Notification

×

Iklan

Iklan

Mengapa Nabi ‘Isa Ditakdirkan Membunuh Dajjal? Ulama Indonesia Ungkap Hikmah Besar di Balik Peristiwa Akhir Zaman

Minggu, 18 Januari 2026 | 13.50 WIB Last Updated 2026-01-18T06:53:28Z
Foto, ilustrasi. Al - Masih ad Dajjal yang tangannya diikat rantai berada di suatu pulau di dunia.


Queensha.id - Edukasi Islam,


Fitnah terbesar dalam sejarah umat manusia di mulai sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yakni akan bermuara pada satu sosok yaitu Al-Masih ad-Dajjal. Ia bukan sekadar pendusta, melainkan simbol kebohongan global yang mengguncang akidah, akal sehat, dan iman manusia. Namun Islam menegaskan, akhir dari fitnah ini bukan di tangan manusia biasa, bukan pula malaikat, melainkan oleh Nabi ‘Isa ‘Alaihissalām.


Mengapa harus Nabi ‘Isa?

Para ulama terkemuka di Indonesia sepakat, penugasan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari skenario ilahi yang sarat hikmah teologis dan historis.


Al-Masih Palsu Dilumpuhkan oleh Al-Masih Sejati

Buya Yahya dalam berbagai kajiannya menegaskan, inti fitnah Dajjal adalah klaim palsu sebagai Al-Masih dan bahkan sebagai Tuhan. Maka, kehancurannya harus datang dari sosok yang paling tepat secara akidah: Al-Masih yang sejati, Nabi ‘Isa ‘Alaihissalām.


“Jika Dajjal mengaku Al-Masih, maka yang membatalkan klaim itu harus Al-Masih yang asli. Inilah keadilan Allah dalam meluruskan kebohongan,” ujar Buya Yahya.


Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa ‘Isa hanyalah seorang Rasul, bukan Tuhan, bukan pula anak Tuhan. Maka, kematian Dajjal di tangan ‘Isa menjadi bantahan paling telak atas kebohongan terbesar sepanjang sejarah manusia.


Klarifikasi Akidah Global tentang Nabi ‘Isa

Quraish Shihab menjelaskan bahwa figur Nabi ‘Isa adalah salah satu yang paling banyak disalahpahami dalam sejarah agama. Ada yang men-tuhankannya, ada yang menganggapnya anak Tuhan, dan ada pula yang menolak keras kenabiannya.


“Turunnya Nabi ‘Isa di akhir zaman adalah koreksi akidah besar-besaran. Dunia akan melihat langsung bahwa beliau adalah hamba Allah, tunduk pada syariat Nabi Muhammad SAW,” jelas Quraish Shihab dalam kajian eskatologi Islam.


Saat Nabi ‘Isa membunuh Dajjal, seluruh narasi palsu runtuh secara serentak: klaim ketuhanan, mitos kekuatan absolut, dan manipulasi iman.


Dajjal Luluh Tanpa Perlawanan

Dalam hadits sahih disebutkan, Dajjal akan meleleh seperti garam saat melihat Nabi ‘Isa. KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menafsirkan hadits ini bukan semata-mata peristiwa fisik, tetapi simbol runtuhnya kebohongan di hadapan kebenaran murni.


“Dajjal itu kuat karena kebohongan. Begitu kebenaran datang, kebohongan tak perlu diperangi panjang-panjang, ia hancur sendiri,” ujar Gus Baha.


Rasulullah SAW Penutup Nabi, Bukan Pelaku Fisik Akhir Zaman

Ulama sepakat bahwa Rasulullah ﷺ adalah penutup para nabi, bukan aktor peristiwa fisik akhir zaman. 

Sementara Nabi ‘Isa tidak wafat, diangkat ke langit, dan akan diturunkan kembali bukan membawa syariat baru, melainkan menegakkan syariat Nabi Muhammad SAW.


Nabi ‘Isa akan shalat di belakang Imam Mahdi merupakan sebuah simbol bahwa risalah Islam telah sempurna dan tak ada nabi setelah Muhammad SAW.


Dajjal dan ‘Isa: Antitesis Abadi
Menurut KH Said Aqil Siradj, Dajjal dan Nabi ‘Isa adalah dua kutub yang berlawanan secara mutlak. Dajjal adalah puncak kebohongan, Nabi ‘Isa adalah puncak kebenaran yang lama difitnah.
“Maka wajar jika Allah menutup drama besar sejarah manusia dengan mempertemukan keduanya. Yang palsu dihancurkan oleh yang asli,” tegasnya.


Hikmah Ilahi yang Tak Pernah Acak

Para ulama Indonesia sepakat yaitu Allah tidak pernah memilih peran secara sembarangan. Penugasan Nabi ‘Isa membunuh Dajjal adalah deklarasi tauhid paling agung di akhir zaman—bahwa kebenaran, betapapun lama ditindas, akan menang secara mutlak.


“Yang hak telah datang dan yang batil telah lenyap.”


Semoga Allah melindungi kita dari fitnah Dajjal, menguatkan iman hingga akhir hayat, dan mematikan kita dalam keadaan husnul khatimah.
اللهم إنا نعوذ بك من فتنة المسيح الدجال
Aamiin.

***
Tim Redaksi.