Notification

×

Iklan

Iklan

Serbuan Takjil Cair: 30 Minuman Ini Jadi Ladang Cuan Paling Cepat Saat Ramadan

Senin, 19 Januari 2026 | 08.30 WIB Last Updated 2026-01-19T01:31:42Z
Foto, minuman segar untuk takjil serba-serbi Ramadan.


Queensha.id - Edukasi Bisnis,


Setiap Ramadan tiba, satu fenomena selalu berulang di sudut-sudut kampung hingga jalan protokol kota: antrean pemburu takjil. Di antara aneka gorengan dan kudapan manis, minuman dingin justru menjadi komoditas paling cepat habis—bahkan sering ludes sebelum azan Magrib berkumandang.



Bukan tanpa alasan. Setelah menahan dahaga lebih dari 12 jam, masyarakat cenderung mencari minuman segar sebagai “penyelamat pertama” saat berbuka. Momentum inilah yang menjadikan jualan minuman Ramadan sebagai ladang cuan musiman dengan perputaran uang sangat cepat, bahkan bagi pemula dengan modal terbatas.


Minuman Takjil: Usaha Kecil, Perputaran Besar

Pengamat UMKM menyebut, minuman berbuka puasa memiliki empat keunggulan utama: dibutuhkan semua orang, harga terjangkau, proses produksi cepat, dan risiko minim. Tak heran jika tiap Ramadan, muncul ratusan lapak minuman rumahan yang hanya beroperasi satu bulan namun mampu menghasilkan keuntungan jutaan rupiah.


“Minuman itu repeat order-nya tinggi. Kalau rasanya pas dan harganya masuk, pembeli bisa datang tiap hari,” ujar Siti Aminah, pelaku usaha takjil rumahan di Jepara.


Tradisional Tak Tergeser, Kekinian Tetap Digemari

Menariknya, selera pasar Ramadan menunjukkan dua arus besar yang berjalan berdampingan. Minuman tradisional seperti es cendol, es dawet, es kolak pisang, dan es campur tetap menjadi primadona lintas generasi. Rasa nostalgia dan harga bersahabat membuatnya tak pernah kehilangan pasar.


Di sisi lain, minuman kekinian seperti thai tea, milk tea gula aren, es susu regal, matcha latte, hingga es kopi susu gula aren mendominasi kalangan muda. Tampilan menarik dan efek viral di media sosial menjadi senjata utama.


Tak kalah mencuri perhatian adalah minuman berbasis buah dan kesehatan: es buah, infused water, jus alpukat, es jeruk peras, hingga susu kurma—yang dinilai lebih ringan dan cocok dikonsumsi saat berbuka.


Modal Kecil, Untung Harian Ratusan Ribu

Dari penelusuran di lapangan, modal minuman takjil rata-rata hanya Rp3.000–Rp8.000 per cup, dengan harga jual Rp8.000 hingga Rp20.000. Artinya, margin keuntungan bisa mencapai Rp5.000 per cup.


Jika satu penjual mampu menjual 50–100 cup per hari, maka keuntungan harian berkisar Rp250.000 hingga Rp500.000. Dalam sebulan Ramadan, angka ini jelas bukan nominal kecil bagi usaha rumahan.


Strategi Agar Tidak Sekadar Ikut-ikutan

Namun, persaingan yang ketat menuntut strategi. Pelaku usaha disarankan fokus pada kualitas rasa, kebersihan, kemasan rapi, dan konsistensi jam jualan, terutama pada waktu krusial pukul 15.30–18.00.
Strategi pre-order, promosi bundling minuman dan camilan, serta pemasaran melalui grup WhatsApp dan media sosial terbukti efektif mendongkrak penjualan.


“Sekarang bukan cuma rasa, tapi tampilan dan pelayanan,” kata Aminah.


Ramadan dan Peluang Ganda

Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan, sebagian pelaku usaha bahkan mengombinasikan jualan takjil dengan sistem reseller produk kebutuhan Ramadan di mulai dari fashion Muslim hingga sembako untuk memperluas sumber penghasilan tanpa menambah risiko besar.


Fenomena ini menunjukkan satu hal: Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan perputaran ekonomi rakyat kecil. Dari dapur rumah hingga pinggir jalan, segelas minuman dingin mampu menjadi jalan rezeki yang halal dan berkelanjutan.


Pada akhirnya, Ramadan selalu menghadirkan pilihan: sekadar menjadi penonton atau ikut bergerak membaca peluang. Dan bagi banyak orang, jawabannya kini mengalir… dalam gelas-gelas takjil yang laris manis menjelang senja.


***
Tim Redaksi.