Queensha.id — Edukasi Islam,
Al-Qur’an tidak sekadar menyampaikan kisah masa lalu. Ia hadir sebagai cermin, peringatan, dan penguji nurani manusia lintas zaman. Salah satu kisah paling keras sekaligus menggetarkan adalah tentang sebuah kaum yang dikutuk menjadi kera, bukan karena kebodohan, melainkan karena kecerdikan yang digunakan untuk melanggar perintah Allah.
Mereka bukan kaum tanpa ilmu. Mereka mengetahui syariat. Mereka paham batas halal dan haram. Namun justru di situlah letak kehancurannya: ilmu tidak melahirkan ketundukan, melainkan tipu daya.
Larangan yang Diremehkan, Ujian yang Diabaikan
Allah SWT melarang kaum tersebut menangkap ikan pada hari Sabtu. Larangan ini bukan soal ikan, melainkan soal ketaatan. Justru pada hari itulah ikan muncul berlimpah, sementara di hari lain nyaris tak terlihat.
Allah berfirman:
“Dan tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu…” (QS. Al-A‘raf: 163)
Menurut para mufasir, ujian ini bersifat terang dan jelas. Tidak ada wilayah abu-abu. Namun sebagian kaum itu memilih mengakali hukum, bukan menaati substansinya.
Ketika Akal Digunakan untuk Menipu Tuhan
Mereka tidak menangkap ikan secara langsung di hari Sabtu. Sebagai gantinya, mereka memasang perangkap dan mengambil hasilnya keesokan hari. Secara lahiriah tampak patuh, namun secara batin melanggar dengan sadar.
BMKG bisa keliru memprediksi cuaca. Manusia bisa salah menilai sesama. Tetapi Allah tidak bisa ditipu.
Allah berfirman:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan… Kami timpakan kepada orang-orang zalim itu siksa yang keras.” (QS. Al-A‘raf: 165)
Tiga Golongan, Satu Keputusan Ilahi
Dalam kisah ini, Al-Qur’an mencatat adanya tiga kelompok yaitu mereka yang melanggar, mereka yang menasihati, dan mereka yang memilih diam. Menurut para ulama, diam terhadap kemungkaran bukan sikap netral, melainkan posisi berbahaya ketika kezaliman sudah terang.
Ketika nasihat dianggap remeh dan maksiat dianggap wajar, keputusan Allah pun turun.
“Jadilah kamu kera yang hina!” (QS. Al-A‘raf: 166)
Kutukan yang Lebih dari Sekadar Fisik
Para ulama menegaskan, perubahan menjadi kera bukan sekadar perubahan rupa, tetapi kehinaan total. Akal masih ada, kesadaran masih hidup, namun tidak ada jalan kembali. Sebuah azab yang menyiksa lahir dan batin.
Menurut penjelasan ulama tafsir di Indonesia seperti yang banyak diajarkan di lingkungan NU dan Muhammadiyah, kisah ini bukan dongeng biologis, melainkan peringatan moral dan spiritual. Mereka tidak berkembang biak sebagai kera, tetapi dijadikan tanda keras bagi generasi setelahnya.
Peringatan untuk Umat Akhir Zaman
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa di akhir zaman, azab serupa bisa terjadi baik secara fisik maupun maknawi dan ketika umat menghalalkan yang haram dan menormalisasi dosa.
Para ulama Indonesia menekankan: yang paling berbahaya hari ini bukan perubahan rupa, tetapi perubahan hati. Ketika dosa terasa biasa, nasihat dianggap kuno, dan agama hanya dijadikan simbol, maka hakikat “kutukan” sudah mulai bekerja.
Cermin untuk Kehidupan Hari Ini
Kisah kaum Sabtu bukan sekadar sejarah Bani Israil. Ia hidup kembali setiap kali:
Maksiat dicari celah hukumnya
Larangan Allah dipelintir maknanya
Dosa diberi dalih intelektual
Nasihat dianggap mengganggu kebebasan
Allah berfirman:
“Dan tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. Hud: 101)
Allah tidak mengazab karena benci, melainkan karena peringatan diabaikan secara sadar. Kisah kaum yang dikutuk menjadi kera adalah peringatan keras bagi umat berakal, agar tidak menggunakan kecerdasan untuk membenarkan dosa.
Semoga kita dijauhkan dari kecerdikan dalam maksiat, dan didekatkan pada kejujuran dalam ketaatan.
Aamiin.
***
Tim Redaksi.