Queensha.id - Edukasi Islam,
Selama ini, istidraj kerap dipahami sebagai jebakan kenikmatan bagi mereka yang hidup bergelimang harta. Kekayaan, jabatan, dan kemewahan dianggap sebagai tanda kelalaian yang dibiarkan Allah sebelum azab datang tiba-tiba.
Namun para ulama mengingatkan, ada bentuk istidraj yang jauh lebih sunyi—dan lebih mengerikan: ketika seseorang hidup dalam kekurangan, tetapi tetap meninggalkan sholat.
Ia tidak kaya. Ia tidak berkuasa. Namun ia hidup bertahun-tahun tanpa pernah tergerak untuk bersujud.
Istidraj yang Tidak Selalu Berwujud Kemewahan
Ulama kharismatik Indonesia, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), dalam berbagai pengajiannya menegaskan bahwa istidraj bukan hanya soal limpahan dunia.
“Kadang Allah tidak menghukum orang yang lalai itu bukan karena ridha, tapi karena Allah biarkan dia semakin jauh. Itu justru lebih menakutkan,” ujar Gus Baha.
Menurutnya, ketika seseorang terus diberi umur, kesehatan, bahkan rezeki seadanya, namun hatinya tak pernah kembali kepada sholat, itulah bentuk istidraj yang halus. Tidak terasa sebagai hukuman, tapi perlahan mematikan kesadaran iman.
Kemiskinan Bukan Dalih/Alasan Meninggalkan Sholat
Pandangan senada disampaikan Buya Yahya, pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon. Ia menegaskan bahwa kemiskinan tidak pernah menjadi uzur syar’i untuk meninggalkan sholat.
“Justru orang miskin yang menjaga sholatnya, itu luar biasa derajatnya. Tapi orang miskin yang meninggalkan sholat, itu tanda hatinya lebih miskin dari hartanya,” tegas Buya Yahya.
Buya Yahya menjelaskan, sholat adalah kewajiban mutlak yang tidak bergantung pada kondisi ekonomi, fisik, maupun situasi sosial. Bahkan dalam keadaan sakit, takut, atau bepergian, sholat tetap diwajibkan dengan keringanan tata cara—bukan ditinggalkan.
Istidraj: Ketika Dosa Tidak Langsung Dibalas
Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan konsep istidraj sebagai bentuk penangguhan, bukan pembiaran tanpa makna.
“Allah bisa saja tidak segera menghukum agar manusia memiliki kesempatan sadar. Tetapi jika kesempatan itu diabaikan, maka penangguhan itu berubah menjadi petaka,” jelas Quraish Shihab dalam tafsirnya.
Ayat Al-Qur’an yang sering dijadikan rujukan adalah QS. Al-An‘am ayat 44, di mana Allah membuka pintu-pintu kehidupan, bukan untuk memuliakan, melainkan untuk menguji apakah manusia akan kembali atau justru semakin lupa.
Bahaya Terbesar: Terbiasa Hidup Tanpa Sujud
Ulama dan dai nasional Ustaz Adi Hidayat (UAH) menyebut, bahaya terbesar meninggalkan sholat bukan sekadar dosa, melainkan hilangnya refleks ruhani.
“Orang yang lama meninggalkan sholat itu bukan tidak tahu kewajibannya, tapi hatinya sudah tidak sensitif. Ini yang berbahaya saat sakaratul maut,” ungkap UAH.
Menurutnya, banyak kasus husnul khatimah maupun su’ul khatimah berakar dari kebiasaan hidup sehari-hari. Lisan yang jarang berdzikir akan sulit mengucap kalimat tauhid di akhir hayat.
Renungan untuk Zaman Ini
Di tengah tekanan ekonomi, sulitnya hidup, dan tuntutan dunia, para ulama sepakat bahwa sholat justru harus menjadi pegangan utama, bukan ditunda hingga hidup terasa lapang.
Orang kaya yang lalai adalah ujian. Orang miskin yang sabar adalah kemuliaan. Namun orang miskin yang meninggalkan sholat maka itulah istidraj yang paling mengerikan.
Karena ia tidak memiliki alasan dunia, namun tetap menunda akhirat. Jika hari ini manusia masih diberi napas, masih mendengar adzan, masih diberi kesempatan hidup, maka para ulama mengingatkan, "Jangan sampai itu bukan tanda cinta, melainkan tanda penangguhan hukuman,"
***
Tim Redaksi.
(Renungan Keislaman, Januari 2026)