Notification

×

Iklan

Iklan

Misteri Dajjal: Benarkah Ia Masih Diikat di Suatu Gua? Pandangan Ulama Terkemuka di Indonesia

Minggu, 18 Januari 2026 | 14.31 WIB Last Updated 2026-01-18T07:55:30Z
Foto, ilustrasi. Gambaran Dajjal.



Queensha.id  — Edukasi Islam,


Sejak lama, di tengah umat Islam beredar kisah yang menarik sekaligus memicu penasaran yaitu makhluk ciptaan Allah SWT yang dikenal sebagai Al-Masih ad-Dajjal merupakan pelaku pem-fitnah terbesar akhir zaman yang kini masih terikat di suatu tempat tersembunyi di dunia, bahkan menggigit rantai pengikatnya setiap hari sampai terdengar adzan, lalu rantai itu kembali utuh.


Pertanyaan besarnya: Apakah benar Dajjal masih terikat di sebuah gua atau pulau, dan apa pandangan ulama besar di Indonesia tentang hal ini?


Asal Mitos Dajjal yang “Terikat”

Salah satu sumber kisah terkenal tentang Dajjal yang terikat merujuk pada riwayat yang dikenal sebagai hadits al-Jassaasah yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim.


Dalam cerita ini, Tamim ad-Dari bersama rombongan pernah menemukan seorang laki-laki yang digambarkan sebagai Al-Masih ad-Dajjal terikat, saat mereka terdampar di pulau jauh di tengah laut.


Dalam kisah itu, Dajjal bertanya tentang keadaan dunia luar, menunjukkan bahwa ia “terkunci” sampai suatu ketika ia akan dibebaskan pada akhir zaman.


Namun keterangan lengkap tentang cerita itu sangat terbatas dan tidak menguraikan detail seperti “menggigit rantai sampai adzan tiba”. Itu lebih merupakan tambahan cerita tradisional dan folklore Islam populer, bukan bagian jelas dari riwayat sahih yang terdokumentasi dalam sumber hadits utama.


Apa Kata Hadits Autentik?

Dalam literatur hadits sahih, yang dapat dipastikan secara keotentikan adalah bahwa:

Dajjal akan muncul sebagai fitnah besar di akhir zaman, bukan sebagai sosok yang sudah lepas bebas sejak dulu.


Kisah Tamim ad-Dari menunjukkan pertemuan dengan seorang “Dajjal” yang terikat, namun tidak dijelaskan kapan persisnya ia akan dibebaskan atau apakah itu benar yaitu Dajjal akhir zaman.


Perlu dicatat juga bahwa Al-Qur’an sendiri tidak menyebut sosok Dajjal secara eksplisit sama sekali; semua informasi tentangnya berasal dari hadits-hadits Nabi Muhammad SAW.


Pendapat Ulama Terkemuka di Indonesia

Sejumlah ulama besar di Indonesia biasanya memandang narasi tentang Dajjal dengan sikap hati-hati:


1. Hadis tentang Dajjal Bersifat Ghaib dan Simbolik

Beberapa cendekiawan Islam, termasuk guru-guru tafsir dan aqidah, menjelaskan bahwa narasi Dajjal sering mengandung unsur ghaib (yang tidak langsung tampak realitasnya), sehingga umat tidak disarankan mengada-ada dengan detail fiksi yang tidak ada di sumber sahih.


Narasi tentang rantai yang putus karena adzan adalah bagian dari folklore dan bukan sesuatu yang bisa dipastikan dari riwayat sahih. 


2. Kisah Tarik Ulur Antara Literal dan Simbolik

Beberapa pemikir Islam kontemporer bahkan mengajukan pandangan bahwa Dajjal bisa dipahami lebih luas, yaitu sebagai simbol kebohongan besar, fitnah moral, dan deviasi spiritual yang menghampiri umat manusia di setiap era akhir zaman, bukan hanya sosok kuno terikat di gua. 


Ini selaras dengan kajian modern tentang eskatologi Islam yang mempertimbangkan makna filosofis dan moral dari hadits-hadits tersebut.


3. Skeptisisme Terhadap Detail yang Tidak Sahih

Ulama yang lebih berhati-hati sering menegaskan bahwa semua detail tentang lokasi, waktu keterikatan, atau kegiatan Dajjal sebelum kemunculannya tidak dijelaskan secara autentik oleh Nabi Muhammad SAW. 


Dengan kata lain, umat Islam diajarkan untuk percaya bahwa Dajjal akan datang sebagai fitnah besar, tetapi detail naratif seperti “rantai yang kembali utuh karena adzan” tidak masuk dalam hadits sahih.


Kesimpulan Pakar

Berdasarkan riwayat yang sahih dan pandangan ulama Indonesia:


Dajjal adalah sosok yang akan muncul di akhir zaman sebagai ujian terbesar bagi umat manusia.


Tidak ada bukti kuat dalam hadits sahih yang menyatakan Dajjal telah diikat sejak dulu di suatu gua yang tersembunyi sepanjang masa sampai adzan membebaskannya.


Kisah tentang rantai yang putus pada waktu tertentu adalah tradisi populer atau cerita tambahan, bukan bagian dari sunnah yang mutawatir atau sahih.


Semoga pemahaman ini membantu umat Islam membedakan antara ajaran eskatologi yang sahih dan mitos populer tanpa dasar kuat, sehingga iman tetap kokoh dan tidak terombang-ambing oleh cerita-cerita yang tidak terverifikasi.


***
Referensi hadits dan pandangan ulama telah dijelaskan berdasarkan sumber terpercaya.


Tim Redaksi.