Queensha.id - Edukasi Islam,
Kematian bukan akhir cerita, melainkan awal pertanggungjawaban. Dalam banyak nas Al-Qur’an, hadis, serta penjelasan para ulama, digambarkan bahwa manusia kerap baru menyadari kesalahannya ketika semuanya telah terlambat. Kubur bukan tempat memperbaiki amal, melainkan tempat menuai apa yang dahulu ditanam.
Berikut enam penyesalan terbesar setelah mati, yang oleh para ulama Indonesia disebut sebagai kelalaian paling mahal dalam hidup manusia.
Shalat adalah tiang agama, namun sering dikorbankan atas nama kesibukan.
Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan bukti hubungan hidup seorang hamba dengan Tuhannya.
Menunda shalat, menurut beliau, sama dengan menunda perjumpaan dengan Allah. Di akhirat, penundaan inilah yang paling pertama dipertanyakan.
Al-Qur’an sering ada di rak rumah, tetapi jauh dari hati.
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan “pembela” di alam kubur. Orang yang hidupnya jauh dari Al-Qur’an akan merasakan kesepian paling dalam setelah mati, karena ia kehilangan teman terbaiknya.
Ghibah, fitnah, dan ucapan menyakitkan kerap dianggap sepele.
Menurut Buya Yahya, dosa lisan adalah dosa yang paling sering merugikan orang lain. Di akhirat, ucapan yang dulu dianggap bercanda bisa berubah menjadi sebab berpindahnya pahala kepada orang yang pernah disakiti.
Ego membuat seseorang menunda meminta maaf, bahkan hingga ajal menjemput.
KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menegaskan bahwa urusan dengan manusia tidak selesai hanya dengan istighfar. Selama maaf belum diminta, urusan itu akan dibawa hingga hari kiamat, dan dibayar dengan pahala, bukan dengan kata-kata.
Takut harta berkurang, padahal justru itulah yang menyelamatkan.
Para ulama sepakat, sedekah adalah “investasi kubur”. Gus Baha sering menyampaikan bahwa sedekah yang kecil tetapi rutin lebih dicintai Allah daripada jumlah besar yang jarang. Di alam kubur, sedekah menjadi pelindung yang paling nyata.
Inilah penyesalan paling fatal.
Buya Hamka pernah menulis bahwa manusia paling tertipu oleh waktu. Ia merasa esok masih ada, padahal kematian tidak pernah berjanji. Orang yang menunda taubat karena merasa masih panjang umur, sejatinya sedang berjudi dengan ajal.
Kubur Adalah Tempat Panen
Para ulama Indonesia sepakat pada satu kesimpulan yaitu kubur bukan tempat beramal, melainkan tempat menuai hasil hidup.
Jadi, hari ini manusia masih memiliki kesempatan untuk:
5. Memperbaiki diri tanpa menunda.
6. Besok, belum tentu.
Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menyadarkan. Karena penyesalan setelah mati tidak lagi mengubah apa pun, kecuali menambah penantian yang panjang.
***