Notification

×

Iklan

Iklan

Cuaca Ekstrem Tak Juga Berhenti Meski Dimodifikasi, Ini Penjelasan BMKG Soal Lereng Muria yang Terus Basah

Senin, 19 Januari 2026 | 08.52 WIB Last Updated 2026-01-19T01:53:48Z
Foto, pesawat BNPB seri PS - SMP yang digunakan untuk memodifikasi cuaca ekstrem di wilayah kaki gunung Muria.




“Wis dimodifikasi kok iseh udan wae?” Pertanyaan bernada heran itu belakangan kerap terdengar dari warga Jepara, khususnya mereka yang bermukim di kawasan kaki Gunung Muria. Di tengah kabar pemerintah menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menekan hujan ekstrem, kenyataan di lapangan justru sebaliknya yaitu hujan deras dari cuaca ekstrem masih sering mengguyur wilayah ini.


Menanggapi kebingungan masyarakat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya angkat bicara. Lembaga ini menegaskan bahwa TMC bukanlah teknologi “penghilang hujan”, apalagi alat ajaib yang bisa mengendalikan cuaca sepenuhnya.


TMC Bukan Menghapus Hujan, Tapi Mengatur Waktu dan Lokasi

BMKG menjelaskan, prinsip kerja Teknologi Modifikasi Cuaca lebih tepat disebut menggeser hujan, bukan menghilangkannya. Awan-awan hujan diarahkan agar lebih dulu menjatuhkan airnya di laut, sebelum mencapai daratan yang rawan banjir atau longsor.


Namun, pendekatan ini memiliki batas. “Alam tidak bekerja satu sumber saja,” jelas BMKG. Ketika satu awan dijatuhkan, awan baru bisa terbentuk dengan cepat, terutama di wilayah dengan kondisi geografis dan kelembapan tinggi seperti Lereng Muria.


Mengapa Lereng Muria Tetap Diguyur Hujan?



BMKG memaparkan setidaknya tiga faktor utama yang membuat wilayah Muria tetap basah meski TMC diterapkan:


Pertama, efek pegunungan. Gunung Muria yang menjulang tinggi menjadi penghalang alami aliran angin lembap. Saat angin yang membawa uap air menabrak lereng gunung, udara terdorong naik, mendingin, lalu berubah menjadi hujan. Fenomena ini dikenal sebagai hujan orografis, dan sangat sulit dicegah oleh teknologi penyemaian awan.


Kedua, awan baru tumbuh sangat cepat. Suhu permukaan Laut Jawa yang hangat menyebabkan penguapan tinggi. Artinya, stok awan hujan terus “diproduksi” oleh alam, meski sebagian sudah dijatuhkan lebih dulu di laut.


Ketiga, TMC bukan pawang cuaca. BMKG menekankan bahwa tujuan utama modifikasi cuaca adalah mengurangi intensitas hujan ekstrem, bukan menciptakan langit cerah tanpa henti. Selama musim hujan masih berlangsung, hujan tetap akan turun dan yang diharapkan tidak terlalu ekstrem.


Warga Diminta Tetap Waspada

BMKG mengingatkan masyarakat di wilayah rawan seperti Mayong, Keling, Donorojo, dan kawasan lereng Muria lainnya untuk tidak lengah. Meski operasi TMC terus dilakukan di wilayah Jawa Tengah, faktor alam di sekitar pegunungan tetap memiliki peran dominan.


Imbauan pun disampaikan secara sederhana namun tegas yaitu tetap sedia payung, pantau kondisi sungai, dan waspadai potensi longsor, terutama jika hujan turun lebih dari dua jam tanpa henti.


Fenomena ini menjadi pengingat bahwa teknologi modern memang membantu manusia mengurangi risiko bencana, tetapi alam tetap memiliki hukum dan kuasanya sendiri yang tidak bisa sepenuhnya ditundukkan.


***
Sumber: SJ.
Tim Redaksi.