Notification

×

Iklan

Iklan

Di Balik Mangkirnya Gus Yaqut: Dugaan Perintah Jokowi dan 24 Hari “Pengasingan” di Prancis

Jumat, 16 Januari 2026 | 21.45 WIB Last Updated 2026-01-16T14:46:19Z
Foto, mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas.



Queensha.id — Jakarta,


Kasus dugaan korupsi kuota haji 2024 terus membuka lapisan baru yang tak sekadar menyeret nama mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, tetapi juga menyinggung dinamika kekuasaan di lingkar elite pemerintahan saat itu. Cerita yang lama terkubur kini kembali mencuat, memantik pertanyaan serius tentang transparansi dan akuntabilitas tata kelola haji Indonesia.


Fakta-fakta tersebut diungkap Islah Bahrawi, teman dekat Yaqut Cholil Qoumas, dalam tayangan Akbar Faizal Uncensored. Islah membeberkan kisah di balik absennya Gus Yaqut dari Panitia Khusus (Pansus) Haji DPR RI pada 2024 dari absensi yang sejak awal menuai kecurigaan publik.


Kuota Haji dan Jalur Langsung Presiden

Menurut Islah, polemik bermula dari tambahan kuota haji Indonesia sebanyak 20.000 jemaah pada 2024. Tambahan kuota yang kini diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu disebut bukan hasil lobi Menteri Agama, melainkan buah komunikasi langsung Presiden Joko Widodo dengan pemerintah Arab Saudi.


Islah mengungkapkan, Presiden Jokowi secara personal menghadap Raja Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) untuk membahas panjangnya antrean haji Indonesia. Dalam pertemuan krusial tersebut, Jokowi hanya didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo serta Menteri BUMN Erick Thohir. Nama Yaqut Cholil Qoumas justru tidak tercatat dalam rombongan.


Nama Dito Ariotedjo kemudian ikut menjadi sorotan, lantaran ia diketahui merupakan menantu Fuad Hasan Masyhur, pemilik biro perjalanan haji dan umrah Maktour yang kini dicekal ke luar negeri dalam perkara dugaan korupsi kuota haji.


Pansus Haji dan Keputusan Mangkir

Ketika DPR RI membentuk Pansus Haji untuk menyelidiki pembagian kuota 50:50 yang kontroversial, publik menunggu kehadiran Menteri Agama sebagai pihak kunci. Namun, Gus Yaqut berulang kali mangkir.


Islah mengaku sempat mendatangi langsung Gus Yaqut dan menyarankan agar ia hadir ke DPR. “Kenapa tidak datang saja ke Pansus dan menjelaskan semuanya?” ujar Islah, menirukan percakapannya saat itu. 


Baginya, Pansus justru menjadi ruang paling terbuka bagi Yaqut untuk meluruskan persoalan.
Jawaban Yaqut, menurut Islah, justru membuka tabir baru.


Penugasan” ke Prancis dan Dugaan Buying Time

Bersamaan dengan pembentukan Pansus Haji, Indonesia menerima undangan konferensi perdamaian dunia di Prancis yang dibuka Presiden Emmanuel Macron. Undangan tersebut awalnya ditujukan kepada Presiden Jokowi. Jokowi sempat menunjuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai perwakilan, namun keputusan itu mendadak berubah.
Surat penugasan baru diterbitkan. Mandat tersebut dialihkan kepada Yaqut Cholil Qoumas.


Menurut Islah, penugasan itu bukan sekadar diplomasi biasa. Ia menyebut keputusan tersebut merupakan perintah langsung Presiden Jokowi agar Yaqut tidak menghadiri Pansus Haji DPR RI. “Itu perintah Presiden Jokowi,” tegas Islah dalam podcast tersebut.


Yang kian memicu tanda tanya, acara di Prancis hanya berlangsung dua hingga tiga hari. Namun, Yaqut justru berada di Eropa selama total 24 hari. Islah menyebut Gus Yaqut diminta tetap tinggal untuk “buying time”, menunggu situasi politik dalam negeri mereda.


“Pesannya jelas, buying time saja,” ujar Islah. Selama hampir sebulan itu, Yaqut disebut berkeliling Eropa tanpa kepastian waktu kepulangan, menunggu arahan lebih lanjut dari Istana.


Terjepit antara Istana dan DPR

Islah mengungkap dilema yang dihadapi Gus Yaqut kala itu. Jika ia datang ke Pansus, ia berhadapan langsung dengan Presiden. Namun jika ia mangkir, konsekuensinya adalah tekanan politik dari DPR dan publik.


Pada akhirnya, Yaqut memilih mengikuti arahan Presiden. Ketika izin pulang akhirnya diberikan, Pansus Haji DPR RI telah menuntaskan tugasnya. Isu kuota haji pun perlahan meredup, tanpa pernah mendapat penjelasan langsung dari Menteri Agama saat itu.


Tabir Lama yang Kembali Terbuka

Kini, seiring bergulirnya penyelidikan KPK dan status hukum Yaqut Cholil Qoumas, cerita lama tersebut kembali mencuat ke permukaan. Publik pun mulai mengajukan pertanyaan mendasar: siapa saja aktor yang sebenarnya bermain dalam pusaran skandal kuota haji 2024?


Islah menegaskan dirinya tidak bermaksud menuduh siapa pun. Namun ia menyampaikan satu kesimpulan penting: Gus Yaqut bukan satu-satunya figur dalam perkara ini.


“So we know who were playing in this game,” ujar Islah, menutup pengakuannya yang merupakan sebuah kalimat yang justru membuka babak baru dalam upaya mengurai tabir gelap tata kelola haji Indonesia.


***
Dikutip dari berbagai sumber.
Tim Redaksi.