Queensha.id - Jepara,
Jagat media sosial warga Bumi Kartini kembali dibuat mendidih. Sejumlah akun TikTok belakangan ini secara terang-terangan menawarkan “jasa” yang sarat muatan vulgar dengan mencatut nama Jepara dan wilayah sekitarnya. Fenomena ini memicu keresahan publik karena dinilai mencoreng nama baik daerah yang selama ini dikenal sebagai kota santri dan kota pejuang perempuan.
Akun-akun tersebut memiliki pola yang nyaris seragam. Pada bagian profil dan bio, mereka menampilkan foto serta narasi yang jauh dari etika, bahkan secara gamblang menawarkan jasa pendamping atau layanan “24 jam”.
Lebih mengkhawatirkan, pengelola akun secara terbuka mengaku sebagai laki-laki yang siap “meredikan” layanan, mulai dari jalan-jalan hingga aktivitas yang jelas melanggar norma sosial dan moral.
Yang membuat warga semakin geram, akun-akun ini sengaja membidik kata kunci “Jepara” agar masuk ke beranda atau For You Page (FYP) anak-anak muda lokal.
Dengan cara tersebut, konten vulgar itu mudah dikonsumsi oleh remaja dan generasi muda di wilayah Jepara.
“Ini bukan sekadar soal konten tidak senonoh, tapi soal keberanian mencatut nama Jepara seolah-olah daerah kita adalah pasar bebas untuk maksiat,” ujar salah seorang warga yang mengaku resah dengan maraknya akun tersebut.
Kekhawatiran warga kian bertambah karena unggahan akun-akun tersebut justru ramai mendapat tanggapan.
Jika dibiarkan, praktik semacam ini dikhawatirkan akan dianggap lumrah dan perlahan mengikis batas moral generasi muda.
Jepara selama ini dikenal sebagai daerah dengan nilai religius yang kuat serta sejarah panjang perjuangan perempuan.
Karena itu, banyak warga menilai pencatutan nama daerah untuk promosi jasa tak pantas sebagai bentuk pelecehan terhadap identitas dan martabat Jepara.
Warga pun mendesak pihak berwajib dan dinas terkait, khususnya unit siber (cyber crime), untuk segera turun tangan.
Pemantauan dan penindakan tegas dinilai mendesak dilakukan sebelum konten-konten tersebut semakin meluas dan menimbulkan dampak sosial yang lebih serius.
“Jangan sampai ruang digital kita dikuasai oleh oknum pemburu rupiah yang merusak moral. Negara dan aparat harus hadir,” tegas warga lainnya.
Maraknya akun TikTok vulgar yang mencatut nama Jepara menjadi alarm keras bahwa pengawasan ruang digital tak bisa lagi setengah hati. Di tengah derasnya arus media sosial, menjaga nama baik daerah dan masa depan generasi muda bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban bersama.
***
Kontributor dan sumber: Jeparahitz