Queensha.id — Edukasi Islam,
Di balik limpahan rezeki, kesehatan, dan kemudahan hidup, tersimpan satu ancaman spiritual yang kerap luput disadari: istidraj. Dalam ajaran Islam, istidraj bukanlah nikmat dalam makna sejati, melainkan kelapangan yang justru menyeret manusia perlahan menuju kebinasaan karena menjauh dari Allah. Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan fenomena ini.
“Kami akan menarik mereka berangsur-angsur (istidraj) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A‘raf: 182).
Istidraj terjadi ketika seseorang terus diberi kenikmatan duniawi, sementara dosa dan kelalaian semakin menumpuk. Ia merasa hidupnya baik-baik saja, padahal hati kian jauh dari cahaya iman. Shalat terasa berat, nasihat dianggap angin lalu, dan maksiat tak lagi memunculkan rasa bersalah.
Nikmat yang Membius Kesadaran
Para ulama di Indonesia sepakat bahwa istidraj adalah ujian yang jauh lebih berbahaya dibanding kesulitan hidup. KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam berbagai pengajiannya kerap menegaskan bahwa kelapangan hidup tanpa rasa takut kepada Allah adalah tanda yang patut dicurigai.
“Kalau seseorang diberi nikmat tapi tidak bertambah syukur dan taatnya, justru makin berani melanggar, itu bukan nikmat, tapi bisa jadi istidraj,” ungkap Gus Baha dalam salah satu mauidhohnya.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa istidraj adalah bentuk keadilan Allah yang sangat halus. Allah tidak langsung menghukum, tetapi membiarkan manusia larut dalam kenikmatan hingga lupa hakikat hidupnya sebagai hamba.
“Yang berbahaya bukan ketika Allah mengambil nikmat, tetapi ketika Allah membiarkan manusia merasa aman dalam dosa,” ujar Quraish Shihab dalam tafsir tematiknya.
Merasa Aman Saat Seharusnya Takut
Ciri paling mengerikan dari istidraj adalah hilangnya rasa butuh kepada Allah. Seseorang bisa tertawa ketika seharusnya menangis, merasa aman ketika seharusnya takut, dan merasa cukup dengan dunia namun bangkrut di akhirat.
Bahkan, para ulama mengingatkan bahwa istidraj tidak selalu identik dengan kekayaan. Kemiskinan pun bisa menjadi istidraj apabila tidak mendorong seseorang untuk kembali kepada Allah. Hidup sengsara di dunia, namun shalat ditinggalkan. Akhirat tersiksa, karena pintu taubat tak pernah diketuk.
Buya Yahya pernah menegaskan, “Ukuran istidraj bukan banyak atau sedikitnya harta, tapi apakah nikmat itu membuat kita semakin dekat atau semakin jauh dari Allah,” tuturnya dikutip dari berbagai sumber.
Nikmat Sejati Ukurannya Taat
Dalam perspektif Islam, nikmat sejati bukanlah yang membuat hidup nyaman, melainkan yang membuat hati tunduk. Setiap rezeki seharusnya melahirkan rasa syukur, setiap kelapangan menambah ketaatan, dan setiap keberhasilan menumbuhkan kerendahan hati.
Para ulama mengajak umat Islam untuk selalu melakukan muhasabah. Ketika nikmat datang, pertanyaan yang harus diajukan bukan “berapa banyak yang aku miliki?”, tetapi “apakah nikmat ini mendekatkanku kepada Allah?”
Karena pada akhirnya, istidraj adalah peringatan sunyi. Ia tidak datang dengan bencana, tetapi dengan kelapangan. Tidak hadir dengan tangis, tetapi dengan tawa. Dan sering kali, manusia baru menyadarinya ketika semuanya telah terlambat.
Ya Allah, lindungilah kami dari istidraj. Jadikan setiap nikmat sebagai jalan taat, bukan jalan sesat.
***
Tim Redaksi.