tentang sebab, bukan vonis. Siapa pun (laki-laki atau perempuan) jika melakukan sebab yang sama, maka konsekuensinya sama,” jelas Quraish Shihab dalam kajian tafsir tematiknya.
Kufur Nikmat dan Lisan yang Tak Dijaga
Ulama sepakat bahwa penyebab utama yang disebut Rasulullah SAW adalah kufur nikmat, khususnya dalam relasi rumah tangga, serta kelalaian menjaga lisan.
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan bahwa kufur nikmat bukan berarti kafir, melainkan gagal mensyukuri kebaikan yang sudah nyata.
“Sering kali dosa besar bukan karena maksiat besar, tapi karena merasa kebaikan orang lain itu kecil,” ujar Gus Baha.
Ia menekankan bahwa lisan yang mudah menghapus kebaikan bertahun-tahun adalah perkara serius di sisi Allah.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Qaf ayat 18, bahwa setiap ucapan sekecil apa pun dicatat dan akan dipertanggungjawabkan.
Kekuatan Pengaruh Wanita
Buya Yahya menyoroti satu poin penting: pengaruh besar wanita dalam kehidupan. Rasulullah ﷺ menyebut wanita sebagai fitnah terbesar bagi laki-laki bukan dalam makna negatif semata, melainkan karena daya pengaruhnya yang luar biasa.
“Wanita bisa menjadi sebab seorang lelaki masuk surga, atau sebaliknya. Maka semakin besar pengaruh, semakin besar pula tanggung jawab,” terang Buya Yahya dalam salah satu ceramahnya.
Dengan kata lain, hadis tersebut justru mengakui posisi strategis wanita dalam membentuk moral, keluarga, bahkan masyarakat.
Kabar Gembira yang Sering Terlupakan
Para ulama mengingatkan bahwa Islam tidak berhenti pada peringatan. Rasulullah SAW juga memberikan kabar gembira yang luar biasa bagi wanita.
Hadis tentang wanita yang menjaga shalat, puasa, kehormatan, dan ketaatan kepada suami hingga dipersilakan masuk surga dari pintu mana saja, menunjukkan bahwa jalan wanita menuju surga sangat terbuka dan jelas.
KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyebut bahwa wanita memiliki potensi pahala yang sangat besar karena peran sabar, pengorbanan, dan keikhlasan yang sering tak terlihat.
“Wanita cepat lelah, tapi juga cepat dilipatgandakan pahalanya jika ikhlas,” ujarnya.
Peringatan yang Berangkat dari Cinta
QS. At-Taubah ayat 128 menegaskan bahwa Rasulullah SAW sangat menginginkan keselamatan umatnya. Karena itulah peringatan ini disampaikan—sebagai lampu merah sebelum jurang, bukan vonis tanpa harapan.
Kesimpulan para ulama jelas yaitu,
1. Hadis tentang wanita dan neraka bukan untuk menakut-nakuti secara buta, melainkan untuk membangunkan kesadaran.
2. Wanita bukan diciptakan untuk neraka, melainkan dimuliakan dengan hati yang lembut, doa yang mustajab, dan peluang surga yang luas.
3. Yang memberatkan hanyalah ketika nikmat diingkari, lisan dibiarkan, dan amanah disepelekan.
Semoga peringatan ini menjadi jalan keselamatan khususnya bagi wanita dan laki-laki agar kelak termasuk golongan yang Allah panggil dengan penuh kasih:
“Masuklah ke dalam surga-Ku.”
***
Tim Redaksi.