Notification

×

Iklan

Iklan

Isu Internet dan Listrik Padam Sepekan Menggema, Ulama Ingatkan: Logistik Penting, Tapi Iman Jauh Lebih Menentukan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11.14 WIB Last Updated 2026-01-17T04:15:58Z
Foto, kebutuhan internet dan akhirat.



Queensha.id - Edukasi Sosial,


Isu tentang kemungkinan lenyapnya internet dan listrik selama hampir sepekan belakangan ini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Kabar tersebut sontak memantik kegelisahan publik. Sebagian warganet mulai membicarakan langkah antisipasi, mulai dari menyiapkan senter, genset, power bank, hingga stok sembako untuk bertahan hidup.


Namun di tengah hiruk pikuk persiapan fisik itu, para ulama mengingatkan adanya satu bekal yang kerap luput dipersiapkan, padahal justru paling menentukan: iman dan tauhid.


Dalam perspektif keislaman, kegelisahan kolektif ini tidak semata dipandang sebagai isu teknologi, tetapi juga sebagai ujian mental dan spiritual umat. 


Rasulullah SAW telah mengingatkan akan datangnya masa ketika manusia menghadapi situasi sulit, bahkan kondisi yang menyerupai kehidupan lampau tanpa kemudahan dan ketergantungan pada teknologi.


Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, ketergantungan manusia modern terhadap teknologi telah melampaui batas kewajaran. Dalam berbagai kajiannya, ia menegaskan bahwa kemajuan seharusnya menjadi alat, bukan sandaran hidup.


“Ketika sarana diambil, yang tersisa adalah siapa diri kita sebenarnya. Di situlah iman diuji,” jelasnya.


Pandangan senada disampaikan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Ia menilai bahwa ketakutan berlebihan terhadap krisis adalah tanda rapuhnya tauhid. “Orang yang tauhidnya kuat yakin bahwa rezeki, aman, dan hidupnya bukan di tangan listrik atau sinyal, tapi di tangan Allah,” ujarnya dalam salah satu pengajian.


Menurut Gus Baha, teknologi boleh hilang, tetapi dzikir, shalat, dan rasa syukur tidak boleh ikut padam. Justru dalam kondisi gelap dan sunyi, keikhlasan seorang hamba diuji: apakah masih mampu bersujud tanpa sorotan layar, dan berdzikir tanpa distraksi notifikasi.


Sementara itu, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan bahwa kehidupan tanpa teknologi bukanlah ancaman, melainkan cermin sejarah. Rasulullah SAW dan para sahabat hidup tanpa listrik dan internet, namun mampu menerangi dunia dengan akhlak, ilmu, dan keteguhan iman.


“Yang membuat peradaban besar bukan alatnya, tapi manusianya,” tutur Gus Mus.
Para ulama sepakat, persiapan menghadapi kemungkinan krisis tetap perlu dilakukan secara rasional.


Menyimpan logistik adalah ikhtiar, namun menggantungkan rasa aman sepenuhnya pada benda justru berbahaya. Senter bisa menerangi ruangan, tetapi tidak mampu menenangkan jiwa. Genset bisa mengalirkan listrik, namun tidak bisa menghidupkan harapan. Power bank bisa mengisi gawai, tetapi tidak mampu mengantarkan doa.


Dalam situasi apa pun, yang paling menentukan daya tahan manusia adalah keyakinannya kepada Allah SWT. Iman dan tauhid menjadi cahaya yang tidak pernah padam, bahkan ketika dunia benar-benar gelap.


Isu ini, menurut para ulama, seharusnya menjadi momentum refleksi. Bukan hanya menambah stok makanan, tetapi juga menambah stok keyakinan. Bukan hanya menyusun strategi bertahan, tetapi strategi bertumbuh dalam gelap, dalam sunyi, dan dalam ujian.


***