| Foto, Jagarasa memanfaatkan AI generatif bukan hanya untuk kebutuhan operasional, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pemasaran dan brand experience. |
Queensha.id - Teknologi,
Di tengah banjir konten digital yang seragam dan mudah dilupakan, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai bergeser dari sekadar alat bantu teknis menjadi senjata utama dalam membangun cerita dan pengalaman brand. AI kini tak lagi hanya digunakan untuk membalas pesan otomatis atau menyusun caption, tetapi telah merambah ke wilayah kreatif seperti musik, video, hingga storytelling pemasaran.
Bagi brand yang menyasar Generasi Z, pendekatan ini semakin relevan. Gen Z dikenal kritis, cepat bosan, dan memiliki standar tinggi terhadap kualitas visual maupun audio. Mereka dengan mudah melewati konten promosi yang terasa generik, repetitif, atau sekadar berorientasi jualan.
Di titik inilah AI generatif memainkan peran penting hingga membantu brand menghadirkan konten yang segar, personal, dan kontekstual tanpa terjebak pola lama. Salah satu tantangan klasik di era media sosial adalah persoalan hak cipta musik.
Tak jarang, konten yang telah diproduksi dengan niat kreatif justru kehilangan jangkauan karena terkena mute atau klaim copyright. Platform AI generatif musik seperti Suno.ai hadir sebagai solusi, memungkinkan brand menciptakan musik orisinal yang aman secara lisensi sekaligus selaras dengan identitas mereka.
Pendekatan berbasis AI juga membuka ruang eksperimen baru dalam format konten. Tren video POV, misalnya, menjadi contoh bagaimana storytelling sederhana namun relatable dapat diperkuat dengan visual, audio, dan narasi yang tepat. Ketika dikemas dengan bahasa yang dekat dengan keseharian audiens muda, konten semacam ini terbukti lebih mudah viral secara organik.
Namun, pemanfaatan AI yang tepat bukan soal menggantikan kreativitas manusia, melainkan memperluasnya. AI membantu mempercepat proses produksi, menekan biaya, sekaligus memberi ruang bagi brand untuk bereksperimen lebih berani—bahkan lintas medium, dari media sosial hingga platform streaming musik.
Pendekatan inilah yang belakangan dilakukan Jagarasa, sebuah brand katering yang mencoba mendobrak pakem industri pernikahan yang selama ini terkesan kaku dan formal. Menyasar pasar Gen Z, Jagarasa memanfaatkan AI generatif bukan hanya untuk kebutuhan operasional, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pemasaran dan brand experience.
Dengan bantuan AI, Jagarasa memproduksi konten video berbasis storytelling yang relevan dengan budaya anak muda, lengkap dengan musik orisinal hasil AI generatif untuk menghindari isu hak cipta. Strategi ini terbukti efektif. Salah satu konten video bertema POV yang mereka rilis mampu meraih puluhan ribu penayangan secara organik di Instagram.
Tak berhenti di media sosial, Jagarasa bahkan bersiap membawa eksperimen AI ini ke level berikutnya dengan merilis album musik berbasis AI di Spotify.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan brand di luar momen pernikahan, sekaligus menegaskan bahwa bisnis katering pun bisa hadir sebagai bagian dari gaya hidup digital.
Melalui pendekatan ini, Jagarasa menunjukkan bahwa pemanfaatan AI yang tepat bukan hanya milik perusahaan teknologi besar. Dengan strategi yang relevan dan keberanian bereksperimen, AI justru dapat menjadi alat bagi brand lokal untuk tampil lebih segar, kontekstual, dan kompetitif di tengah perubahan perilaku konsumen yang kian cepat.
***
Sumber: Detik - Tim Redaksi.